Ceramah Subuh: Puasa yang Sempurna Melalui Tiga Tingkatan
- 02 Mar 2026 11:01 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Masjid Jamik Baiturrahim Gampong (Desa) Ujong Baroh Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat kembali melaksanakan cermah subuh pada Ramadan Ke-12 tahun 2026 Masehi/1447 Hijriah. Tausiah diisi oleh Tgk. H. Dr. Khairul Azhar, S.Ag., M.A., dengan judul “Menuju Puasa yang Sempurna Melalui Tiga Tingkatan”.
Tgk Azhar diawal ceramah menyampaikan puji dan syukur atas diberikannya umur panjang serta lipahan karunia dari Allah SWT, masih diberikan keimanan, sehat badan, sehat fikiran, sehingga dapat menjalankan kewajiban shalat subuh secara berjamaah, beserta shalawat kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW, beserta para sahabat dan keluarga.
Semua ibadah, baik ibadah baik ibadah badan, seperti shalat, berzikir maupun ibadah Mal (Maliah), ibadah makiah, seperti berinfaq, bersedekah, berzakat, atau gabungan antara ibadah makliah dan ba’daniah seperti berhaji, tentu kesemuanya itu memiliki tujuan.
“Puasa Ramadhan memiliki kaitan yang sangat erat dengan ibadah jasadiyah (fisik), di mana ibadah spiritual ini secara langsung memberikan dampak positif terhadap kesehatan dan kebugaran tubuh (jasmani). Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga bertindak sebagai mekanisme penyucian tubuh (detoksifikasi) dan penguatan fisik” kata Tgk Azhar di mimbar Masjid Jamik Baiturrahim.
Puasa edisi para Nabi terdahulu dan edisi umat Nabi Mahammad berbeda tujuan puasanya, seperti termaktum dalam surah Al-Baqarah ayat 183 yaitu menjadi orang yang bertaqwa, ayat ini menegaskan kewajiban puasa Ramadan bagi orang beriman (ya ayyuhalladzina aamanu) untuk membentuk ketakwaan (la'allakum tattaqun).
“Puasa bukan sekadar menahan lapar/dahaga, melainkan sarana melatih kesabaran, memurnikan jiwa, dan meningkatkan kepedulian sosial, serta mengikuti tradisi umat terdahulu untuk mencapai pribadi yang lebih berkualitas” ungkap Tgk Azhar.
Seperti misalnya edisi syariat Nabi Adam AS berbeda tujuan dari puasa yang dilaksanakannya, Ia melaksankan puasa tersebut bertujuan untuk bisa bertemu dengan istrinya Siti Hawa, dikarnakan sudah hampir 500 tahun lamanya terpisah. Kisah ini menjadi simbol cinta sejati, kesabaran dalam taubat, dan kerinduan, di mana Jabal Rahmah diyakini sebagai saksi bertemunya kembali Nabi Adam dan Siti Hawa setelah masa perpisahan yang panjang.
Sementara itu edisi syariat puasa yang dilakukan oleh Nabi Nuh AS yang berusia 1100 tahun, dimana selama 950 tahun Nabi Nuh AS berdakwah tauhid tentang keesaan Allah SWT, ia mendapatkan orang-orang yang mau mendengar dakwahnya, oleh karna itu Nabi Nuh AS berpuasa.
Berdasarkan riwayat sejarah Islam, selain sebagai wujud syukur, Nabi Nuh AS berpuasa (diketahui sebagai puasa Asyura atau puasa selama 3 hari di bulan Muharram) juga bertujuan sebagai bentuk syukur setelah selamat dari bencana, Nabi Nuh AS berpuasa tepat setelah turun dari bahtera (kapal) sebagai tanda syukur kepada Allah SWT atas keselamatan dirinya dan pengikutnya dari banjir bandang dahsyat yang memusnahkan kaum yang ingkar.
