Dijuluki 'Ayam Jantan dari Timur', Ini Perlawanan Sultan Hasanuddin terhadap VOC
- 10 Agt 2026 11:44 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nama Sultan Hasanuddin telah menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Namun, jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, Raja Gowa ini telah menghadapi kekuatan kolonial Belanda.
- Sultan Hasanuddin dikenal dengan julukan 'Ayam Jantan dari Timur', sebuah sebutan yang menggambarkan keberanian dan keteguhannya menghadapi kekuatan lawan.
- Perang Makassar menjadi salah satu konflik besar antara Kerajaan Gowa dan VOC pada abad ke-17. Konflik tersebut, VOC tidak hanya berhadapan dengan pasukan Gowa, tetapi juga mendapatkan dukungan dari Arung Palakka dan kekuatan Bone-Soppeng.
RRI.CO.ID, Jakarta - Nama Sultan Hasanuddin telah menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Namun, jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, Raja Gowa ini telah menghadapi kekuatan kolonial Belanda.
VOC kala itu, berusaha menguasai perdagangan dan memperluas pengaruhnya di kawasan timur Nusantara. Sultan Hasanuddin dikenal dengan julukan 'Ayam Jantan dari Timur', sebuah sebutan yang menggambarkan keberanian dan keteguhannya menghadapi kekuatan lawan.
Ia merupakan Raja Gowa ke-16 yang memimpin kerajaan, pada masa ketika Makassar menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Nusantara. Sultan Hasanuddin lahir di Gowa pada 1631 dan memiliki nama I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin.
Ia merupakan, putra Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15, yang sebelumnya telah membangun Gowa. Yakni, sebagai salah satu kekuatan penting di kawasan timur Nusantara.
Sejak usia muda, Hasanuddin telah dipersiapkan untuk memahami persoalan pemerintahan, diplomasi, perdagangan, dan strategi pertahanan. Pendidikan dan pengalaman tersebut, kelak menjadi modal penting ketika ia harus menghadapi tekanan VOC yang semakin kuat di wilayah Kerajaan Gowa.
Ketika VOC Ingin Menguasai Perdagangan Makassar
Pada abad ke-17, Makassar memiliki posisi strategis dalam jaringan perdagangan Nusantara. Pelabuhannya menjadi tempat bertemunya pedagang dari berbagai wilayah, sehingga kawasan tersebut memiliki arti penting bagi perdagangan regional.
Kondisi tersebut, menjadi persoalan bagi VOC yang sedang membangun kekuatan monopoli perdagangan di Nusantara. Bagi VOC, penguasaan Makassar akan membuka jalan untuk memperkuat kendali mereka terhadap jalur perdagangan di kawasan timur.
Sultan Hasanuddin tidak menerima keinginan tersebut begitu saja. Ia mempertahankan, prinsip bahwa Gowa memiliki hak menentukan kebijakan perdagangan dan hubungan dengan kerajaan maupun pedagang dari wilayah lain.
Sikap itu, kemudian membawa Gowa berhadapan langsung dengan VOC. Konflik tidak lagi sebatas persaingan kepentingan dagang, tetapi berkembang menjadi peperangan yang melibatkan kekuatan militer dari kedua pihak.
Perang Makassar dan Perlawanan Sultan Hasanuddin
Perang Makassar menjadi salah satu konflik besar antara Kerajaan Gowa dan VOC pada abad ke-17. Konflik tersebut, VOC tidak hanya berhadapan dengan pasukan Gowa, tetapi juga mendapatkan dukungan dari Arung Palakka dan kekuatan Bone-Soppeng.
Sultan Hasanuddin berusaha mempertahankan wilayah dan kedaulatan Gowa meskipun kekuatan lawan semakin besar. Perlawanan tersebut, menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Gowa bukan sekadar perebutan wilayah.
Tetapi juga, menyangkut kebebasan kerajaan dalam menentukan hubungan perdagangan dan politiknya. Salah satu catatan sejarah menggambarkan sikap Sultan Hasanuddin ketika menghadapi ancaman VOC.
