Jelang MotoGP Mandalika 2026, Tarif Hotel Senggigi Masih Organik
- 08 Agt 2026 17:36 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat — Gelaran MotoGP Mandalika 2026 mulai memberi denyut baru bagi industri pariwisata di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Meski permintaan kamar hotel diperkirakan meningkat menjelang balapan internasional tersebut, tarif penginapan di kawasan wisata Senggigi sejauh ini dinilai masih bergerak secara wajar.
General Manager Holiday Resort Lombok, I Ketut Murta Jaya Kusuma, M.Tr.Par, CHA, mengatakan belum melihat adanya lonjakan tarif kamar hotel yang signifikan menjelang MotoGP Mandalika 2026.
Menurutnya, pergerakan harga kamar di sejumlah hotel masih mengikuti mekanisme pasar secara alami. Kondisi tersebut menunjukkan pelaku industri perhotelan mulai lebih adaptif dalam membaca karakter wisatawan yang datang untuk menyaksikan MotoGP.
"Kalau tarifnya masih menggunakan tarif lama atau ada tarif baru, saya pikir sekarang saya juga sudah amati. Hotel-hotel yang ada ini harganya masih organik, jadi tidak ada harga yang signifikan," ujarnya, Sabtu 8 Agustus 2026.
Ia menilai kondisi tersebut berbeda dibandingkan penyelenggaraan MotoGP pada periode awal. Saat itu, pengunjung yang datang ke NTB bukan hanya berasal dari kalangan penonton dan penggemar balap motor, tetapi juga banyak unsur pemerintahan serta anggota legislatif dari berbagai daerah di Indonesia.
Tingginya permintaan kamar dari berbagai segmen tersebut membuat tekanan terhadap ketersediaan akomodasi meningkat. Kondisi pasar yang demikian kemudian turut memengaruhi harga kamar hotel.
"Dulu yang hadir itu bukan cuma mereka yang ingin menonton atau penggemar MotoGP. Ada juga lembaga pemerintahan dan anggota dewan dari seluruh Indonesia. Demand-nya sangat tinggi, sehingga harga waktu itu sedikit agak ugal-ugalan," katanya menegaskan.
Namun, seiring semakin seringnya NTB menjadi tuan rumah ajang MotoGP, karakter pasar dinilai mulai menemukan keseimbangan. Pelaku usaha perhotelan kini semakin memahami pola kunjungan wisatawan sehingga penyesuaian harga kamar dapat mengikuti kekuatan permintaan dan ketersediaan kamar.
Menurut I Ketut, prinsip supply and demand tetap menjadi faktor utama dalam menentukan pergerakan tarif penginapan. Ia juga melihat pola pemesanan kamar saat ini berasal dari berbagai saluran, mulai dari pemesanan langsung hingga platform digital.
"Supply and demand itu sangat berlaku. Saya lihat gabungan booking dari tamu langsung ke hotel, pesanan melalui online travel agent maupun offline travel agent menjadi kombinasi dari semua channel booking," ucapnya.
Kondisi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan tingkat hunian hotel di kawasan Senggigi dan Lombok Barat, tetapi juga mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan di NTB.
I Ketut berharap wisatawan yang datang untuk menyaksikan MotoGP tidak sekadar menginap selama dua malam kemudian meninggalkan Lombok. Momentum balapan dunia itu dinilai dapat dikembangkan menjadi kesempatan untuk menikmati destinasi wisata lainnya.
Karena itu, wisatawan maupun keluarga yang datang diharapkan dapat memperpanjang masa kunjungan dengan mengambil waktu liburan sebelum atau setelah agenda MotoGP berlangsung.
"Kita berharap ini bisa mendongkrak tingkat kunjungan dan length of stay. Jadi bukan cuma sekadar menginap selama dua malam, tetapi bisa lebih dari itu. Momentum ini juga bisa dijadikan liburan bersama keluarga dengan memperpanjang kunjungan sebelum dan sesudah event," katanya.
Efek ekonomi dari peningkatan kunjungan wisatawan juga diharapkan tidak berhenti di sektor perhotelan. Perpanjangan masa tinggal wisatawan berpotensi membuka ruang lebih besar bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk memperoleh manfaat ekonomi dari gelaran MotoGP Mandalika.
Wisatawan yang memiliki waktu lebih panjang di Lombok berpeluang membelanjakan uangnya untuk kuliner, oleh-oleh, kerajinan, transportasi, hingga berbagai aktivitas wisata lokal.
Dengan demikian, MotoGP Mandalika 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda olahraga internasional, tetapi juga momentum untuk memperkuat ekosistem pariwisata Lombok Barat dan NTB secara lebih luas.
"Harapannya, di luar usaha akomodasi, UMKM-UMKM juga bisa ikut terdongkrak," katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....