Kerajinan Daur Ulang Aceh Barat Hadapi Tantangan Pasar

  • 24 Agt 2026 17:35 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Produk kerajinan dari sampah plastik memiliki peluang untuk berkembang sebagai bagian dari ekonomi kreatif di Aceh Barat. Namun, di balik kreativitas mengubah limbah menjadi tas, dompet dan berbagai barang kebutuhan sehari-hari, pelaku kerajinan masih menghadapi tantangan dalam membangun pasar.

Ketua GPL Meulaboh, Fajar Oza Pratama, mengatakan minat masyarakat terhadap produk daur ulang sebenarnya cukup terlihat. Banyak orang tertarik melihat dan mengetahui proses pembuatannya, tetapi ketertarikan tersebut belum selalu berujung pada keputusan untuk membeli.

"Orang lebih banyak yang tertarik daripada yang membeli. Yang beli biasanya karena memang suka, mendukung UMKM, atau memang mau dipakai sehari-hari."ujarnya dalam perbincangan di RRI Pro 2 Meulaboh.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan GPL Store Meulaboh dalam mengembangkan produk hasil daur ulang sebagai usaha yang lebih serius. Salah satu persoalannya adalah persepsi masyarakat terhadap barang yang berasal dari kemasan bekas.

Karena itu, desain menjadi bagian penting dalam pengembangan produk. GPL Store berupaya mengolah bahan kemasan agar merek produk asli tidak terlalu terlihat, sehingga hasil akhirnya memiliki tampilan yang lebih netral dan nyaman digunakan.

Fajar mengatakan produk daur ulang harus mampu menawarkan lebih dari sekadar pesan kepedulian lingkungan. Produk juga harus memiliki desain menarik dan fungsi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

"Produk yang kami buat rata-rata untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi tidak sekadar jadi pajangan saja, tapi memang bisa digunakan." ujarnya dalam perbincangan di RRI Pro 2 Meulaboh.

Saat ini, GPL Store menghasilkan berbagai produk seperti dompet, tas belanja, tas laundry, tempat tisu, celemek hingga tas kondangan. Harga produk ditentukan berdasarkan jumlah bahan yang digunakan, tingkat kesulitan dan proses pengerjaan.

Salah satu produk dengan nilai jual lebih tinggi adalah tas kondangan yang dibuat dari bahan daur ulang dan dikombinasikan dengan kain. Produk tersebut dijual sekitar Rp150 ribu.

Untuk memperluas pasar, GPL Store memanfaatkan media sosial dan platform digital. Promosi dilakukan melalui WhatsApp, Instagram, TikTok hingga Shopee. Selain itu, komunitas tersebut juga menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak untuk penggunaan produk dalam berbagai kegiatan.

Fajar mengatakan kerja sama dengan instansi menjadi salah satu peluang untuk menjaga keberlanjutan kegiatan komunitas. Produk daur ulang juga mulai dimanfaatkan sebagai kebutuhan kegiatan dan bentuk dukungan terhadap UMKM lokal.

Ke depan, GPL Store memiliki gagasan untuk mengembangkan produk sebagai souvenir khas Aceh Barat. Produk daur ulang direncanakan dapat dikombinasikan dengan unsur budaya dan motif khas daerah.

"Target awalnya memang sebagai souvenir atau oleh-oleh Aceh Barat. Ke depan rencananya akan dikombinasikan dengan motif khas Aceh Barat." ujarnya dalam perbincangan di RRI Pro 2 Meulaboh.

Pengembangan souvenir dinilai dapat membuka pasar yang lebih luas, terutama bagi wisatawan dan masyarakat yang ingin membawa pulang produk khas daerah dengan nilai cerita yang berbeda.

Sampah mungkin tidak memiliki nilai ketika masih berada di tempat pembuangan. Namun, ketika dipadukan dengan kreativitas, keterampilan dan strategi pemasaran, limbah dapat berubah menjadi produk yang bernilai.

Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar bagaimana mengolah sampah menjadi sebuah karya, melainkan bagaimana membuat masyarakat percaya bahwa produk ramah lingkungan juga layak dipilih, digunakan dan dibanggakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....