Dari Sampah ke Cuan, Anak Muda Meulaboh Kembangkan Kerajinan
- 24 Agt 2026 17:35 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Di tengah persoalan sampah yang terus menjadi perhatian, sekelompok anak muda di Meulaboh, Aceh Barat, memilih melihat limbah dari sudut pandang berbeda. Bagi mereka, bungkus deterjen, kemasan kopi dan plastik bekas bukan sekadar sampah, tetapi bahan baku yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Melalui GPL Store Meulaboh, limbah rumah tangga diubah menjadi dompet, tas, tempat tisu hingga berbagai barang kebutuhan sehari-hari.
Ketua GPL Meulaboh, Fajar Oza Pratama, mengatakan keterlibatan anak muda dalam kegiatan lingkungan sebenarnya cukup besar ketika mereka diajak untuk terlibat langsung.
"Kalau kita lihat memang antusiasnya itu tinggi. Tapi memang harus kita ajak, harus sering-sering kita ajak." ujar Fajar dalam dialognya di program Sore Ceria
Menurutnya, tantangan yang dihadapi adalah masih kurangnya inisiatif sebagian generasi muda untuk memulai kegiatan secara mandiri. Faktor lingkungan, keberadaan teman untuk bergerak bersama hingga rasa percaya diri menjadi hal yang turut memengaruhi.
Fajar juga mengakui bahwa aktivitas di bidang pengelolaan sampah terkadang masih dipandang sebelah mata. Tidak jarang, orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut mendapat ejekan atau sindiran dari lingkungan sekitar.
"Kalau ada ejekan ataupun sindiran-sindiran masalah kita bergerak di bidang sampah, ya biasa saja. Jangan dimasukkan ke dalam hati." ujar Fajar dalam dialognya di program Sore Ceria
Sementara itu, Ketua GPL Store Meulaboh, Marliana, telah bergabung dalam kegiatan GPL sejak 2020. Awalnya, pengolahan limbah lebih banyak dilakukan sebagai bagian dari edukasi lingkungan.
Perjalanan tersebut kemudian berkembang setelah sejumlah anggota mengikuti pelatihan pengolahan sampah menjadi produk kerajinan. Dari sana, mereka mulai mengembangkan berbagai produk seperti tas, dompet dan tempat tisu.
Marliana mengatakan, awalnya mereka juga tidak membayangkan sampah dapat diubah menjadi berbagai barang yang memiliki nilai jual.
"Awalnya kami enggak terpikir, gimana sih sampah bisa dijadikan dompet, dijadikan tas. Setelah mengikuti pelatihan, baru tahu ternyata sampah bisa juga dibuat menjadi barang yang bisa dijual." ujar Marliana dalam dialognya di program Sore Ceria
Kegiatan tersebut juga berkembang melalui pelatihan kepada masyarakat, termasuk kelompok ibu-ibu di sejumlah desa. Peserta diperkenalkan dengan teknik dasar pengolahan limbah agar dapat dikembangkan menjadi keterampilan yang menghasilkan.
Fajar berharap semakin banyak anak muda yang terlibat dan berani menghadirkan gagasan baru dalam pengelolaan sampah. GPL juga membuka peluang kolaborasi bagi masyarakat yang memiliki ide kreatif untuk mengembangkan produk daur ulang.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar. Memilah sampah, mengumpulkan bahan yang masih bisa digunakan, lalu mengubahnya menjadi sebuah karya, dapat menjadi langkah sederhana yang memberi dampak lebih luas.
Dari tangan anak muda, sampah yang sebelumnya dipandang sebelah mata kini memiliki cerita baru: menjadi karya, membuka peluang, dan bahkan menghasilkan cuan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....