Pelabuhan Nusantara Kilo Jadi Jembatan Ekonomi Dompu
- 08 Sep 2026 10:39 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu — Pelabuhan Nusantara Kilo disiapkan menjadi pintu keluar komoditas Dompu ke pasar antarpulau. Keberadaannya diharapkan mengurangi ketergantungan distribusi jagung terhadap Pelabuhan Bima dan Sumbawa sekaligus menekan biaya logistik.
Bupati Dompu Bambang Firdaus, Senin 7 September 2026, melakukan ground breaking pemasangan tiang pancang jeti dan sandaran kapal.
Berada di pesisir Laut Flores, fasilitas tersebut dirancang melayani kapal kargo berukuran besar. Dengan demikian, hasil pertanian dapat dikirim langsung dari daerah tanpa harus melalui wilayah lain.
Selama ini, jagung dan sejumlah hasil produksi lainnya dikirim melalui Bima dan Sumbawa.
Pelabuhan Kempo belum menjadi alternatif utama karena kapasitasnya terbatas untuk melayani kapal besar.
Bambang Firdaus mengatakan, posisi geografis Kilo sangat strategis sebagai penghubung antarpulau.
“Pelabuhan Kilo menjadi jembatan konektivitas antara daerah,” katanyaz saat ground breaking, Senin, 7 September 2025, kemarin.
Menurutnya, akses tersebut akan memperpendek jarak distribusi, menghemat waktu dan biaya angkutan. Efisiensi itu diharapkan meningkatkan daya saing hasil pertanian sekaligus pendapatan masyarakat.
Gagasan pembangunan telah muncul sejak sekitar 2015, pada era Bupati Bambang M. Yasin. Di tahap ini, dimulai dengan pembebasan lahan.
Namun, pelaksanaannya menghadapi sejumlah kendala, termasuk pandemi Covid-19 dan efisiensi anggaran.
Dalam proses pengadaan material, tiang pancang yang dipesan dari Surabaya sempat mengalami kendala setelah kapal tongkang pengangkutnya tenggelam di perairan Madura.
Material kemudian dipesan kembali dan tiba di lokasi pada 17 Agustus 2026.
Kini pemasangan mulai dilakukan sebagai bagian dari pekerjaan jeti dan sandaran kapal.
Fasilitas tersebut dibangun di atas lahan sekitar 30 hektare dengan anggaran Rp85,111 miliar. Proyek ini diproyeksikan menjadi pelabuhan kargo terbesar di Pulau Sumbawa.
Hingga saat ini, progres fisiknya mencapai 57,736 persen, dengan sisa waktu pelaksanaan 116 hari kerja.
Pemerintah daerah berharap penyelesaian proyek sesuai target dapat membuka jalur distribusi baru bagi hasil pertanian, memperkuat perdagangan antarpulau, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....