Menuju NTB Makmur Mendunia: antara Capaian dan Tantangan
- 01 Apr 2026 14:18 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Pemerintah Provinsi NTB Tahun Anggaran 2025 oleh Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, bukan sekadar agenda rutin tahunan. Momentum ini dapat dibaca sebagai penanda arah baru pembangunan Nusa Tenggara Barat dalam periode 2025–2030.
Di tengah dinamika sektor pertambangan, ekonomi NTB justru menunjukkan ketahanan yang solid. Sepanjang tahun 2025, ekonomi NTB tumbuh sebesar 3,22 persen, namun jika sektor tambang dikeluarkan, pertumbuhan melonjak hingga 8,33 persen. Angka ini menegaskan bahwa kekuatan utama ekonomi NTB kini semakin bertumpu pada sektor riil dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Secara triwulanan, tren positif ini semakin terlihat. Pada Triwulan III-2025, ekonomi NTB tumbuh 2,82 persen secara tahunan, dengan pertumbuhan sektor non-tambang mencapai 7,86 persen. Struktur ekonomi NTB juga menunjukkan fondasi yang semakin kuat, di mana sektor pertanian menyumbang sekitar 22,92 persen terhadap PDRB, disertai kontribusi signifikan dari industri pengolahan dan perdagangan. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi NTB semakin terdiversifikasi dan tidak lagi bergantung pada satu sektor dominan.
Dalam literatur pembangunan ekonomi, kondisi tersebut dikenal sebagai transformasi struktural, yaitu pergeseran sumber pertumbuhan dari sektor ekstraktif menuju sektor produktif bernilai tambah. Simon Kuznets menegaskan bahwa perekonomian yang maju adalah yang mampu memperkuat sektor sekunder dan tersier. Apa yang terjadi di NTB hari ini mencerminkan proses tersebut, terutama dengan mulai berkembangnya industri pengolahan yang memperkuat rantai nilai ekonomi daerah.
Selain itu, capaian di bidang fiskal menunjukkan arah yang semakin sehat dan berkelanjutan. Stabilitas keuangan daerah memberikan ruang yang lebih luas bagi pemerintah untuk meningkatkan kualitas belanja publik. Dalam perspektif ekonomi publik, kondisi ini mencerminkan praktik pengelolaan fiskal yang semakin matang, di mana anggaran diarahkan untuk mendorong produktivitas dan kesejahteraan masyarakat, khususnya pada sektor pendidikan, kesehatan, dan pembangunan desa.
Perbaikan juga terlihat pada indikator sosial. Tingkat kemiskinan NTB menunjukkan tren penurunan menjadi sekitar 11,38 persen, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 73,97 pada tahun 2025 dan masuk dalam kategori tinggi. Di sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka yang berada pada kisaran 3 persen mencerminkan kondisi pasar kerja yang relatif stabil dan adaptif. Data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi mulai bertransformasi menjadi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Dalam perspektif sosiologi pembangunan, Emile Durkheim menjelaskan bahwa masyarakat modern berkembang melalui keterkaitan antar sektor yang semakin kompleks. Fenomena ini semakin terlihat di NTB, di mana sektor pertanian terhubung dengan industri pengolahan, industri mendukung perdagangan, dan pariwisata menggerakkan UMKM serta ekonomi kreatif. Keterhubungan ini membentuk ekosistem ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Fokus pemerintah daerah dalam penanggulangan kemiskinan ekstrem juga memperkuat arah pembangunan yang inklusif. Berbagai program pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi desa, serta pengembangan sektor produktif menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada pemerataan.
Penguatan ketahanan pangan menjadi langkah strategis lainnya. Sektor pertanian, peternakan, dan perikanan terus didorong sebagai pilar utama ekonomi daerah. Upaya ini tidak hanya menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan dan memperkuat fondasi ekonomi lokal.
Di sisi lain, sektor pariwisata semakin menunjukkan peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi NTB. Dengan meningkatnya aktivitas pariwisata, efek pengganda yang dihasilkan semakin luas, menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, UMKM, serta industri kreatif. Pariwisata tidak hanya menjadi sumber pertumbuhan, tetapi juga sarana pemerataan ekonomi.
Secara keseluruhan, data empiris menunjukkan bahwa arah pembangunan NTB mulai bergeser dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis nilai tambah dan kualitas sumber daya manusia. Transformasi ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan daerah yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing.
Namun demikian, keberlanjutan pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan kekuatan modal sosial. Etos kerja, pendidikan, kepercayaan sosial, dan kemampuan kolaborasi menjadi faktor kunci dalam mempercepat kemajuan daerah.
Oleh karena itu, pembangunan NTB ke depan perlu bertumpu pada tiga pilar utama. Pertama, transformasi ekonomi melalui hilirisasi dan penguatan sektor produktif. Kedua, pengelolaan fiskal yang sehat dan produktif. Ketiga, pembangunan manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan modal sosial masyarakat.
Jika ketiga pilar ini berjalan secara sinergis, maka visi NTB Makmur Mendunia tidak hanya menjadi slogan, tetapi dapat diwujudkan sebagai arah pembangunan yang nyata dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, LKPJ 2025 tidak hanya mencerminkan capaian kinerja pemerintah, tetapi juga menandai perubahan arah pembangunan NTB. Dari ketahanan menuju kemandirian, dari ketergantungan menuju diversifikasi, dan dari potensi menuju kekuatan nyata.
Ikhtiar ini harus terus dilanjutkan. NTB hari ini sedang meletakkan fondasi penting bagi masa depan yang lebih maju, menuju MAKMUR MENDUNIA.
Catatan ini ditulis oleh: Prof Riduan Mas’ud
(Guru besar ekonomi syariah FEBI UIN Mataram)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....