USK Perkuat Ekosistem Nilam Aceh dari Hulu hingga Hilir

  • 04 Sep 2026 12:38 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID,Banda Aceh- Universitas Syiah Kuala (USK) bersama pemerintah dan sejumlah pemangku kepentingan memperkuat ekosistem nilam Aceh melalui kolaborasi riset, inovasi, pengembangan usaha, hingga akses pembiayaan bagi petani dan pelaku UMKM.

Upaya tersebut dibahas dalam Koordinasi Penguatan Ekosistem Nilam Aceh Berkelanjutan yang berlangsung di BSI Landmark Aceh, Banda Aceh, Rabu, 2 September 2026. Forum tersebut membahas penguatan rantai nilai nilam secara terintegrasi mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Rektor USK Prof. Mirza Tabrani mengatakan pengembangan nilam telah menjadi bagian dari komitmen USK untuk menghubungkan pendidikan, penelitian, inovasi, dan hilirisasi agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“USK telah melakukan riset dan pengembangan nilam selama kurang lebih 15 tahun. Orientasinya bukan hanya menghasilkan publikasi atau inovasi, tetapi bagaimana hasil riset dapat dihilirkan menjadi produk bernilai tambah, memperkuat industri, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Prof. Mirza.

Menurutnya, nilam tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas penghasil minyak atsiri, tetapi memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tinggi, termasuk parfum, kosmetik, dan produk turunannya.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, USK terus memperkuat kemampuan riset dan sumber daya manusia, termasuk dalam bidang formulasi dan pengembangan parfum. Melalui dukungan International Labour Organization (ILO), USK juga memperluas jejaring pembelajaran dengan mitra internasional.

Namun, Prof. Mirza menegaskan penguatan sektor hilir harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani sebagai pelaku utama di sektor hulu.

“Tidak boleh terjadi ketimpangan antara sektor hulu dan hilir. Jika kita ingin membangun industri nilam yang berkelanjutan, petani harus memperoleh manfaat yang layak dan memiliki kepastian pasar,” kata Prof. Mirza.

Ia mengatakan USK juga berupaya meningkatkan kapasitas produksi, kualitas, serta penyerapan minyak nilam masyarakat sehingga terbentuk rantai nilai yang lebih kuat dan berkelanjutan. Kepastian pasar dinilai penting untuk mendorong masyarakat kembali mengembangkan budidaya nilam.

Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Erdiriyo Erdi, mengatakan penguatan ekosistem nilam membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari petani, pengolah, lembaga pembiayaan, perbankan, hingga sektor pemasaran.

“Kita ingin memperkuat nilam dari hulu sampai hilir dalam satu ekosistem. Banda Aceh dengan cita-cita menjadi kota parfum tentu membutuhkan dukungan dari semua pihak,” ujarnya.

Erdiriyo juga mengapresiasi peran USK melalui Atsiri Research Center (ARC) yang selama ini terlibat dalam riset, inovasi, dan pembinaan terkait pengembangan nilam Aceh.

Sementara itu, Project Manager Promise II Impact ILO Jakarta, Djauhari Sitorus, menyebut akses pembiayaan masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani dan pelaku UMKM dalam ekosistem nilam.

“Kami memiliki kemitraan dengan USK melalui ARC sudah sekitar empat tahun, khusus untuk nilam. Kami berharap ini dapat mendukung Banda Aceh sebagai kota parfum, sehingga akhirnya menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan,” kata Djauhari.

Dukungan terhadap penguatan ekosistem nilam juga disampaikan Pemerintah Aceh melalui Kepala Biro Perekonomian Setda Aceh, Zaini. Ia menilai pengembangan nilam perlu diarahkan untuk memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat Aceh.

Pemerintah Aceh bahkan mengusulkan agar minyak nilam dapat masuk dalam sistem resi gudang. Skema tersebut diharapkan membantu petani ketika harga komoditas mengalami penurunan, sekaligus membuka akses pembiayaan melalui perbankan.

“Apabila nilai jualnya turun, bisa disimpan dengan resi gudang dan bisa menjadi agunan di perbankan. Dengan adanya resi gudang, kualitas nilam kita juga dapat lebih terjaga,” katanya.

Forum tersebut turut melibatkan Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, USK melalui Atsiri Research Center, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Pembahasan mencakup akses pembiayaan, kebutuhan petani dan pelaku usaha, peningkatan kualitas bahan baku, pengembangan produk turunan, penguatan rantai pasok, serta peluang perluasan pasar.

Penguatan kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat memperkuat posisi nilam sebagai komoditas unggulan Aceh sekaligus meningkatkan nilai ekonomi yang diterima masyarakat dari komoditas tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....