Sejarah Lengkap Perang Banjar: Penyebab, Kronologi, dan Akhir Perjuangan
- 06 Agt 2026 11:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Perang Banjar menjadi salah satu perang terbesar dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia, melawan kolonial Belanda pada abad ke-19.
- Kerajaan Banjar yang berada di wilayah Kalimantan Selatan hingga sebagian Kalimantan Tengah, dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam.
- Perlawanan terhadap Belanda dipimpin oleh Pangeran Antasari bersama para pejuang Banjar. Serangan pertama dilancarkan pada 28 April 1859 dengan menyasar pos-pos Belanda di Martapura dan Pengaron.
RRI.CO.ID, Jakarta - Perang Banjar menjadi salah satu perang terbesar dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia, melawan kolonial Belanda pada abad ke-19. Konflik ini pecah, akibat campur tangan Belanda dalam pemerintahan Kerajaan Banjar yang memicu kemarahan para bangsawan dan rakyat.
Kerajaan Banjar yang berada di wilayah Kalimantan Selatan hingga sebagian Kalimantan Tengah, dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam. Kekayaan berupa emas, intan, lada, rotan, hingga damar menjadikan kerajaan tersebut sebagai sasaran ekspansi pemerintah kolonial Belanda.
Upaya Belanda menguasai Banjar, dimulai melalui perjanjian dengan Sultan Sulaiman pada 1817. Kesepakatan itu, menjadi pintu masuk bagi Belanda untuk memperluas pengaruh politik dan ekonomi di wilayah Kerajaan Banjar.
Sebagai konsekuensi perjanjian tersebut, Kerajaan Banjar harus menyerahkan sejumlah wilayah kepada Belanda. Daerah seperti Dayak, Sintang, Bakumpai, Tanah Laut, Kotawaringin, Pasir, Kutai hingga Beran lepas dari kekuasaan kerajaan.
Wilayah Banjar kembali menyusut, setelah perjanjian berikutnya pada 1826. Sejak saat itu, kekuasaan kerajaan hanya mencakup Hulu Sungai, Martapura, dan Banjarmasin.
Pajak Tinggi dan Kerja Paksa Membebani Rakyat
Masuknya pemerintahan kolonial Belanda, membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Banjar. Rakyat dibebani pajak yang semakin tinggi, serta diwajibkan menjalani kerja paksa demi kepentingan Belanda.
Kondisi tersebut, memperburuk kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di Banjar. Pendapatan kerajaan menurun, sementara kebutuhan para elite yang terpengaruh gaya hidup Barat justru meningkat sehingga tekanan terhadap rakyat semakin berat.
Campur Tangan Belanda Memicu Krisis Politik
Belanda tidak hanya menguasai bidang ekonomi, tetapi juga mulai mencampuri urusan internal Kerajaan Banjar. Salah satunya, adalah intervensi dalam penentuan pewaris takhta kerajaan.
Setelah Putra Mahkota Abdurrahman wafat pada 1852, Sultan Adam mengajukan tiga nama calon penerus, yakni Pangeran Tamjidillah, Pangeran Hidayatullah, dan Prabu Anom. Namun, Belanda lebih mendukung Pangeran Tamjidillah sehingga memicu penolakan dari sebagian besar rakyat Banjar.
Banyak kalangan menilai Pangeran Tamjidillah tidak layak memimpin kerajaan. Penolakan tersebut, memicu konflik politik yang semakin tajam dan menjadi salah satu penyebab meletusnya Perang Banjar pada 1859.
Pangeran Antasari Memimpin Perlawanan
Perlawanan terhadap Belanda dipimpin oleh Pangeran Antasari bersama para pejuang Banjar. Serangan pertama dilancarkan pada 28 April 1859 dengan menyasar pos-pos Belanda di Martapura dan Pengaron.
Beberapa bulan kemudian, pasukan Pangeran Antasari yang didukung Haji Buyasin, Kiai Lang Lang, dan Demang Leman berhasil merebut Benteng Tabanio. Keberhasilan tersebut, semakin membangkitkan semangat perjuangan rakyat Banjar.
Pertempuran kemudian meluas ke Banua Lima, Martapura, dan Tanah Laut. Meski menghadapi persenjataan yang lebih modern, para pejuang tetap memberikan perlawanan sengit terhadap pasukan kolonial.
Pada September 1859, Demang Leman, Tumenggung Jalil, dan Pangeran Muhammad Aminullah menggelar pertemuan di Kandangan. Pertemuan itu, menghasilkan keputusan untuk menolak segala bentuk perundingan dengan Belanda.
Belanda kemudian, mengirim surat kepada Pangeran Hidayatullah pada Maret 1860 agar menyerahkan diri. Permintaan tersebut ditolak sehingga pertempuran kembali berkobar di berbagai wilayah Banjar.
Meski semangat juang rakyat sangat tinggi, keterbatasan persenjataan menjadi kendala utama. Situasi tersebut membuat posisi pasukan Banjar semakin terdesak hingga akhirnya Pangeran Hidayatullah berhasil ditangkap Belanda.
Akhir Perang Banjar
Belanda menangkap Pangeran Hidayatullah pada Februari 1862. Setelah ditawan, beliau diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat, untuk mematahkan semangat perjuangan rakyat Banjar.
Penangkapan tersebut justru memicu kemarahan Pangeran Antasari. Ia melancarkan, serangan balasan ke sejumlah benteng Belanda dan kemudian dinobatkan sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin.
Namun perjuangan itu menghadapi ujian berat ketika Pangeran Antasari wafat pada 11 Oktober 1862. Kepemimpinan perjuangan kemudian diteruskan oleh keluarga serta para pejuang Banjar lainnya.
Belanda akhirnya menerapkan strategi memburu seluruh tokoh perlawanan. Setelah para pemimpin berhasil ditangkap atau gugur, Perang Banjar pun perlahan berakhir meski semangat perjuangan rakyat tetap dikenang dalam sejarah Indonesia.
Sumber
• Abdurakhman. Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 untuk SMA/MA Kelas XI (2017).
• Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
• Arsip sejarah Perang Banjar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....