Sampah Rumah Tangga di Meulaboh Disulap Jadi Produk Bernilai Jual
- 24 Agt 2026 17:40 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Sampah rumah tangga yang selama ini kerap dianggap tidak lagi memiliki manfaat, ternyata dapat disulap menjadi produk bernilai ekonomi. Di Meulaboh, Aceh Barat, limbah plastik seperti kemasan deterjen, bungkus minyak goreng, kemasan kopi hingga plastik makanan diolah menjadi berbagai kerajinan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua GPL Meulaboh, Fajar Oza Pratama, mengatakan pengolahan limbah tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengurangi sampah sekaligus membuka peluang ekonomi melalui kreativitas masyarakat. Bersama GPL Store Meulaboh, limbah plastik diolah menjadi dompet, tas belanja, tas laundry, tempat tisu, celemek, hingga produk lainnya.
Menurut Fajar, sebagian besar bahan baku berasal dari sampah rumah tangga yang sebenarnya tersedia setiap hari. Namun, sebelum diolah, sampah harus melalui proses pemilahan sesuai jenis dan karakteristik bahannya.
“Yang pertama itu pemilahan. Sampah yang masih bisa didaur ulang disimpan dan dipisahkan sesuai jenisnya. Setelah bahan cukup, baru dilakukan proses pengolahan,” ujarnya dalam perbincangan di RRI Pro 2 Meulaboh.
Sampah yang masih mengandung minyak atau sabun terlebih dahulu dibersihkan. Setelah dicuci dan dikeringkan, bahan kemudian disesuaikan dengan pola produk yang akan dibuat. Beberapa jenis plastik dicacah dan dijahit, sementara plastik yang lebih lentur dapat dilipat serta dianyam menjadi kerajinan.
Ketua GPL Store Meulaboh, Marliana, mengatakan awalnya kelompok tersebut hanya membuat produk sederhana berupa kursi dari bahan daur ulang. Pengembangan produk kemudian semakin luas setelah sejumlah anggota mengikuti pelatihan pengolahan sampah menjadi produk kerajinan.
Dari proses tersebut, mereka mulai melihat bahwa sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Dengan keterampilan dan kreativitas, limbah justru dapat diubah menjadi barang yang memiliki nilai jual.
Produk yang dihasilkan pun memiliki harga beragam. Dompet dijual sekitar Rp80 ribu, tas belanja berkisar Rp35 ribu hingga Rp80 ribu, tempat tisu sekitar Rp60 ribu, sedangkan tas kondangan yang dikombinasikan dengan bahan kain dapat mencapai sekitar Rp150 ribu.
Pengembangan kerajinan daur ulang ini tidak hanya berorientasi pada penjualan. GPL juga telah membagikan pengetahuan kepada masyarakat melalui pelatihan, termasuk kepada kelompok ibu-ibu di sejumlah desa. Peserta diajarkan teknik dasar mengolah sampah plastik menjadi produk yang dapat digunakan sehari-hari.
Meski demikian, pengembangan produk daur ulang masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam pemasaran. Fajar menilai masih banyak masyarakat yang tertarik melihat produk, tetapi belum semuanya terdorong untuk membeli atau menggunakan barang berbahan daur ulang.
Karena itu, GPL Store terus berupaya menghadirkan desain yang lebih menarik dan fungsional. Produk juga dibuat tanpa terlalu menonjolkan merek kemasan bekas agar lebih nyaman digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Ke depan, pengembangan produk bahkan diarahkan untuk menjadi salah satu pilihan souvenir khas Aceh Barat dengan mengombinasikan unsur kerajinan daur ulang dan motif daerah.
Dari rumah, limbah memang bisa terlihat sebagai masalah kecil yang biasa saja. Namun, ketika dipilah, dibersihkan dan diberi sentuhan kreativitas, sampah yang semula hendak dibuang justru dapat berubah menjadi produk bernilai jual. Di situlah, persoalan lingkungan bertemu dengan peluang ekonomi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....