Minum dari Gelas Tembaga Trending, Begini Penjelasan Ilmuwan Medis
- 05 Agt 2026 15:52 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Tren penggunaan gelas atau botol berbahan tembaga (copper) untuk minum air tengah populer di kalangan masyarakat. Wadah ini kerap diklaim memiliki berbagai manfaat kesehatan, mulai dari meningkatkan daya tahan tubuh hingga mencegah penyakit kronis. Namun, sejumlah ilmuwan medis menegaskan bahwa sebagian besar klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Para peneliti menyebutkan bahwa tubuh manusia memang membutuhkan mineral tembaga, tetapi dalam jumlah yang sangat kecil. Kebutuhan tersebut umumnya sudah tercukupi melalui asupan makanan sehari-hari, sehingga tambahan dari air minum dalam wadah tembaga dinilai tidak memberikan manfaat signifikan.
Penelitian menunjukkan bahwa tembaga memiliki sifat antimikroba alami. Air yang disimpan dalam wadah tembaga selama beberapa jam dapat membantu membunuh bakteri tertentu, termasuk penyebab diare. Temuan ini menjadi satu-satunya manfaat yang didukung secara ilmiah dalam penggunaan wadah tembaga.
Namun demikian, klaim lain seperti kemampuan menyembuhkan penyakit kronis, mencegah kanker, mengatur fungsi tiroid, hingga memperlambat penuaan dipastikan merupakan mitos. Peneliti dari University of Otago menegaskan bahwa tidak ada bukti medis yang mendukung klaim tersebut.
Di sisi lain, penggunaan wadah tembaga secara tidak tepat justru berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Logam tembaga dapat larut ke dalam air, terutama jika digunakan dalam kondisi tertentu. Jika kadar tembaga dalam air melebihi ambang batas aman, hal ini dapat berdampak negatif bagi tubuh.
Berdasarkan standar dari World Health Organization, kadar tembaga yang aman dalam air minum adalah di bawah 2 miligram per liter. Paparan yang melebihi batas tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan, terutama jika terjadi secara berulang dalam jangka panjang.
Efek yang mungkin timbul antara lain gangguan pencernaan seperti mual, muntah, kram perut, hingga diare. Dalam kasus yang lebih serius, paparan tembaga berlebih dapat memicu kerusakan fungsi hati serta gangguan ginjal akibat akumulasi logam berat dalam tubuh.
Untuk mengurangi risiko, para ahli menyarankan agar penggunaan wadah tembaga dilakukan secara bijak. Gelas atau botol tembaga sebaiknya hanya digunakan untuk menyimpan air putih dingin, karena suhu tinggi dapat mempercepat proses pelarutan logam ke dalam cairan.
Selain itu, wadah tembaga tidak disarankan untuk digunakan menyimpan minuman asam seperti jus buah, air lemon, kopi, soda, atau minuman beralkohol. Cairan dengan tingkat keasaman tinggi dapat memicu reaksi kimia yang meningkatkan kadar tembaga dalam minuman secara signifikan.
Badan pengawas pangan dan obat-obatan Food and Drug Administration juga menganjurkan penggunaan wadah tembaga yang memiliki lapisan pelindung di bagian dalam, seperti stainless steel atau nikel, guna mencegah kontak langsung antara cairan dan logam.
Kelompok rentan seperti anak-anak serta individu dengan gangguan metabolisme tembaga atau penyakit hati disarankan untuk menghindari penggunaan wadah ini. Hal tersebut penting untuk mencegah risiko kesehatan yang lebih serius.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tren kesehatan yang beredar di masyarakat perlu disikapi secara kritis. Masyarakat diimbau untuk selalu mengacu pada informasi berbasis ilmiah sebelum mengikuti praktik yang belum terbukti keamanannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....