Kemudian tujuan puasa yang dilaksanakan oleh Nabi Nuh AS ialah agar terhindar dari marabahaya, jadi puasa ini merupakan bentuk pengakuan atas ketergantungan mutlak kepada Allah, memohon perlindungan dari azab, serta memohon keberkahan dan keselamatan.
| Baca juga: Waktu yang Pas Buat Olahraga ketika Puasa |
Dan puasa yang dilaksanakan tersebut bertujuan sebagai bentuk ibadah pengagungan kepada Allah SWT, dimana Nabi Nuh AS dikenal sebagai hamba yang bersyukur (abdussyakur), dan puasa merupakan salah satu cara tertinggi untuk memuji Allah SWT atas pertolongan-Nya.
Semua syariat-syariat puasa Nabi terdahulu, dirangkum dan dirangkaikan dalam puasa yang dilaksanakan oleh umat Nabi Muhammad SAW, secara akademik ada semacam refleksi akademik, kalau tinjauan dari teologi, ketauhidan, keimanan, jelas puasa kita itu jelas menjadi orang bertakwa.
Maka dari itu Allah SWT hanya memanggil orang yang beriman, bukan orang Islam, sebab ending dari pada iman itu ialah taqwa, seperti sabda Rasulullah SAW, pakaian iman itu ialah taqwa, oleh karnaya kerugianlah bagi mereka yang mendapati bulan Ramadan tidak mendapatkan keberkahan-keberkahan didalamnya.
“Dari segi akademik Tasauf dalam kontek puasa itu memiliki manfaat yang luar biasa, apa lagi dilakukan secara utuh, dapat membuyarkan penyakit hati, setidaknya dalam waktu 12 jam berpuasa itu ada perbaikan penyakit bathin, baik itu iri, dengki, dendam dan dendam” ungkap Tgk Azhar.
Puasa yang dilakukan ada dorongan, ada semangat iman dan taqwa, sehingga ada keinginan-keinginan yang harus ditunda dan sekaligus dapat mengelola emosi, sebab puasa itu sebagai perisai, jangan pernah mengotori nilai-nilai puasa itu dengan tingkah dan ucapan yang sia-sia, dan jangan menjadi orang jahil dan dijahili.
Sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW mengenai hakikat puasa. Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan sebuah "perisai" spiritual dan perilaku, jadi tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Agar puasa tidak sia-sia, nilai-nilainya harus dijaga dengan menjaga lisan, perbuatan, dan hati dari hal-hal yang merusak pahala.
“Jika puasa dilakukan dengan benar, ia akan menjadi pelindung yang sesungguhnya dari perbuatan maksiat, baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan” kata Tgk Azhar.
Apabila dilihat dari konteks piskologis (kejiwaan) puasa itu bisa merubah karakter seseorang dari kikir/pelit menjadi orang yang gemar berinfaq dan bersedekah, oleh itu nilai-nilai puasa itu terkusus dibalas langsung oleh Allah SWT tanpa perantara.
“Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali membagi tingkatan puasa menjadi tiga, yang pertama ialah puasa awam (menahan lapar/dahaga) Ini adalah tingkatan dasar, yaitu hanya menahan perut dan kemaluan dari kebutuhan syahwat (makan, minum, berhubungan badan) dari fajar hingga maghrib.
Tgk Azhar melanjutkan ceramahnya, dimana yang kedua ilalah puasa khawas (puasa anggota tubuh dari maksiat), tingkat yang lebih tinggi, di mana seseorang menahan mata, telinga, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa dan hal sia-sia.
Dan yang terakhir atau ketiga adalah puasa khawasul khawas (puasa hati dari selain Allah), tingkatan ini adalah tingkatan tertinggi, yaitu puasa hati (Qalbu) dari keinginan rendah dan pikiran duniawi. Mereka menjaga hati agar tidak memikirkan selain Allah SWT. Menurut Al-Ghazali, puasa ini batal jika hati terbersit memikirkan selain Allah” jelas Tgk Azhar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....