Waspadai Batuk Rejan, Infeksi Pernapasan Menular yang Berbahaya bagi Anak
- 17 Jun 2026 00:02 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan : Batuk rejan atau pertusis merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang sangat menular. Penyakit ini ditandai dengan batuk berkepanjangan yang disertai suara tarikan napas khas bernada tinggi setelah serangan batuk. Batuk rejan menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada bayi dan anak usia di bawah dua tahun.
Penyakit ini umumnya disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis dan dalam beberapa kasus dapat dipicu oleh Bordetella parapertussis. Penularannya terjadi melalui percikan droplet yang keluar saat penderita batuk atau bersin, kemudian terhirup oleh orang lain di sekitarnya. Karena sifatnya yang sangat menular, penyebaran penyakit ini dapat berlangsung dengan cepat di lingkungan yang padat.
Gejala batuk rejan biasanya berkembang dalam beberapa tahap. Pada fase awal atau katarral, penderita mengalami gejala yang menyerupai flu biasa seperti pilek, hidung tersumbat, bersin, mata merah, dan demam ringan. Kondisi ini sering membuat batuk rejan sulit dikenali sejak dini.
Memasuki fase paroksismal, batuk menjadi semakin berat dan terjadi berulang kali, terutama pada malam hari. Penderita dapat mengalami kesulitan bernapas, wajah memerah, muntah setelah batuk, hingga muncul suara khas saat menarik napas. Pada beberapa kasus, kulit juga dapat tampak kebiruan akibat berkurangnya pasokan oksigen.
Jika tidak segera ditangani, batuk rejan berisiko menimbulkan berbagai komplikasi seperti dehidrasi, pneumonia, kejang, gangguan ginjal, penurunan berat badan, hingga hipoksia atau kekurangan oksigen pada otak. Risiko komplikasi tersebut paling tinggi terjadi pada bayi dan anak-anak yang sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.
Diagnosis batuk rejan dilakukan melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik oleh dokter. Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat melakukan pemeriksaan darah, rontgen paru-paru, hingga tes usap tenggorokan atau pemeriksaan PCR. Sementara itu, pengobatan biasanya melibatkan pemberian antibiotik untuk membantu mengatasi infeksi bakteri serta mencegah penularan lebih lanjut.
Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa pencegahan batuk rejan dapat dilakukan melalui imunisasi DPT yang diberikan sejak bayi dan dilanjutkan dengan imunisasi penguat sesuai jadwal. Selain itu, masyarakat dianjurkan menerapkan etika batuk, menutup mulut dan hidung saat bersin, membuang tisu bekas pakai dengan benar, serta rutin mencuci tangan untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit.(Sumber.Kemenkes)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....