DLH Lombok Barat Tambah Armada Sampah Hadapi Beban 300 Ton Harian
- 08 Sep 2026 20:06 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Pemerintah Kabupaten Lombok Barat akan menambah armada pengangkutan sampah secara bertahap melalui APBD 2026 untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah.
- Kebutuhan pengelolaan sampah di Lombok Barat mencapai sekitar 300 ton per hari, memerlukan peningkatan sistem transportasi yang signifikan.
- Penambahan armada merupakan persiapan untuk implementasi teknologi waste to energy yang akan mengelola sampah menjadi sumber energi alternatif.
RRI.CO.ID, Lombok Barat — Pemerintah Kabupaten Lombok Barat mulai memperkuat sistem pengangkutan sampah dengan menambah armada operasional pada 2026. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengejar kebutuhan pengelolaan sampah yang mencapai sekitar 300 ton per hari sekaligus mempersiapkan daerah menghadapi penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat, M. Busyairi, mengatakan penambahan armada dilakukan secara bertahap melalui APBD 2026, termasuk dengan mengalihkan sejumlah anggaran yang sebelumnya ditunda maupun dibatalkan ke sektor persampahan.
“Untuk APBD murni 2026, kita sudah menganggarkan satu unit kendaraan. Kemudian pada anggaran perubahan, ada beberapa kegiatan yang ditunda dan dibatalkan sehingga anggarannya dialihkan untuk pengadaan tiga unit dump truck,” ujar Busyairi. Selasa 8 September 2026.
Tidak hanya dump truck, DLH Lombok Barat juga mengalokasikan pengadaan tiga unit armroll dan tiga unit mobil pikap. Penambahan tersebut diharapkan mampu memperkuat pelayanan pengangkutan sekaligus menjadi bagian dari peremajaan armada yang selama ini sebagian mengalami kerusakan.
Busyairi mengungkapkan, saat ini DLH Lombok Barat memiliki sekitar 25 armada, termasuk mobil pikap. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 17 unit yang masih dalam kondisi baik dan operasional, sedangkan sisanya mengalami kerusakan.
“Armada kita sekarang sekitar 25 unit termasuk mobil pikap. Yang kondisinya sehat dan operasional sekitar 17 unit, sisanya sudah mengalami kerusakan,” katanya menegaskan.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pemerintah daerah harus mengambil langkah peremajaan. Pemeliharaan kendaraan yang sudah tua dan rusak dinilai berpotensi membutuhkan biaya lebih besar dibandingkan melakukan pengadaan armada baru secara bertahap.
Selain kendaraan pengangkut, DLH juga menyiapkan pengadaan sejumlah kontainer sampah pada APBD Perubahan 2026. Pengadaan tersebut menjadi perhatian karena kontainer merupakan salah satu bagian armada yang cukup banyak mengalami kerusakan.
“Tujuan pengadaan ini salah satunya untuk peremajaan. Daripada armada yang rusak terus dipelihara dan biaya pemeliharaannya semakin besar, lebih baik secara bertahap kita ganti,” ucapnya.
Di sisi lain, kebutuhan penambahan armada semakin mendesak jika melihat volume sampah yang harus ditangani Lombok Barat. Dengan produksi sampah sekitar 300 ton setiap hari, kapasitas angkut kendaraan menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan sampah dapat dibawa ke tempat pemrosesan akhir secara optimal.
Busyairi menjelaskan, satu dump truck secara ideal mampu membawa sekitar 3 hingga 3,5 ton sampah dalam satu kali ritase. Dengan perhitungan tersebut, kebutuhan armada sangat bergantung pada jumlah perjalanan pengangkutan dalam sehari.
“Kalau 300 ton per hari dan satu dump truck mampu mengangkut sekitar tiga sampai tiga setengah ton dalam satu ritase, idealnya kita membutuhkan sekitar 100 armada kalau satu kendaraan hanya satu kali jalan,” jelasnya.
Namun, kebutuhan tersebut dapat ditekan apabila satu kendaraan mampu melakukan dua kali perjalanan dalam sehari. Dalam skenario itu, kebutuhan armada berada di kisaran 50 unit.
Karena keterbatasan kemampuan anggaran, pemenuhan kebutuhan armada tidak dilakukan sekaligus. DLH Lombok Barat memilih strategi pengadaan secara bertahap sembari memperbaiki armada yang masih layak digunakan.
Penambahan armada tersebut juga diproyeksikan untuk mendukung kesiapan Lombok Barat apabila program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy dapat diterapkan di daerah tersebut.
Busyairi menyebut, peluang itu terbuka seiring adanya ketertarikan investor dari luar daerah untuk mengembangkan pengelolaan sampah menjadi energi di Pulau Lombok.
“Harapannya, dengan pengadaan dump truck dan penambahan armada ini kita bisa mempersiapkan kebutuhan dua tahun ke depan, terutama jika program PSEL atau waste to energy benar-benar diberlakukan,” katanya.
Ia berharap Lombok Barat dapat menjadi salah satu daerah yang masuk dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi tersebut. Selain menyelesaikan persoalan sampah, teknologi itu dinilai dapat membuka pendekatan baru dalam pengelolaan limbah agar tidak hanya berakhir di tempat pembuangan.
“Banyak investor dari luar yang ingin berinvestasi di Lombok untuk mengelola sampah menjadi energi. Mudah-mudahan Lombok Barat bisa masuk dalam proyek waste to energy tersebut,” katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....