Dewi Sartika, Pelopor Pendidikan Perempuan yang Mengubah Sejarah Indonesia
- 12 Agt 2026 08:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pada awal abad ke-20, kesempatan perempuan pribumi untuk mendapatkan pendidikan masih sangat terbatas. Di tengah kondisi tersebut, muncul seorang perempuan yang berani mendobrak pandangan pada zamannya.
- Perempuan itu adalah Raden Dewi Sartika, tokoh yang kemudian dikenang sebagai salah satu pelopor pendidikan perempuan di Indonesia. Melalui sekolah yang didirikannya, ia tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis.
- Tetapi juga, Dewi Sartika berusaha membekali para perempuan dengan keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dewi Sartika lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 4 Desember 1884.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pada awal abad ke-20, kesempatan perempuan pribumi untuk mendapatkan pendidikan masih sangat terbatas. Di tengah kondisi tersebut, muncul seorang perempuan yang berani mendobrak pandangan pada zamannya.
Perempuan itu adalah Raden Dewi Sartika, tokoh yang kemudian dikenang sebagai salah satu pelopor pendidikan perempuan di Indonesia. Melalui sekolah yang didirikannya, ia tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis.
Tetapi juga, Dewi Sartika berusaha membekali para perempuan dengan keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dewi Sartika lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 4 Desember 1884.
Ia berasal dari keluarga bangsawan Sunda, putri Raden Rangga Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas. Dewi Sartika hidup dengan lingkungan keluarga yang relatif terbuka terhadap pendidikan.
Ayahnya merupakan seorang patih di Bandung yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan anak-anaknya, termasuk anak perempuan. Berkat latar belakang tersebut, Dewi Sartika memperoleh kesempatan bersekolah di Eerste Klasse School, pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Di sekolah tersebut, Dewi Sartika mempelajari berbagai pengetahuan dasar, termasuk membaca, menulis, berhitung, serta bahasa asing. Namun, pendidikan formalnya harus terhenti, ketika keluarganya mengalami perubahan besar setelah ayahnya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Ternate.
Ketika Dewi Sartika masih berusia sekitar sembilan tahun, ayahnya ditangkap dan kemudian dibuang ke Ternate. Sang ibu menyusul ke tempat pengasingan, sementara Dewi Sartika dan saudara-saudaranya harus menjalani kehidupan terpisah bersama keluarga kerabat.
Peristiwa tersebut, menjadi salah satu pengalaman penting yang membentuk kepribadiannya. Dewi Sartika merasakan sendiri, keadaan politik dapat mengubah kehidupan sebuah keluarga dan membuatnya semakin peka terhadap kondisi perempuan di sekitarnya.
Ketika tinggal bersama keluarga pamannya di Cicalengka, Dewi Sartika banyak berinteraksi dengan anak-anak perempuan dari lingkungan bangsawan. Dari pergaulan tersebut, ia menemukan, sebuah persoalan yang kemudian menjadi perhatian sepanjang hidupnya.
Karena, banyak perempuan belum memperoleh kesempatan untuk membaca, menulis, dan mendapatkan pengetahuan dasar. Dewi Sartika kemudian mulai mengajarkan berbagai keterampilan kepada anak-anak perempuan di sekitarnya.
Ia mengajari mereka membaca, menulis, berhitung, menjahit, merenda, serta keterampilan rumah tangga. Mengingat, hal-hal tersebut dianggap penting bagi kehidupan perempuan pada masa itu.
Namun, gagasannya tidak berhenti pada kegiatan mengajar di lingkungan keluarga. Dewi Sartika mulai memiliki cita-cita yang jauh lebih besar.
Cita-cita besar itu, yakni mendirikan sebuah sekolah yang dapat menjadi tempat perempuan pribumi memperoleh pendidikan secara lebih teratur. Pada 1902, setelah keluarganya kembali berkumpul di Bandung, keinginan tersebut semakin kuat.
Dewi Sartika kemudian mulai menjalankan kegiatan pengajaran di lingkungan rumah dengan fasilitas yang sangat sederhana. Gagasannya mendapat perhatian dari Inspektur Pengajaran Hindia Belanda di Bandung, C. Den Hammer.
Ia kemudian, menyarankan agar Dewi Sartika menyampaikan keinginannya kepada Bupati Bandung, R.A.A. Martanagara. Pertemuan dengan bupati tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan Dewi Sartika.
Meskipun terdapat latar belakang hubungan politik antara keluarga Dewi Sartika dan lingkungan pemerintahan Bandung, R.A.A. Martanagara akhirnya memberikan dukungan terhadap rencana pendirian sekolah perempuan tersebut.
Pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika akhirnya mendirikan Sakola Istri di Bandung. Sekolah itu, pada awalnya menempati sebuah ruangan di kompleks pendopo Kabupaten Bandung dan hanya memiliki jumlah murid yang relatif sedikit.
Namun, jumlah murid kemudian terus bertambah. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan perempuan terhadap pendidikan ternyata jauh lebih besar daripada yang selama ini dibayangkan.
