Sejarah KH Zainal Musthafa, Ulama Tasikmalaya yang Menantang Jepang

  • 09 Agt 2026 08:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dalam satu malam, apalagi merupakan pemberian cuma-cuma dari penjajah.
  • Nama KH Zainal Musthafa tidak dapat dipisahkan dari perlawanan rakyat Tasikmalaya terhadap pendudukan Jepang.
  • Salah satu pemicu perlawanan adalah kewajiban melakukan seikerei, yaitu membungkukkan badan ke arah matahari terbit sebagai bentuk penghormatan kepada Kaisar Jepang.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dalam satu malam, apalagi merupakan pemberian cuma-cuma dari penjajah. Di balik Proklamasi 17 Agustus 1945, terdapat perjuangan panjang yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat, termasuk para ulama dan santri di berbagai daerah.

Di Jawa Barat, sejumlah ulama memainkan peran penting dalam perjalanan perjuangan bangsa. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama di pesantren, tetapi juga bergerak melalui pendidikan, organisasi, politik, diplomasi, hingga perjuangan bersenjata menghadapi penjajah.

Salah satunya, perjuangan KH Zainal Musthafa di Tasikmalaya saat melawan Jepang. Melansir laman NU Online, berikut sejarahnya:

Nama KH Zainal Musthafa tidak dapat dipisahkan dari perlawanan rakyat Tasikmalaya terhadap pendudukan Jepang. Pemimpin Pesantren Sukamanah, Singaparna, ini dikenal berani menentang kebijakan Jepang yang dianggap bertentangan dengan keyakinan dan kehormatan umat Islam.

Salah satu pemicu perlawanan adalah kewajiban melakukan seikerei, yaitu membungkukkan badan ke arah matahari terbit sebagai bentuk penghormatan kepada Kaisar Jepang. Bagi KH Zainal Musthafa, tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip tauhid karena penghormatan dalam bentuk ibadah hanya ditujukan kepada Allah.

Perlawanan kemudian berkembang menjadi konflik terbuka antara pasukan Jepang dan para santri Sukamanah. Pada 25 Februari 1944, terjadi pertempuran yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa atau Pertempuran Sukamanah.

Pasukan santri menghadapi kekuatan Jepang dengan persenjataan yang jauh lebih terbatas. Meski akhirnya, pertahanan mereka ditembus dan KH Zainal Musthafa ditangkap.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan penting perlawanan rakyat Jawa Barat terhadap pendudukan Jepang. Setelah ditangkap, keberadaan KH Zainal Musthafa sempat tidak diketahui keluarganya.

Belakangan ditemukan informasi, ia telah dieksekusi mati oleh Jepang pada 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Ancol, Jakarta. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Sukamanah pada 25 Agustus 1973.

Pemerintah Indonesia sebelumnya telah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 064/TK/Tahun 1972. Perjuangan KH Zainal Musthafa memperlihatkan bahwa pesantren pada masa kolonial bukan hanya menjadi tempat menuntut ilmu agama.

Dalam situasi tertentu, pesantren juga menjadi pusat pembentukan kesadaran kebangsaan. Sekaligus, perlawanan terhadap kekuasaan penjajah di Jawa Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....