Tak Sekadar Kuliah, Mahasiswa UTU Bangun Ruang Bertumbuh

  • 10 Jun 2026 21:30 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Di tengah padatnya jadwal kuliah, tugas, dan tuntutan menyelesaikan studi, sebagian mahasiswa memilih melangkah lebih jauh dari sekadar mengejar nilai akademik. Sejumlah mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) membuktikan bahwa kehidupan kampus bukan hanya tentang hadir di kelas dan mengejar IPK, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar memimpin, membangun relasi, mengembangkan potensi, hingga menciptakan perubahan melalui organisasi.

Semangat itulah yang ditunjukkan oleh sejumlah mahasiswa UTU yang merintis lahirnya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Olahraga sebagai wadah pengembangan minat, prestasi, sekaligus ruang belajar kehidupan bagi mahasiswa.

Salah satu penggagasnya adalah Ihsan Maulidian, mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi yang kini menjabat sebagai Ketua Umum UKM Olahraga UTU. Meski berada di semester akhir dan tengah menyelesaikan skripsi, ia memilih tetap aktif mengembangkan organisasi kampus.

Menurut Ihsan, gagasan membentuk UKM olahraga berangkat dari keinginan menyatukan berbagai cabang olahraga yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri agar memiliki ruang pengembangan yang lebih terarah.

“Awalnya banyak cabang olahraga yang ingin berkembang dan memiliki wadah. Setelah berdiskusi dengan pihak kemahasiswaan, akhirnya muncul ide untuk menyatukan semuanya dalam satu UKM olahraga,” ujarnya saat berbincang di Program Sore Ceria Pro 2 RRI.

UKM yang berdiri sejak 2025 tersebut kini telah menaungi 17 cabang olahraga. Bagi Ihsan, keputusan aktif berorganisasi di tengah kesibukan akademik bukan perkara mudah. Ia mengaku harus menyusun prioritas dan mengatur ritme agar perkuliahan tetap berjalan tanpa mengorbankan tanggung jawab organisasi.

Ia memilih menyelesaikan target akademik lebih awal agar dapat lebih fokus menjalankan program organisasi yang sedang berkembang.

“Kalau akademik memang prioritas, tapi organisasi juga penting karena di situ kita belajar banyak hal yang tidak didapat di kelas,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Khalifah Rosi Alribani atau Oci, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital yang menjadi sekretaris panitia kegiatan UKM Olahraga.

Mahasiswa semester empat itu menilai organisasi memberi pengalaman yang jauh lebih luas dibanding sekadar mengikuti perkuliahan reguler.

Menurutnya, kemampuan berkomunikasi, menyusun administrasi, membangun relasi, hingga berinteraksi dengan berbagai kalangan menjadi pelajaran yang terbentuk melalui aktivitas organisasi.

“Kalau sedang di kelas ya fokus kuliah. Setelah selesai baru lanjut urusan organisasi. Jadi semuanya dibagi supaya tetap berjalan,” ujarnya.

Oci mengakui tidak jarang muncul rasa lelah saat tugas kuliah datang bersamaan dengan agenda organisasi. Namun, ia memilih menyelesaikan satu per satu pekerjaan agar tidak saling mengganggu.

Baginya, proses tersebut justru melatih disiplin dan kemampuan mengelola tekanan.

Lebih jauh, keduanya sepakat bahwa organisasi kampus bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan tempat mahasiswa mengasah keterampilan yang akan dibutuhkan setelah lulus.

Mulai dari kemampuan manajemen waktu, kepemimpinan, empati, komunikasi, hingga penyelesaian masalah menjadi bekal yang sulit diperoleh hanya melalui pembelajaran akademik.

Ihsan menilai mahasiswa tidak perlu takut mencoba hal baru selama tetap memahami prioritas dan tujuan yang ingin dicapai. Menurutnya, pengalaman di organisasi akan membantu mahasiswa lebih siap menghadapi dunia kerja dan kehidupan sosial di masa depan.

Menutup perbincangan, mereka mengajak mahasiswa untuk tidak menjalani masa kuliah hanya dengan pola “kuliah–pulang”, tetapi mulai membuka ruang untuk berkembang sesuai minat dan kapasitas masing-masing.

Sebab pada akhirnya, kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar, melainkan tempat membentuk karakter dan menyiapkan langkah menuju masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....