Pada 1905, Sakola Istri dipindahkan ke tempat yang lebih luas di Jalan Ciguriang. Walaupun bangunannya masih sederhana, aktivitas pendidikan di sekolah tersebut berkembang dan semakin banyak perempuan memperoleh kesempatan untuk belajar.
Pelajaran yang diberikan tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menulis. Dewi Sartika juga mengajarkan keterampilan praktis seperti menjahit, memasak, membatik, serta berbagai pengetahuan agar perempuan dapat lebih mandiri.
Dewi Sartika bahkan berusaha mendatangkan tenaga pengajar yang memiliki keahlian khusus. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, ia tidak ragu mencari guru dari berbagai latar belakang.
Bahkan, Dewi Sartika mendatangkan pengajar bahasa Belanda dan tenaga medis untuk memberikan pengetahuan mengenai pertolongan pertama. Sekolah yang didirikannya kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan pendidikan perempuan di Jawa Barat.
Pada 1910, Perkumpulan Kautamaan Istri didirikan untuk mendukung pengembangan sekolah tersebut, yang kemudian dikenal dengan nama Sakola Kautamaan Istri. Perkembangan sekolah tidak hanya terjadi di Bandung.
Cabang-cabangnya kemudian muncul di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Sumedang, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Garut, dan Purwakarta. Semakin luasnya jaringan sekolah tersebut menunjukkan bahwa gagasan Dewi Sartika berhasil melampaui batas lingkungan bangsawan tempat ia dilahirkan.
Pendidikan yang diperjuangkannya dapat diakses oleh perempuan dari kalangan masyarakat yang lebih luas. Dalam menjalankan perjuangannya, Dewi Sartika juga memperoleh dukungan dari suaminya, Raden Kanduruan Agah Suriawinata.
Sang suami merupakan seorang guru yang ikut memberikan dukungan dan pemikiran dalam pengembangan pendidikan yang dirintis Dewi Sartika. Dewi Sartika sendiri terus berusaha meningkatkan kemampuannya sebagai pendidik.
Pada 1916, ia bahkan mempelajari keterampilan membatik di Kendal, Jawa Tengah, kepada R.A. Kardinah, saudara R.A. Kartini. Perjuangan panjang tersebut akhirnya mendapat pengakuan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Pada 1922, Dewi Sartika memperoleh penghargaan Bintang Perak atas jasanya dalam bidang pendidikan. Sebelum kemudian, mendapatkan penghargaan Bintang Emas pada 1939.
Pada 1929, sekolah yang dirintis Dewi Sartika berganti nama menjadi Sakola Raden Dewi. Perubahan tersebut, menjadi salah satu penanda panjangnya perjalanan lembaga pendidikan.
Namun, perjalanan Dewi Sartika tidak selalu berjalan mudah. Setelah pendudukan Jepang dimulai pada 1942, sistem pendidikan mengalami perubahan besar.
Sekolah-sekolah yang ada di sana, harus menyesuaikan diri dengan kebijakan pemerintahan militer Jepang. Di tengah perubahan tersebut, kondisi kesehatan Dewi Sartika juga semakin menurun.
Situasi semakin berat ketika Bandung Lautan Api pada Maret 1946 menyebabkan banyak warga Bandung harus meninggalkan kota. Termasuk, Dewi Sartika dan keluarganya.
Mereka kemudian berpindah dari satu tempat ke tempat lain hingga akhirnya mencapai wilayah Cineam. Perjalanan dalam situasi perang tersebut berlangsung dalam kondisi sulit dan turut memperburuk kesehatan Dewi Sartika.
Dewi Sartika kemudian dirawat di sebuah rumah sakit di Cineam. Pada 11 September 1947, ia mengembuskan napas terakhir dalam usia 62 tahun. Ia kemudian dimakamkan di Cineam sebelum makamnya dipindahkan ke Bandung pada 1950.
Pemindahan tersebut dilakukan sesuai dengan keinginannya untuk dimakamkan di dekat makam suaminya. Meski hidupnya berakhir dalam suasana perang dan pergolakan, gagasan Dewi Sartika tidak ikut terkubur.
Sekolah yang ia dirikan menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan pendidikan perempuan di Indonesia. Dewi Sartika membuktikan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kekuasaan atau senjata.
Dalam kasusnya, perjuangan dilakukan melalui ruang kelas, buku, keterampilan, dan keberanian untuk membuka kesempatan belajar bagi perempuan. Atas jasa dan perjuangannya dalam bidang pendidikan, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Dewi Sartika sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 252 Tahun 1966 yang ditetapkan pada 1 Desember 1966.
Warisan terbesar Dewi Sartika bukan sekadar sebuah sekolah yang pernah berdiri di Bandung. Warisan itu adalah gagasan bahwa perempuan berhak mendapatkan pendidikan dan bahwa pengetahuan dapat menjadi jalan bagi perempuan untuk membangun kemandirian serta menentukan masa depannya sendiri.
Sumber:
• Tanaga, Sylvie. (2019).
• Ensiklopedia Tokoh Nasional: Dewi Sartika.
• Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....