UTU Perkuat Kemandirian Pakan dan Manajemen Risiko Budidaya Lele
- 01 Sep 2026 08:10 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Teuku Umar (UTU) kembali memberdayakan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Kumis Jaya di Desa Ujong Tanjong, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Sabtu, 29 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memperkuat kemandirian pakan dan kemampuan manajemen risiko usaha budidaya lele melalui penerapan teknologi dan ekonomi sirkular.
Kegiatan PkM tahun 2026 mengusung tema “Penguatan Kemandirian Pakan dan Manajemen Risiko pada Usaha Budidaya Lele Berbasis Teknologi dan Ekonomi Sirkular”. Program tersebut merupakan kelanjutan pendampingan yang telah dilakukan tim PkM UTU kepada Pokdakan Kumis Jaya pada tahun sebelumnya.
Tim PkM diketuai Anisah Nasution, S.E., M.Si. dengan anggota Rahmawati, S.P., M.Si., sementara kegiatan tahun 2026 mendapat pendanaan melalui Hibah Internal Universitas Teuku Umar setelah sebelumnya memperoleh pendanaan dari DPPM Kemdiktisaintek tahun 2025.
Dalam kegiatan tersebut, anggota Pokdakan Kumis Jaya mendapatkan sosialisasi mengenai konsep ekonomi sirkular serta pelatihan pengolahan pakan alternatif berbahan limbah. Pemanfaatan bahan lokal dan limbah tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pembudidaya terhadap pakan komersial sekaligus menekan biaya produksi.
Tim PkM UTU juga menyerahkan hibah mesin pencampur bahan pakan kepada kelompok pembudidaya. Mesin tersebut diharapkan dapat membantu menghasilkan campuran bahan pakan yang lebih homogen sehingga proses produksi menjadi lebih efektif dan efisien.
Ketua Tim PkM UTU, Anisah Nasution, mengatakan penguatan kemandirian pakan harus berjalan beriringan dengan kemampuan kelompok dalam mengelola berbagai risiko usaha. Menurutnya, budidaya lele memiliki sejumlah tantangan yang dapat memengaruhi keberlanjutan usaha kelompok.
“Penguatan manajemen risiko penting karena usaha budidaya lele menghadapi berbagai ketidakpastian. Kemandirian pakan perlu diikuti dengan kemampuan kelompok dalam mengantisipasi dan mengendalikan risiko agar usaha dapat berjalan lebih efisien dan berkelanjutan,” ujar Anisah.
Selain persoalan pakan, peserta diberikan pemahaman mengenai berbagai risiko yang dapat muncul dalam usaha budidaya lele. Risiko tersebut antara lain kenaikan biaya dan ketersediaan pakan, perubahan kualitas air, penyakit ikan, fluktuasi harga, serta kendala produksi dan pemasaran.
Melalui materi manajemen risiko, anggota kelompok diarahkan untuk mampu mengidentifikasi sumber risiko yang dihadapi dalam kegiatan budidaya. Mereka juga diberikan pemahaman untuk menentukan langkah mitigasi yang sesuai dengan kondisi usaha sehingga potensi kerugian dapat ditekan.
Kegiatan tersebut turut melibatkan lima mahasiswa UTU yang mendapatkan konversi pada mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat. Para mahasiswa terlibat langsung dalam proses pendampingan, pelatihan, serta interaksi dengan anggota kelompok pembudidaya.
Tim PkM UTU menargetkan program berkelanjutan tersebut mampu meningkatkan kemandirian Pokdakan Kumis Jaya dalam penyediaan pakan. Kelompok juga diharapkan mampu memanfaatkan sumber daya lokal dan limbah secara produktif serta meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi dan memitigasi risiko usaha.
Penerapan teknologi dan ekonomi sirkular diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi budidaya lele. Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun usaha perikanan yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan di tingkat masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....