Kartini dan Gagasan Pendidikan Perempuan sebelum Indonesia Merdeka

  • 11 Agt 2026 23:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • R.A. Kartini memperjuangkan pendidikan perempuan pada masa penjajahan dan menjadi bagian integral dari sejarah emansipasi perempuan Indonesia.
  • Kartini lahir pada 21 April 1879 dari keluarga bangsawan Jawa di Jepara, Jawa Tengah, yang memberikannya akses pendidikan yang langka bagi perempuan pada era tersebut.
  • Latar belakang keluarga Kartini yang terpandang memungkinkannya untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang terbatas bagi perempuan di masa penjajahan.

RRI.CO.ID, Jakarta – R.A. Kartini memperjuangkan pendidikan perempuan pada masa penjajahan sebelum Indonesia merdeka. Gagasannya menjadi bagian dari sejarah perjuangan emansipasi dan pendidikan perempuan di Indonesia.

Kartini lahir dari keluarga bangsawan Jawa di Jepara, Jawa Tengah, pada 21 April 1879. Latar belakang keluarganya membuat Kartini memperoleh kesempatan pendidikan yang saat itu terbatas bagi perempuan.

Pemikiran Kartini kemudian berkembang melalui surat-surat yang ditulis kepada sejumlah sahabatnya di Eropa. Surat tersebut memuat gagasan tentang pendidikan, kehidupan perempuan, dan keterbatasan yang dihadapi perempuan pribumi.

Kartini tidak hanya menyampaikan gagasannya melalui tulisan, tetapi juga berupaya mengembangkannya melalui pendidikan. Ia mendirikan sekolah untuk perempuan sebagai upaya memberikan kesempatan belajar dan mengembangkan keterampilan.

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat surat-surat Kartini menjadi sumber penting mengenai gagasan pendidikan dan emansipasi perempuan. Arsip tersebut juga mencatat perkembangan pendirian sekolah bagi perempuan pribumi pada masa Hindia Belanda.

Gagasan Kartini kemudian dikenal lebih luas melalui kumpulan surat yang diterbitkan dalam buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang'. Pemikirannya turut memperkuat gagasan bahwa perempuan berhak memperoleh pendidikan dan mengembangkan kemampuan.

Kartini wafat pada 1904, jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945. Karena itu, perannya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari perjuangan sosial dan pendidikan sebelum Indonesia merdeka.

Pemikiran tersebut kemudian terus berkembang dan menginspirasi perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia. Pendidikan perempuan menjadi salah satu bagian penting dalam membangun masyarakat yang memiliki kesempatan untuk berkembang.

Melansir JDIH BPK, Pemerintah Indonesia menetapkan R.A. Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964. Keputusan tersebut ditetapkan pada 2 Mei 1964 dan masih tercatat sebagai peraturan yang berlaku.

Perjuangan Kartini menunjukkan bahwa gagasan tentang kemajuan bangsa juga tumbuh melalui pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Meski berlangsung sebelum kemerdekaan, pemikirannya tetap menjadi bagian dari perjalanan sejarah Indonesia. (Shafira Nursyifa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....