Menyusui untuk Awal Kehidupan Berkelanjutan, Memperkuat Apa yang Sudah Terbukti

  • 08 Agt 2026 12:20 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID ,Meulaboh - Dalam rangka memperingati Pekan Menyusui Sedunia 2026 yang mengusung tema ,

Menyusui untuk Awal Kehidupan Berkelanjutan: Memperkuat Apa yang Sudah Terbukti Berhasil, RRI Meulaboh menghadirkan dua narasumber ahli dalam program Indonesia .

Sehat, yaitu dr. Dewi Hastina, Sp.A (Spesialis Anak) dan Indah Pintasari (Konselor Laktasi dari Rufaidah Care).

Kedua pakar menegaskan bahwa pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif pada 6 bulan pertama kehidupan bukan sekadar pemenuhan nutrisi harian bayi,

melainkan investasi jangka panjang untuk membangun fondasi generasi emas Indonesia dan mencegah stunting.

ASI adalah investasi masa depan bangsa. Jika kita bicara pencegahan stunting, inilah fondasi awalnya.

Jangan menunggu anak sudah stunting baru datang ke dokter anak, karena itu sudah terlambat, tegas Konselor Laktasi, Indah Pintasari.

3 Keunggulan Utama ASI yang Tak Bisa Ditiru Susu Formula

Dokter Spesialis Anak, dr. Dewi Hastina, Sp.A, memaparkan secara medis mengapa ASI tidak dapat tandingi oleh produk asupan buatan apa pun, termasuk susu formula:

  1. Kaya Nutrisi Presisi: Komposisi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral pada ASI sudah terukur secara pas sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang bayi.
  2. Cairan Hidup (Kaya Antibodi): ASI mengandung sel-sel imun, antibodi, enzim, dan hormon pertumbuhan yang bertindak sebagai pelindung alami tubuh. Komponen ,hidup' ini tidak pernah ada di dalam susu formula.
  3. Komposisi Dinamis: Kandungan ASI dapat berubah sesuai dengan fase dan kebutuhan bayi. Contohnya,

    kolostrum (ASI pertama berwarna kekuningan dalam 5 hari pertama kelahiran) kaya akan zat kekebalan tubuh.

  4. Saat bayi sakit, ASI secara otomatis memproduksi lebih banyak antibodi untuk melawan infeksi.

Susu formula mungkin bisa meniru kandungan nutrisi dasar, tetapi tidak bisa memberikan komponen hidup seperti antibodi dan sel imun.

Memberikan ASI berarti memberikan nutrisi sekaligus perlindungan dan dukungan tumbuh kembang secara utuh, jelas dr. Dewi Hastina, Sp.A.

Mitos ,ASI Tidak Keluar dan Pentingnya Support System

Dalam sesi perbincangan, Indah Pintasari menepis anggapan umum di masyarakat yang sering mengeluhkan tidak adanya produksi ASI setelah melahirkan.

Menurutnya, kegagalan menyusui sering kali dipicu oleh masalah psikologis dan kurangnya dukungan lingkungan sekitar.

Proses pengeluaran ASI dipengaruhi oleh hormon oksitosin atau hormon cinta. Hormon ini hanya bekerja maksimal jika ibu dalam keadaan tenang, bahagia, dan tidak stres.

Hal sepele seperti memikirkan jemuran di luar rumah saat hujan pun bisa memblokir hormon oksitosin dan membuat ASI seret, ungkap Indah.

Ia menekankan bahwa menyusui bukanlah tugas tunggal seorang ibu, melainkan proses belajar bersama yang membutuhkan keberadaan support system (suami, keluarga, dan lingkungan):

  • Peran Suami/Keluarga: Membantu pekerjaan rumah tangga, menjaga kebersihan rumah, dan memastikan ibu mendapat waktu istirahat yang cukup.
  • Tidak Ada Booster ASI Instan: Booster ASI sejati adalah isapan bayi pada puting ibu serta suasana hati (mood) ibu yang bahagia.
  • Edukasi Sebelum Melahirkan: Calon ibu dianjurkan mempelajari ilmu manajemen laktasi sejak masa kehamilan, bukan hanya fokus membeli pakaian newborn atau perlengkapan bayi.

Dorongan Fasilitas ,Pojok ASI,dan Lingkungan Ramah Menyusui

Selain berdampak pada kesehatan ibu (menurunkan risiko kanker payudara dan ovarium), pemberian ASI juga dinilai ramah lingkungan (eco-friendly) karena tidak menghasilkan sampah kemasan atau kaleng.

Di akhir dialog, para narasumber mendorong seluruh lintas sektor—mulai dari pemerintah,

fasilitas kesehatan (rumah sakit dan puskesmas), hingga tempat kerja—untuk memperkuat komitmen mendukung ibu menyusui.

Langkah nyata yang diharapkan di antaranya adalah penyediaan fasilitas ruang menyusui (Pojok ASI) yang layak di perkantoran serta pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

secara konsisten di seluruh rumah sakit.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....