Konsultasi Publik Amdal Elang Nyaris Ricuh
- 22 Sep 2026 11:40 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Sumbawa - Konsultasi Publik Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) proyek Elang, yang dilaksanakan PT AMMAN di Sumbawa, Selasa 22 September 2026, nyaris ricuh. Ketegangan terjadi saat salah seorang aktivis menyampaikan protes di depan Ballroom La Grande Sumbawa, yang merupakan lokasi pelaksanaan kegiatan.
Aktivis tersebut datang ke lokasi untuk menyampaikan aspirasi terkait proses konsultasi publik. Namun, ketika hendak melakukan orasi, sejumlah peserta konsultasi publik sempat menghalanginya.
Situasi kemudian memanas. Aktivis dan salah peserta konsultasi sempat terlibat aksi saling dorong. Aparat kepolisian yang melakukan pengamanan langsung bergerak untuk mencegah situasi berkembang menjadi tindakan kekerasan.
Sejumlah masyarakat yang berada di lokasi juga ikut membantu aparat melerai kedua pihak. Setelah dilakukan komunikasi, petugas dan pihak terkait akhirnya mengarahkan aktivis tersebut masuk ke dalam lokasi kegiatan.
Salah seorang aktivis, M. Taufan, mengatakan kedatangannya untuk mempertanyakan keterlibatan masyarakat dalam proses konsultasi publik proyek Elang-Dodo. Ia menilai masih banyak kelompok masyarakat yang belum mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Menurut Taufan, masyarakat yang memiliki pandangan berbeda atau kontra terhadap aktivitas pertambangan, juga perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan pendapat. Dengan demikian, penyelenggara dapat mengetahui aspirasi masyarakat secara lebih luas.
“Banyak kelompok warga yang tidak diundang. Kami datang ingin mempertanyakan apa yang akan didapat warga Sumbawa,” kata Taufan.
Ia meminta proses konsultasi publik tidak hanya melibatkan kelompok masyarakat yang mendukung kegiatan pertambangan. Menurutnya, seluruh kelompok masyarakat perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk menyampaikan pandangan dan kepentingannya.
Taufan juga meminta para wakil rakyat benar-benar menyuarakan aspirasi masyarakat dalam pembahasan terkait aktivitas pertambangan di Sumbawa. Ia mengingatkan, bahwa kegiatan pertambangan tidak hanya berkaitan dengan pengambilan emas, tetapi juga berpotensi menghasilkan mineral ikutan lainnya.
Karena itu, kata dia, masyarakat perlu memperoleh informasi yang terbuka mengenai rencana kegiatan, dampak, serta manfaat yang akan diterima daerah dan masyarakat lokal.
“Kalau ada sosialisasi, harus disebarluaskan kepada masyarakat. Apalagi Sumbawa sebagai daerah penghasil, akan mendapat apa?” ujarnya.
Ia juga menyoroti keterlibatan tenaga kerja lokal dalam aktivitas pertambangan. Taufan meminta perusahaan menjelaskan secara terbuka, sejauh mana komitmen mereka dalam merekrut dan memberdayakan tenaga kerja asal Sumbawa.
Menurut dia, pelibatan masyarakat lokal jangan hanya berlangsung pada tahap awal kegiatan. Pemerintah dan perusahaan harus memastikan masyarakat setempat tetap memperoleh kesempatan ketika kegiatan pertambangan berjalan.
“Jangan sampai awal saja masyarakat lokal dilibatkan. Kemudian satu per satu tenaga dari luar didatangkan,” katanya.
Taufan juga menilai perbedaan pandangan seharusnya dapat disampaikan melalui ruang dialog sejak awal. Ia menyebut perdebatan dalam forum terbuka lebih baik daripada membiarkan persoalan berkembang hingga menimbulkan konflik di tengah masyarakat.
“Lebih baik berdebat pada awal kegiatan daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....