Empat Tokoh Penting Suku Sasak, Meneduhkan Pra Kongres
- 05 Sep 2026 20:25 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Empat Tokoh Penting Suku Sasak, Pemban MAS HL. Azhar, Pelingsir MAS HL. Srinata, Figur penting HL. Gita Aryadi, beserta Pengraksa Agung DR. HL. Sajim Sastrawan dan Pengurus terdepan MAS, Gumi Pair Bat, Timuk, Daya, Lauq, kehadirannya menjadi pemicu semangat dan keteduhan pada pelaksanaan Pra Kongres Bangsa Sasak Pertama 2026 di Gedung Sangkareang Kantor Gubernur, Sabtu 5 September 2026.
Pra Kongres tersebut dengan thema Penegasan Bahasa Sasak sebagai Media Pemersatu Suku Sasak ini, bertujuan supaya terarah dan tercapai substansi secara teoritis dan praksis sehingga capaian capaian produk termasuk outcomes dari kongres nanti dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga pra kongres ini menjadi elemen dasar dan prinsip dalam menyukseskan Kongres Bahasa Sasak pada bulan Oktober 2026.
Pengraksa Agung MAS DR. HL. Sajim Sastrawan dalam pengantarnya, sangat menyentuh tentang kekhawatiran beliau terhadap Eksistensi Bahasa Sasak, jika saja Bangsa Sasak ini, tidak peduli dengan bahasanya, maka akan tergerus dan hilang ditelan zaman. Kekhawatiran HL. Sajim Sasatrawan sangat berdasar, karena posisi Bahasa Sasak sekarang ini, berada di posisi buncit, posisi ke 10, dengan Bahasa Daerah lainnya di tanah air, sebab penutur tercatat hanya baru 2,7 juta orang.
“Posisi ini harus kita luruskan, kemungkinan ada kekeliruan dalam menentukan penutur Bahasa Sasak, saya mau ajak Kepala BPS untuk membahasnya, agar Unesco dapat mengubah catatan sejarahnya tentang Penutur Bahasa Sasak,” jelas Lalu Sajim Sastrawan dengan menambahkan yang dicatat dan dihitung adalah warga disini “Yang dihitung hanya di Lombok dan Sumbawa, tetapi di Bali dan Daerah Transmigran lainnya di Sulawesi, Kalimantan, banyak warga yang menggunakan Bahasa Sasaq,” tambah Miq Sajim.
Kekhawatiran lainnya, karena terjadinya degradasi dalam penggunaan Bahasa Sasak, terutama dalam Bahasa keseharian yang banyak ditinggalkan karena pengaruh dunia digital dan akulturasi budaya.
"Sekarang ini, sudah jarang kita dengar, sebutan Niniq Mamiq, Bije, Bai Baloq, justru banyak menggunakan bahasa luar, tanpa memerhatikan kelokalan, yang dekat secara emosional, banyak kita dengar, panggilan Abi, Ukhti, Mami, Papa, Ummi," sindir Miq Sajim.
Ia menambahkan sebutan panggilan Bije, Nune, Dende, Inges, hampir pundah dalam sebutan keseharian. “Ini menjadi kekhawatiran kami sebagai Orang Tua, sudah terjadi degradasi," tambah Miq Sajim.
Hal hal substansi seperti kasus tersebut, menjadi bahasan utama nantinya di kongres, bahkan mampu memperoleh dan mengaluarkan rekomendasi yang menjadi pedoman dalam menjaga kelestarian Bahasa Sasak.
Pernyataan Miq Sajim ini berlinier dengan penegasan HL. Gita Aryadi yang sebagai garis besar, menafsirkan lagu Anakku Mas Mirah, menegaskan Kongres Bahasa Sasak Internasional Pertama harus melampirkan produk yang monumental seperti munculnya Keputusan bahwa Bahasa Sasak menjadi kurikulum pembelajaran di Sekolah.
"Jangan sampai bahas lain menjadi Interlokal seperti Bahasa Inggris, tetapi Bahasa Sasaq ditinggalkan, kearifan local juga harus dikedepankan,“ ujar Miq Gita sebagai pembicara Kunci dalam Pra Kongres itu.
Hal ini juga menjadi kekhawatiran MAS. Pengrakse Agung Lalu Sajim Sastrawan juga mendesak kongres dapat menghasilkan Langkah realistis supaya Bahasa Sasaq menjadi eksis dan bisa go internasional sebagai mana visi Gubernur NTB Makmur mendunia.
Emas dan Mirah
Pembicara kunci HL.Gita Aryadi memutar kembali nilai nostalgia dengan menafsirkan bait atau syair lagu Emas Mirah, secara filosofis Emas Mirah merupakan terah dari Bangsa Sasak, yang mempersonafikasi tentang panggilan mulia terhadap dua jenis kelamin laki laki dan Perempuan. Panggilan Mulia dan kasih saying ini, adalah proses akulturasi terhadap prilaku Bangsa Sasak, disatu sisi harus meninggalkan daerahnya, dilain pihak harus menjaga Gumi Fairnya, sehingga muncullah generasi akulturasi bangsa Sasak yang berada di Luar Daerah maupun Luar Negeri.
"Sosok seperti inilah yang harus ditampilkan pada Kongres nanti,” ucapny
Ia mencontohkan penjaga gawang naturlisasi. Ibunya Italia, bapaknya Lombok Tengah. Mereka inilah yang harus ditampilkan yang menjadi simbol bahwa Bangsa Sasak sudah go internasional. Mirah yang ditiup angin lalu berpindah tempat adalah proses memperkenalkan dan mengembangkan budaya Sasaq bersifat Inklusif.
"Ini Langkah strategis melestarikan Bahasa Sasaq,” tegas Miq Gita Penjabat Gubernur pasca Gubernur NTB DR Zulkflimansyah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....