Pemkab Bima Matangkan Revitalisasi Pasar Tente, 660 Pedagang Jadi Perhatian
- 16 Sep 2026 14:40 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Bima - Pemerintah Kabupaten Bima melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) terus mematangkan rencana penataan kawasan Ibu Kota Kabupaten Bima di Woha, termasuk pengembangan kawasan strategis Lewamori.
Salah satu agenda yang menjadi perhatian serius dalam pembahasan tersebut adalah rencana revitalisasi total Pasar Tente.
Penataan pasar ini dipandang sebagai bagian penting dari upaya pemerintah daerah membenahi wajah kawasan perkotaan sekaligus memperkuat pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Teknis yang dipimpin Kepala Bappeda Kabupaten Bima, Hariman di Ruang Rapat Utama Bappeda Kabupaten Bima.
Rapat dihadiri Sekretaris Bappeda, Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bappeda, serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) teknis. Di antaranya perwakilan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag), Dinas Perhubungan, Dinas PUPR, Dinas Perkim dan perangkat daerah terkait lainnya.
Dalam rapat tersebut, revitalisasi Pasar Tente tidak hanya dibahas dari aspek pembangunan fisik. Pemerintah daerah juga memperhitungkan kebutuhan pedagang, ketersediaan lahan, arus transportasi, hingga skema relokasi pedagang selama pembangunan berlangsung.
Kepala Bappeda Kabupaten Bima, Hariman, menekankan bahwa penataan Pasar Tente harus dilakukan melalui perencanaan yang matang dan terintegrasi.
Salah satu skenario yang dibahas adalah pemindahan Terminal Tente ke lokasi baru yang dinilai lebih representatif.
"Relokasi terminal tersebut diharapkan dapat memberikan ruang yang lebih memadai untuk pembangunan Pasar Tente dengan konsep pasar modern," ujar Hariman kepada RRI Bima, Rabu 16 September 2026.
Dengan demikian, penataan tidak sekadar mengganti bangunan lama, tetapi juga mengatur kembali fungsi kawasan agar aktivitas perdagangan, transportasi dan mobilitas masyarakat dapat berjalan lebih tertib.
"Kami harapkan ini jadi langkah untuk lebih baik, "katanya dalam momentum itu.
Dari sisi perdagangan, Kabid Perdagangan Disperindag memaparkan bahwa Pasar Tente saat ini menampung sekitar 660 pedagang eksisting.
Jumlah tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan kebutuhan lahan dan kapasitas pasar yang akan dibangun.
Berdasarkan pembahasan teknis, kebutuhan lahan untuk pembangunan Pasar Modern Tente diperkirakan berada pada kisaran 1,8 hingga 2,8 hektare.
| Baca juga: Sumbawa Bangun Pasar Induk tanpa Bebani APBD |
Perhitungan tersebut nantinya akan disesuaikan kembali dengan desain, kebutuhan fasilitas pendukung, akses kendaraan, ruang aktivitas pedagang maupun kebutuhan masyarakat sebagai pengguna pasar.
Pemerintah daerah juga mulai menyiapkan readiness criteria sebagai salah satu persyaratan penting untuk mendukung pengusulan pembiayaan pembangunan melalui pemerintah pusat.
Tidak kalah penting, pemerintah harus memastikan keberadaan lokasi relokasi sementara bagi ratusan pedagang.
Pasalnya, proses pembangunan pasar diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun. Selama masa konstruksi, aktivitas ekonomi pedagang tidak boleh berhenti begitu saja.
Karena itu, skema relokasi sementara harus disiapkan sejak awal agar para pedagang tetap dapat menjalankan aktivitas perdagangan sembari pembangunan pasar berlangsung.
Disperindag juga memberikan masukan terkait konsep bangunan Pasar Modern Tente. Salah satu rekomendasi yang mengemuka adalah pembangunan pasar dengan konsep satu lantai.
Konsep tersebut dinilai lebih realistis dengan mempertimbangkan pola aktivitas perdagangan masyarakat dan pengalaman pengelolaan fasilitas pasar.
| Baca juga: Pemkab Bima Perkuat Tata Kelola Pemerintahan |
Pembangunan bertingkat memang dapat menambah kapasitas ruang, namun jika tidak disesuaikan dengan karakteristik aktivitas pedagang dan pengunjung, dikhawatirkan ruang di lantai atas tidak dimanfaatkan secara optimal.
Karena itu, desain pasar nantinya diharapkan tidak hanya terlihat modern secara fisik, tetapi juga benar-benar fungsional bagi pedagang dan masyarakat.
Di sisi lain, Dinas Perhubungan diminta melakukan perhitungan secara komprehensif terkait dampak relokasi terminal dan pembangunan pasar terhadap lalu lintas.
Kajian tersebut mencakup simulasi pergerakan orang dan barang serta perkembangan lalu lintas hingga 15 tahun ke depan.
Hal itu penting karena kawasan Rabakodo hingga Tente merupakan salah satu simpul aktivitas masyarakat yang memiliki tingkat mobilitas tinggi.
Penataan kawasan juga harus mampu mengantisipasi pertumbuhan penduduk, peningkatan jumlah kendaraan, aktivitas perdagangan dan distribusi barang di masa mendatang.
Melalui koordinasi lintas OPD tersebut, Pemkab Bima berupaya memastikan rencana revitalisasi Pasar Tente tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari desain besar transformasi kawasan Ibu Kota Kabupaten Bima dan Kawasan Strategis Lewamori.
Penataan pasar, terminal, jaringan jalan dan fasilitas pendukung diharapkan dapat dilakukan dalam satu perencanaan sehingga pembangunan kawasan berjalan lebih terarah dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Agenda tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemkab Bima di bawah kepemimpinan Bupati Bima Ady Mahyudi dan Wakil Bupati Bima dr. H. Irfan Zubaidy dalam mendorong pengembangan pusat-pusat ekonomi dan infrastruktur strategis daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....