Menggali Akar, Menjemput Dunia: Filosofi “Serambi Al-Qur’an” dan NTB Makmur Mendunia

  • 14 Jun 2026 10:09 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Di banyak sudut kampung di Nusa Tenggara Barat, pernah ada masa ketika senja tidak hanya menghadirkan keindahan langit yang memerah, tetapi juga lantunan ayat-ayat suci yang menggema dari surau ke surau. Suara anak-anak mengaji menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat, menyatu dengan denyut kehidupan sehari-hari.

Tradisi itu bukan sekadar aktivitas keagamaan. Ia adalah fondasi budaya yang membentuk karakter, menjaga harmoni sosial, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak dini. Namun, perubahan zaman menghadirkan tantangan baru. Modernisasi, digitalisasi, dan perubahan pola interaksi sosial perlahan menggeser ruang-ruang tradisional tempat nilai-nilai itu diwariskan.

Di tengah dinamika tersebut, muncul gagasan besar untuk menghidupkan kembali tradisi mengaji dan meneguhkan NTB sebagai "Serambi Al-Qur’an” Indonesia. Gagasan yang dikemukakan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, sesungguhnya tidak berhenti pada simbol, seremoni, atau panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Di baliknya tersimpan visi kebudayaan yang lebih mendalam: membangun kemajuan daerah dengan menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi pembangunan.

Masmirah Mendunia: Kemajuan yang Berakar

Dalam khazanah budaya Sasak, Samawa, dan Mbojo, istilah "Masmirah" melambangkan keindahan dan kemuliaan. Untaian emas dan permata bukan sekadar hiasan, melainkan simbol nilai yang ditempa oleh proses panjang dan penuh kesabaran.

Filosofi ini menjadi relevan ketika dipadukan dengan semangat membumikan Al-Qur’an. Sebagaimana permata terbentuk melalui tekanan dan waktu, karakter manusia unggul juga lahir melalui proses pendidikan, pembinaan moral, dan penguatan spiritual yang berkelanjutan.

Karena itu, menghidupkan kembali tradisi mengaji sejatinya adalah investasi peradaban. Yang sedang dibangun bukan hanya kemampuan membaca Al-Qur’an, melainkan kualitas manusia NTB yang jujur, tangguh, berintegritas, dan memiliki daya saing.

Inilah fondasi dari gagasan “Masmirah Mendunia.” Sebuah keyakinan bahwa masyarakat NTB dapat tampil di panggung global tanpa kehilangan jati dirinya. Kemajuan tidak harus berarti menanggalkan akar budaya dan spiritualitas. Sebaliknya, identitas lokal yang kuat justru dapat menjadi keunggulan dalam menghadapi persaingan dunia.

Serambi Al-Qur’an dan Semangat Islam Inklusif

Menjadikan NTB sebagai Serambi Al-Qur’an bukan berarti membangun ruang eksklusif yang tertutup terhadap perkembangan zaman. Sebaliknya, gagasan ini berangkat dari nilai universal Al-Qur’an sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Dalam perspektif ini, Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tetapi juga dihadirkan dalam sikap hidup yang inklusif, toleran, produktif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam mencapai puncak kejayaan ketika mampu mengintegrasikan wahyu dengan ilmu pengetahuan. Spirit itulah yang relevan untuk dihidupkan kembali di NTB.

Dari pesantren, madrasah, sekolah, hingga perguruan tinggi, harus lahir generasi yang tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman. Generasi yang memahami teknologi digital dan kecerdasan buatan, peduli terhadap lingkungan hidup, serta memiliki wawasan global dalam membangun perdamaian dan peradaban.

Dengan demikian, Serambi Al-Qur’an tidak berhenti pada aspek seremonial atau kompetisi tilawah semata. Ia harus berkembang menjadi pusat lahirnya budaya literasi, etos kerja, inovasi, dan kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai moral.

Mengapa Tradisi Mengaji Relevan dengan Kemakmuran?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: apa hubungan antara mengaji dengan kemajuan ekonomi?

Jawabannya terletak pada apa yang dalam ilmu sosial modern disebut sebagai modal spiritual (spiritual capital). Nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian sosial merupakan aset yang sangat menentukan kualitas pembangunan.

Kemajuan ekonomi tanpa fondasi moral sering kali melahirkan ketimpangan, korupsi, konflik sosial, dan kerusakan lingkungan. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki karakter kuat cenderung mampu menciptakan stabilitas sosial yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Dalam konteks NTB, korelasi tersebut dapat dilihat pada dua sektor strategis.

Pariwisata yang Ramah dan Bermartabat

NTB telah menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia. Kawasan Mandalika, Gili Matra, hingga Samota menjadi ruang perjumpaan berbagai budaya dunia.

Di tengah arus globalisasi yang kuat, karakter masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas destinasi wisata. Keramahan, kejujuran, rasa aman, dan penghormatan terhadap tamu merupakan nilai yang tidak dapat dibangun hanya melalui regulasi, tetapi tumbuh dari budaya dan karakter masyarakat.

Wisatawan masa kini tidak hanya mencari keindahan alam. Mereka juga mencari pengalaman sosial yang nyaman, aman, dan berkesan. Di sinilah nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi kekuatan budaya yang memperkuat daya saing pariwisata NTB.

Ekosistem Investasi yang Berintegritas

Investasi membutuhkan stabilitas sosial, kepastian hukum, dan kepercayaan publik. Semua itu tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur fisik, tetapi juga kualitas sumber daya manusia.

Masyarakat yang menjunjung tinggi integritas, budaya gotong royong, dan tanggung jawab sosial akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembangunan ekonomi. Begitu pula birokrasi yang bekerja dengan landasan moral yang kuat akan lebih mampu menghadirkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional.

Dalam perspektif ini, tradisi mengaji bukan hanya aktivitas spiritual, melainkan bagian dari proses membangun karakter kolektif yang menopang kemajuan daerah.

Menjemput Masa Depan NTB

Gagasan menjadikan NTB sebagai Serambi Al-Qur’an sesungguhnya merupakan upaya merumuskan kembali identitas daerah di tengah perubahan global yang begitu cepat.

NTB tidak ingin dikenal hanya karena keindahan alamnya, megahnya infrastruktur, atau besarnya investasi yang masuk. Lebih dari itu, NTB ingin dikenal sebagai daerah yang mampu memadukan kemajuan material dengan kemuliaan moral.

Ketika nilai-nilai Al-Qur’an hadir dalam keluarga, sekolah, lingkungan sosial, dunia usaha, dan tata kelola pemerintahan, maka pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghadirkan keberkahan, keadilan, dan martabat.

Pada titik itulah visi "NTB Makmur Mendunia” menemukan maknanya yang paling utuh. Sebuah cita-cita tentang daerah yang maju secara ekonomi, kuat secara budaya, dan kokoh secara spiritual. Daerah yang tidak kehilangan akar ketika menjangkau dunia, serta mampu menjadikan nilai-nilai luhur sebagai cahaya yang menerangi perjalanan menuju masa depan.

Oleh: Solihin, SH (Pengurus LPTQ NTB Bidang Humas, Publikasi, dan Dokumentasi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....