Kenali Penyakit Asma,Gejala dan Penanganannya
- 28 Agt 2026 20:25 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID , MEULABOH – Rasa sesak napas sering kali membuat penderitanya merasa cemas dan khawatir.
Tak jarang, masyarakat masih keliru menganggap asma sebagai penyakit menular atau kelainan bawaan sejak dalam kandungan.
Untuk meluruskan persepsi tersebut, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh melalui Instalasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) menggelar dialog edukasi kesehatan Indonesia Sehat di RRI Meulaboh. Dialog ini menghadirkan Kepala Instalasi PKRS, Emi Hartini, S.K.M., serta Dokter Spesialis Paru, dr. Devi Eka Rahma, Sp.P.
Asma Tidak Menular dan Bukan Kerusakan Permanen
Dokter Spesialis Paru RSUD Cut Nyak Dhien, dr. Devi Eka Rahma, Sp.P., menegaskan bahwa asma bukan penyakit menular dan tidak disebabkan oleh kuman, berbeda dengan Tuberculosis (TBC) atau Pneumonia.
Asma adalah penyakit heterogen akibat proses peradangan (inflamasi) pada saluran napas yang dipicu oleh gangguan sistem imunitas tubuh.
Sifatnya reversible, artinya tidak terjadi kerusakan permanen pada saluran napas dan jalurnya bisa kembali normal, jelas dr. Devi.
Ia menepis anggapan bahwa asma dibawa sejak dalam kandungan (penyakit kongenital). Kondisi asma berkaitan dengan reaksi berlebih dari sistem imun (hipersensitif) terhadap benda asing.
Saat terpapar pemicu, pembuluh darah melebar, saluran napas berkontraksi (menyempit), dan produksi lendir meningkat secara drastis sehingga timbul gejala sesak.
Kenali Pemicu dan Istilah "Asma Terkontrol"
dr. Devi menambahkan, kunci utama bagi penderita asma adalah menjaga agar gejalanya tetap ,terkontrol. Penderita dapat hidup normal selama mampu mengelola faktor pemicu kekambuhan (alergen)
[FAKTOR PEMICU KEKAMBUHAN (ALERGEN)]
➔ Paparan Asap Rokok & Asap Pembakaran
➔ Debu Lingkungan & Bulu Hewan
➔ Makanan Tertentu (Misal: Udang/Alergi Spesifik)
➔ Perubahan Cuaca/Suhu Ekstrem
➔ Kelelahan Fisik & Stres/Pola Pikiran
Obat-obatan inhaler (semprot/hirup) yang diresepkan dokter berfungsi menekan reaksi inflamasi agar imun tidak bereaksi berlebihan.
Penderita asma harus proaktif memproteksi diri, misalnya menggunakan masker saat berada di luar rumah, tambahnya.
Tiga Wilayah Rencana Aksi Saat Asma Kambuh
Saat gejala asma muncul, masyarakat diimbau untuk mengenali tiga panduan tingkat keparahan (zona) agar dapat mengambil penanganan yang tepat
- Wilayah Hijau (Aman): Pasien merasa sedikit sesak tetapi masih bisa beraktivitas normal. Penanganan cukup dengan melanjutkan obat rutin harian sesuai panduan.
- Wilayah Kuning (Waspada): Sesak mulai mengganggu aktivitas harian. Pasien disarankan mengonsumsi obat pertolongan jangka pendek atau berkonsultasi dengan dokter/Puskesmas.
- Wilayah Merah (Darurat/IGD):,Sesak napas sangat berat, terdengar suara mengi (bengek), dan pasien tidak mampu beraktivitas.
- Kondisi ini mewajibkan pasien untuk segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Rumah Ramah Asma dan Aturan Jam Besuk RSUD Cut Nyak Dhien
Sementara itu, Kepala Instalasi PKRS RSUD Cut Nyak Dhien, Emi Hartini, S.K.M., menekankan pentingnya menciptakan suasana rumah yang bersih dan bebas debu bagi penderita asma.
Lakukan penggantian seprai dan sarung bantal setidaknya 3 hari sekali, hindari bantal kapas, jaga ventilasi udara, serta pastikan rumah bebas dari asap rokok maupun kipas angin/AC yang kotor,ujar Emi.
Selain edukasi asma, Emi menyampaikan bahwa RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh kini terus memperlengkap fasilitas dan dokter spesialis-termasuk memiliki 4 dokter spesialis paru—agar masyarakat tidak perlu lagi dirujuk ke Banda Aceh.
Pihak RSUD juga memperketat aturan jam besuk pasien dan membatasi penunggu pasien maksimal satu orang. Kebijakan ini diambil demi memberikan ruang istirahat yang cukup bagi pasien dan mempercepat proses penyembuhan tanpa terganggu kebisingan atau paparan kuman dari luar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....