Pentingnya Cek Kesehatan untuk Hidup Lebih Sehat

  • 24 Jul 2026 21:07 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, MEULABOH – Pepatah klasik "mencegah lebih baik daripada mengobati" kini kembali digaungkan secara masif oleh pemerintah. Melonjaknya beban biaya pengobatan dan tingginya klaim kesehatan menjadi alasan utama pentingnya deteksi dini. Namun, program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) yang dicanangkan pemerintah ternyata masih minim peminat, khususnya di kelompok usia produktif.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Puskesmas Johan Pahlawan, dr. Syuhada, dalam dialog interaktif Indonesia Sehat di RRI Meulaboh. Ia menyayangkan sikap sebagian besar masyarakat yang masih enggan memeriksakan kesehatan secara berkala hanya karena merasa tubuhnya masih sehat.

Diskon di toko saja diantre ibu-ibu, tapi ini pemeriksaan kesehatan gratis justru peminatnya masih sedikit. Kebiasaan masyarakat kita itu nanti kalau sudah terasa tidak enak atau sakit, baru sibuk mencari dokter, ujar dr. Syuhada.

Usia Dewasa Paling Banyak Mengabaikan Deteksi Dini

Berdasarkan data layanan Puskesmas Johan Pahlawan hingga Juli, partisipasi kelompok usia dewasa (18–59 tahun) untuk melakukan cek kesehatan berkala mencatatkan angka yang sangat rendah.

Dari total sasaran sebanyak 12.800 jiwa di Kecamatan Johan Pahlawan, jumlah warga usia produktif yang memanfaatkannya baru berkisar 496 orang. Padahal, kelompok ini merupakan kelompok masyarakat yang sangat mobile dan beraktivitas tinggi.

Bekerja di mana pun, masa tidak ada waktu satu atau setengah jam dalam setahun untuk cek kesehatan ? Saya yakin pimpinan di kantor pasti mengizinkan. Masyarakat harus sadar, sekarang penyakit tidak lagi memberikan kode atau sinyal. Tiba-tiba sedang olahraga futsal atau bulu tangkis, bisa tumbang terkena serangan jantung atau stroke karena sebelumnya tidak pernah tahu berapa tekanan darahnya, tegasnya.

dr. Syuhada menambahkan bahwa fasilitas pemeriksaan tidak hanya ada di gedung Puskesmas, melainkan juga didekatkan ke desa-desa melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), Poskesdes, dan Pustu.

Apa Saja yang Diperiksa saat Cek Kesehatan Gratis?

Banyak masyarakat yang rela mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk medical check-up saat mendaftar pekerjaan atau pencalonan pejabat. Padahal, skrining kesehatan di Puskesmas memberikan gambaran kondisi tubuh hingga 60–70% secara cuma-cuma.

Layanan skrining dasar yang disediakan di Puskesmas dan Posyandu ILP meliputi:

  1. Penelusuran Riwayat Penyakit: Mengidentifikasi faktor risiko genetik dari keluarga.
  2. Pemeriksaan Fisik Dasar: Mengukur berat badan, tinggi badan, dan lingkar perut.
  3. Pemeriksaan Tekanan Darah: Mengetahui risiko hipertensi sejak awal.
  4. Cek Gula Darah: Mendeteksi dini risiko Diabetes Melitus (DM).
  5. Skrining Fungsi Jantung dan Penyakit Tidak Menular (PTM) Lainnya.

Edukasi Gula Darah dan Posyandu ILP untuk Lansia

Sesi dialog turut diwarnai interaksi dengan pendengar radio, salah satunya Pak Kasiman dari Pantai Cermin yang menanyakan batas normal gula darah serta ketersediaan Posyandu bagi kelompok lansia.

Menanggapi pertanyaan terkait gula darah, dr. Syuhada merincikan kriteria angka normal berdasarkan kondisi pemeriksaan:

  • Gula Darah Puasa (Puasa 8 Jam): Angka normal berada di rentang 80–100 mg/dL.
  • Gula Darah 2 Jam Setelah Makan: Angka toleransi maksimal berada di kisaran 140 mg/dL.
  • Gula Darah Sewaktu (Tanpa Puasa): Batas aman di bawah 160–200 mg/dL.

Jika saat datang ke Puskesmas cek gula sewaktu angkanya mencapai 200, jangan langsung memvonis diri terkena diabetes. Bisa jadi sebelum datang sempat minum kopi manis. Biasanya dokter akan meminta pasien berpuasa malam harinya untuk dilakukan cek ulang keesokan harinya guna memastikan diagnosis, jelas dr. Syuhada.

Mengenai Posyandu Lansia, dr. Syuhada meluruskan bahwa saat ini seluruh Indonesia sedang menerapkan sistem Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer). Sistem baru ini tidak lagi memisahkan Posyandu secara khusus (seperti Posyandu Lansia saja atau Balita saja), melainkan melayani seluruh siklus hidup manusia mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, usia dewasa, hingga lansia dalam satu wadah pelayanan terpadu.

Menutup perbincangan, dr. Syuhada mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengubah pola pikir dan tidak takut melakukan cek kesehatan. Mencegah dan menangani penyakit sejak dini jauh lebih murah dan menyelamatkan kualitas hidup dibandingkan merawat penyakit yang sudah terlanjur parah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....