Dari Pena Kartini ke Buku Anak Emansipasi lewat Cerita Dwibahasa

  • 22 Apr 2026 10:05 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh – Memperingati Hari Kartini pada 21 April 2026, RRI Meulaboh menghadirkan sosok inspiratif dalam program Sore Ceria. Ia adalah Rismawati, M.Pd., Dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris Universitas Teuku Umar sekaligus penulis cerita anak yang kerap menjuarai berbagai sayembara menulis.

Dalam kesempatan ini, Rismawati berbagi pengalamannya di dunia literasi. "Dulu saat kuliah, saya sudah tertarik mengirim tulisan ke media. Lumayan ada honornya, meskipun tulisan saya sering ditolak, bahkan pernah disebut 'tulisan sampah'. Namun, saya pantang menyerah dan terus menulis sampai sekarang," ujar Rismawati.

Bakat menulis Rismawati sebenarnya telah tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Ia menceritakan bahwa novel karyanya saat itu belum bisa diterbitkan karena ia belum memahami proses penerbitan. Namun, semangatnya tetap bergejolak.

Ia terus mengasah kemampuan dengan mengikuti berbagai lomba dan bergabung dalam komunitas seperti Gelanggang Mahasiswa Gemasastrin, Sekolah Menulis Dokarim, dan Tikar Pandan.

null%

"Pada tahun 2017, saya mengikuti sayembara Gerakan Literasi Nasional (GLN) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itu saya menulis Lanskap Negeri Saman. Dari ratusan hingga ribuan naskah yang masuk, hanya terpilih 165 naskah terbaik, dan saya salah satunya.

Kemudian pada 2018, saya kembali mendapat undangan khusus untuk menulis di Kementerian; saat itu saya menulis naskah Kenara Anak Suku Gayo," kenang Risma.

Risma menambahkan bahwa lomba-lomba serupa GLN kini juga diselenggarakan di tingkat provinsi melalui Balai Bahasa Provinsi Aceh. "Setiap ada sayembara, saya rutin mengirimkan naskah berlatar budaya Gayo. Alhamdulillah, beberapa naskah saya terpilih. Mungkin ini juga keberuntungan saya, karena saat ini masih minim penulis yang mengangkat latar belakang dan bahasa Gayo," tambahnya.

Bagi Risma, menulis tidak hanya menghibur diri sendiri, tetapi juga bisa menghasilkan pendapatan. Selain mengedukasi masyarakat, menulis baginya adalah sarana menjaga kesehatan mental karena dapat melepaskan beban pikiran.

Di akhir sesi, Rismawati berpesan bahwa pada momentum Hari Kartini, sosok perempuan tidak seharusnya hanya diidentikkan dengan sanggul dan kebaya. "Ketika bicara emansipasi, ini adalah tentang akses yang sama, yaitu kesetaraan," pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....