Kamalia Ulfa Ajak Generasi Muda Jaga Jantung Pangan Daerah

  • 08 Jul 2026 08:39 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh – Sektor pertanian saat ini sedang menghadapi tantangan ganda. Kebutuhan pangan yang terus melonjak dan minimnya minat generasi muda untuk turun ke sawah.

Menghadapi realitas ini, Kamalia Ulfa, S.P., M.Si., seorang dosen di Universitas Teuku Umar (UTU), membagikan kisahnya tentang suka duka serta strategi mengedukasi masyarakat petani dan membakar semangat para mahasiswanya.

Bagi Kamalia, mendidik masyarakat petani tradisional bukan perkara mudah. Mengubah pola pikir (mindset) agar mau beralih ke metode modern yang lebih efektif membutuhkan kesabaran ekstra.

"Tantangan terbesar sebagai dosen saat turun ke lapangan adalah bagaimana menyederhanakan teori ilmiah menjadi bahasa yang praktis dan mudah diterima oleh petani. Kita tidak bisa hanya menyuruh, tapi harus memberikan bukti bahwa dengan teknik penanaman yang tepat, hasil panen bisa jauh lebih maksimal," ujar Kamalia, Sabtu 4 Juli 2026.

Beliau menekankan bahwa edukasi yang disampaikannya fokus pada peningkatan produktivitas tanpa mengorbankan kelestarian alam. Menurutnya, penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan justru merusak masa depan pertanian.

"Petani adalah jantung sebuah daerah. Jika sektor pertanian lumpuh, maka ketahanan daerah tersebut akan goyah. Oleh karena itu, kita mengedukasi mereka agar hasil panen melimpah, tetapi dengan cara-cara yang ramah lingkungan agar tanah tetap subur untuk generasi mendatang," tambahnya.

Mendorong Lahirnya 'Petani Berdasi'

Tidak hanya fokus pada petani senior di desa-desa, Kamalia juga menaruh harapan besar pada pundak mahasiswa UTU. Di era krisis pangan global saat ini, ia gencar mendorong mahasiswanya untuk tidak melulu mengincar pekerjaan kantoran, melainkan berani menjadi "Petani Berdasi".

Istilah 'Petani Berdasi' ini merujuk pada generasi muda yang terjun ke dunia pertanian dengan modal ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemampuan manajerial yang modern.

"Saya selalu bilang ke mahasiswa, jangan malu jadi petani. Petani modern atau petani berdasi adalah inovator. Mereka bertani dengan analisis data, memanfaatkan teknologi pintar (smart farming), dan paham rantai pasok pemasaran," tegas Kamalia optimis.

Dengan sentuhan generasi muda yang melek teknologi, Kamalia meyakini hasil panen bisa melonjak berkali-kali lipat tanpa merusak struktur tanah dan lingkungan sekitarnya.

"InsyaAllah, jika mahasiswa kita mau bergerak dan menjadi petani berdasi, pengelolaan pertanian kita akan lebih presisi. Hasilnya maksimal, lingkungan terjaga, dan kesejahteraan petani kita pasti meningkat. Sudah saatnya anak muda mengambil alih tongkat estafet ini untuk menjaga lumbung pangan kita," tutupnya dengan penuh semangat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....