Lombok Jadi Tuan Rumah Konferensi Satwa Liar Dunia

  • 16 Sep 2026 21:01 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Lombok menjadi tuan rumah Global Wildlife Program (GWP) 2026 Annual Conference pada 16-20 November 2026 yang diikuti lebih dari 100 peserta dari lebih dari 20 negara.
  • Pemprov NTB menyiapkan rangkaian konservasi, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif agar konferensi tersebut memberi dampak langsung bagi masyarakat.

RRI.CO.ID, Matram - Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), akan menjadi tuan rumah Global Wildlife Program (GWP) 2026 Annual Conference pada 16-20 November 2026. Pemerintah Provinsi NTB menyiapkan dukungan agar konferensi internasional ini sekaligus menjadi ajang memperkenalkan potensi daerah.

Konferensi bertema “Connecting Countries, Sectors and Solutions for Wildlife Conservation” itu akan diikuti lebih dari 100 peserta dari lebih dari 20 negara. Peserta di antaranya government focal points, GEF Agencies, tim proyek, serta organisasi konservasi dan pembangunan.

Kegiatan tersebut digelar oleh World Bank Group bersama Kementerian Kehutanan RI dan UNDP.

Ketua Dekranasda NTB Sinta M. Iqbal menyambut baik dipilihnya Lombok sebagai lokasi konferensi. Menurutnya, momentum ini harus dimanfaatkan untuk mengenalkan NTB lebih luas, bukan hanya dari sisi konservasi, tetapi juga pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif.

“Pak Gubernur itu sangat exciting dengan pemilihannya di sini. Ini kegiatan berurutan yang kami sangat apresiasi sekali, sesuai dengan yang kita harapkan bahwa semakin banyak lagi orang yang tahu mengenai Lombok dan NTB,” kata Sinta dalam pertemuan di Ruang Kerja Pendopo Gubernur NTB, Mataram, Rabu, 16 September 2026.

Pemprov NTB akan membahas bentuk dukungan bersama perangkat daerah terkait. Dukungan itu tidak hanya menyangkut substansi konferensi, tetapi juga pengalaman peserta selama berada di Lombok.

Sejumlah agenda budaya dan ekonomi kreatif disiapkan. Mulai dari pertunjukan seni, pengenalan tradisi lokal, kunjungan sentra kerajinan, hingga pameran produk masyarakat.

Salah satu opsi yang didorong adalah pagelaran seni dan budaya di Pasar Seni Senggigi. Agenda ini diharapkan ikut menghidupkan kembali kawasan tersebut sebagai ruang ekonomi kreatif.

Pemprov NTB juga mendorong penyediaan booth produk lokal selama konferensi. Produk yang ditampilkan antara lain kerajinan, pangan olahan, mutiara, kopi, serta hasil hutan bukan kayu.

Sinta menekankan pentingnya melibatkan perempuan binaan dari kawasan sekitar hutan. Keterlibatan itu dinilai dapat menunjukkan peran perempuan dalam menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.

Konferensi GWP juga memiliki kaitan langsung dengan program konservasi di NTB. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Pulau Moyo, Kabupaten Sumbawa.

Technical Analyst Environment Unit Lingkungan Hidup Wieneandriyana menyebut pelaksanaan GWP berkaitan erat dengan konservasi sekaligus pemberdayaan masyarakat.

National Project Manager proyek CONserve, Desi, mengatakan selama sekitar empat tahun pelaksanaan proyek, masyarakat Pulau Moyo telah didorong untuk ikut menjaga kawasan.

Salah satunya melalui pembentukan Kakatua Ranger dan Kakatua Woman Ranger. Kelompok tersebut melakukan patroli dan perlindungan kawasan.

“Ini luar biasa sekali karena masyarakat sudah memiliki kesadaran untuk ikut melindungi kawasan yang ada di Pulau Moyo,” ujar Desi.

Pemberdayaan masyarakat juga dilakukan melalui pelatihan pemanduan wisata, pengelolaan penginapan, transportasi, hingga pengembangan produk lokal.

Produk masyarakat nantinya didorong memiliki akses pasar lebih luas, termasuk melalui kolaborasi dengan Bale Kita maupun ruang pamer selama konferensi.

Peserta GWP juga akan diajak mengikuti field visit. Salah satu rencana rutenya dari Senggigi menuju Sembalun untuk melihat pengelolaan konservasi di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, pusat informasi geopark, serta kawasan wisata.

GWP merupakan platform global yang mempertemukan negara dan berbagai pemangku kepentingan dalam kerja sama konservasi satwa liar. Program ini telah melibatkan 38 negara dengan dukungan pendanaan GEF sebesar US$352 juta dan lebih dari US$2 miliar pembiayaan bersama.

Pemprov NTB berharap konferensi GWP tidak berhenti sebagai agenda internasional semata. Momentum tersebut diharapkan membuka jejaring baru sekaligus membawa dampak bagi konservasi, ekonomi masyarakat, budaya, pariwisata, dan investasi di NTB.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....