Hipertensi, Si Pembunuh Diam-Diam yang Sering Diabaikan.
- 10 Jul 2026 14:55 WIB
- Meulaboh
RRI.CO0.ID , Meulaboh - Hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap kali dianggap sebagai keluhan ringan oleh sebagian besar masyarakat.
Padahal, penyakit kronis ini menyimpan potensi bahaya yang sangat fatal bagi kelangsungan hidup penderitanya jika terus diabaikan.
Menyikapi fenomena tersebut, Puskesmas Johan Pahlawan bekerja sama dengan RRI Meulaboh menggelar dialog interaktif ,Indonesia Sehat, untuk mengedukasi masyarakat.
Dialog ini mengangkat tema krusial .Hipertensi, Si Pembunuh Diam-Diam yang Sering Diabaikan.
Hadir sebagai narasumber, dr. Sabila Kurasifa dari Puskesmas Johan Pahlawan Meulaboh menjelaskan bahwa secara medis seseorang didiagnosis mengidap hipertensi jika hasil pengukuran tekanan darahnya menunjukkan angka 130/80 mmHg atau lebih.
Hipertensi adalah penyakit multifaktorial. Berdasarkan data nasional dari Survei Kesehatan Indonesia, polanya cukup mengkhawatirkan karena diperkirakan satu dari tiga orang di Indonesia mengalami hipertensi,
ungkap dr. Sabila. Di Puskesmas Johan Pahlawan sendiri, dari total 50 pasien yang berobat ke poli, berkisar antara 20% hingga 25% di antaranya didiagnosis menderita tekanan darah tinggi.
Mengapa Disebut Silent Killer?
Istilah silent killer atau pembunuh diam-diam disematkan pada hipertensi karena penyakit ini sering kali berkembang di dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala klinis yang disadari oleh penderitanya.
Berdasarkan laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat sekitar 1,4 miliar manusia di seluruh dunia yang mengidap hipertensi, dan hampir separuhnya sama sekali tidak merasakan keluhan awal seperti pusing atau lemas.
Hipertensi ini bisa kita ibaratkan seperti rayap yang menggerogoti kayu. Dari luar kayunya tampak kokoh dan bagus, tetapi di dalam sebenarnya sudah keropos.
Begitu pula pembuluh darah kita; tekanan yang tinggi secara terus-menerus akan merusak strukturnya dan memicu komplikasi fatal, analogi dr. Sabila.
Faktor Risiko dan Kategori Hipertensi
Dokter Sabila memaparkan bahwa penyebab hipertensi secara garis besar terbagi menjadi dua kategori utama
1. Hipertensi Primer (90% Kasus)
Kategori yang paling mendominasi ini sangat berkaitan erat dengan faktor genetik (keturunan) dan gaya hidup (lifestyle). Beberapa pemicu utamanya meliputi
Pola diet tinggi garam (natrium) dan hobi mengonsumsi makanan olahan atau junk food (bakso, nugget.
Gaya hidup kurang gerak (sedentary lifestyle) atau kurang aktivitas fisik.
Tingkat stres yang tidak dikelola dengan baik.
2. Hipertensi Sekunder (10% Kasus)
Merupakan tekanan darah tinggi yang dipicu oleh kondisi medis lain atau efek samping obat, seperti
Penggunaan alat kontrasepsi (KB).
Kondisi kehamilan.
Adanya gangguan medis pada kelenjar tiroid (hipertiroidisme) atau penyakit gagal ginjal.
Hubungan Hipertensi, Gagal Ginjal, dan Jantung
Dalam sesi interaktif via telepon, seorang warga dari Desa Lhok Guci, Pantai Cermin, bernama Pak Kasiman, menanyakan bagaimana mekanisme hipertensi hingga bisa merusak organ lain seperti ginjal dan jantung.
Beliau juga menceritakan adiknya yang pernah mencatatkan tensi ekstrem hingga 245 mmHg.
Menanggapi hal tersebut, dr. Sabila menguraikan keterkaitan antardan dampak klinisnya pada organ tubuh
Kerusakan Ginjal ,Pembuluh darah tersebar di seluruh tubuh dari otak hingga kaki.
Tensi yang melonjak tinggi secara kronis membuat pembuluh darah menjadi kaku, elastisitasnya berkurang, dan menyumbat pasokan darah menuju ginjal. Kondisi inilah yang memicu terjadinya gagal ginjal.
Gagal Jantung ,Jantung berfungsi sebagai pompa darah utama.
Ketika tekanan di dalam pembuluh darah terlalu tinggi, jantung dipaksa bekerja berkali-kali lipat lebih keras untuk memompa darah hingga akhirnya otot jantung mengalami kelelahan kronis dan berujung pada gagal jantung.
Terkait keluhan adik Pak Kasiman yang merasa tubuhnya menjadi lemas setelah tensinya berhasil diturunkan ke angka normal (140 mmHg), dr. Sabila menjelaskan bahwa hal itu merupakan proses adaptasi tubuh.
Ketika pembuluh darah sudah terbiasa dengan tekanan tinggi, penurunan tensi menggunakan obat-obatan membutuhkan waktu adaptasi bagi pembuluh darah.
Gejala lemas tersebut adalah hal yang wajar di awal terapi dan akan hilang secara perlahan, jelasnya.
Tips Pencegahan
Sebagai penutup, dr. Sabila mengingatkan masyarakat bahwa batas tekanan darah yang normal dan sehat adalah kurang dari 120/80 mmHg.
Mengingat sifat natrium pada garam yang secara kimiawi dapat menarik air dan meningkatkan volume serta tekanan pada pembuluh darah,
masyarakat diimbau untuk membatasi konsumsi makanan asin, mengelola stres, dan rutin melakukan kontrol tekanan darah secara berkala,
terutama bagi yang sudah memasuki usia 30 tahun ke atas atau memiliki riwayat keluarga hipertensi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....