Dalam surat yang dikaitkan dengan dirinya, ia menyatakan, “Bila kami diserang, kami akan mempertahankan diri, dan kami akan menyerang kembali, dengan segala kemampuan yang ada".
Pernyataan tersebut memperlihatkan sikap Sultan Hasanuddin yang tidak ingin menyerahkan begitu saja kepentingan Kerajaan Gowa kepada kekuatan asing.
Perjanjian Bungaya Bukan Akhir Perlawanan
Tekanan militer yang semakin besar akhirnya membuat posisi Kerajaan Gowa semakin sulit. Sultan Hasanuddin kemudian menandatangani Perjanjian Bungaya dengan VOC pada November 1667.
Namun, perjanjian tersebut tidak serta-merta mengakhiri perlawanan Gowa. Sejumlah pihak di lingkungan kerajaan menolak ketentuan perjanjian yang dinilai merugikan Gowa, sehingga peperangan kembali berlangsung setelah kesepakatan tersebut.
Perlawanan kembali pecah, pada 1668 dan berlangsung hingga kekuatan Gowa akhirnya semakin terdesak. Peristiwa tersebut, menjadi bagian dari rangkaian akhir Perang Makassar yang kemudian mengubah peta kekuasaan dan perdagangan di kawasan Sulawesi Selatan.
Bagi VOC, kemenangan tersebut memperkuat posisi mereka dalam perdagangan kawasan timur. Bagi Gowa, perang tersebut menjadi salah satu titik paling berat dalam sejarah kerajaan, karena pengaruh politik dan ekonominya kemudian mengalami kemunduran.
Sejarah Julukan Sultan Hasanuddin Sebagai 'Ayam Jantan dari Timur'
Julukan 'Ayam Jantan dari Timur' melekat kuat pada Sultan Hasanuddin karena keberaniannya menghadapi VOC. Sebutan tersebut, kemudian berkembang menjadi simbol keteguhan seorang pemimpin yang tidak mudah tunduk ketika berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar.
Sultan Hasanuddin memang pada akhirnya tidak berhasil mempertahankan seluruh kekuatan politik Gowa seperti sebelumnya. Namun, keberaniannya memimpin perlawanan membuat sosoknya dikenang sebagai salah satu figur penting dalam sejarah perlawanan terhadap kekuasaan VOC.
Perjuangannya juga menunjukkan, kekuatan politik Nusantara pada masa itu tidak menerima begitu saja kehadiran bangsa Eropa. Kerajaan-kerajaan lokal memiliki kepentingan, kekuatan militer, jaringan perdagangan, dan strategi politik sendiri dalam menghadapi perubahan yang terjadi di kawasan.
Dari Raja Gowa Menjadi Pahlawan Nasional
Sultan Hasanuddin wafat pada 12 Juni 1670 setelah melewati masa pemerintahan yang penuh konflik. Meskipun hidupnya berakhir jauh sebelum lahirnya Republik Indonesia, perjuangannya kemudian dipandang sebagai bagian dari sejarah.
Pemerintah Republik Indonesia kemudian menetapkan Sultan Hasanuddin sebagai Pahlawan Nasional pada 1973. Penghargaan tersebut menempatkannya dalam jajaran tokoh sejarah yang perjuangannya dipandang memiliki arti penting bagi perjalanan bangsa Indonesia.
Pemerintah Indonesia hingga kini juga terus mengenang Sultan Hasanuddin sebagai salah satu pahlawan yang berjasa dalam sejarah bangsa. Namanya tidak hanya hidup dalam buku-buku sejarah.
Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar menjadi salah satu contoh bagaimana nama sang raja tetap digunakan sebagai simbol penghormatan. Jejak namanya juga dapat ditemukan pada berbagai institusi pendidikan, fasilitas publik, dan nama jalan di sejumlah daerah Indonesia.
Pengabadian tersebut menunjukkan bahwa sosok Sultan Hasanuddin tidak hanya memiliki arti bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Tetapi, telah menjadi bagian dari memori sejarah nasional.
Sumber:
• KPU Papua Pegunungan
• Pusmendik Kemendikdasmen.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....