Menjelang Kongres Internasional I Bahasa Sasak 2026: Para Tokoh & Pakar Sasak Hadir

  • 20 Agt 2026 06:55 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram — Persiapan Sangkep (Kongres) Internasional I Bahasa Sasak terus dipacu. Majelis Adat Sasak (MAS) bersama panitia dan berbagai unsur masyarakat dari sejumlah paer Sasak mulai mematangkan arah forum yang dijadwalkan berlangsung pada 28–30 Oktober 2026.

Konsolidasi terbaru digelar di Rembiga, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu 19 Agustus 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mengecek kesiapan kepanitiaan, menyusun agenda, menghimpun masukan tokoh adat dan akademisi, sekaligus mempertajam substansi yang akan dibawa dalam kongres.

Keterlibatan berbagai unsur dinilai penting karena masa depan bahasa Sasak tidak hanya menjadi tanggung jawab kalangan budayawan atau lembaga adat. Akademisi, pakar bahasa, pemerhati budaya, komunitas, sekolah, pemerintah, hingga masyarakat umum dipandang memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah tersebut.

Ketua Panitia Kongres Internasional I Bahasa Sasak, Dr. Khairil Anwar, M.Pd., mengatakan konsolidasi dilakukan agar kongres tidak berakhir sebagai forum seremonial tanpa tindak lanjut.

“Yang kita dorong adalah hasil yang nyata. Sangkep ini harus melahirkan kesepakatan, rekomendasi, program prioritas, sekaligus peta jalan yang bisa menjadi acuan bersama untuk bahasa dan sastra Sasak,” katanya menegaskan.

Menurut Khairil, pembahasan mengenai bahasa Sasak harus ditempatkan dalam konteks perubahan zaman. Bahasa daerah bukan sekadar peninggalan budaya yang dijaga keberadaannya, melainkan identitas yang harus tetap hidup dan digunakan dalam kehidupan masyarakat.

Bahasa Sasak juga dinilai memiliki peran penting dalam menjaga identitas sekaligus memperkuat ikatan sosial masyarakat Sasak. Karena itu, keberadaannya perlu dijaga agar tidak semakin jauh dari generasi muda di tengah kuatnya penggunaan bahasa Indonesia maupun bahasa asing.

“Bahasa Sasak jangan hanya dipertahankan sebagai warisan. Kita harus memastikan bahasa ini tetap digunakan, diwariskan, dikembangkan, dan mampu menjawab kebutuhan generasi sekarang maupun generasi berikutnya,” ucapnya.

Dalam persiapan kongres, panitia telah memetakan empat bidang utama yang akan menjadi perhatian. Keempatnya meliputi digitalisasi, pembinaan dan pengajaran, pelestarian serta pelindungan, kemudian pengembangan tata bahasa, aksara, sastra, dan tata istilah.

Transformasi digital menjadi salah satu agenda penting karena ruang penggunaan bahasa terus bergeser mengikuti perkembangan teknologi.

Dokumentasi manuskrip, naskah, kamus, cerita rakyat, hingga karya sastra Sasak akan menjadi bagian dari pembahasan. Tidak berhenti pada digitalisasi arsip, kongres juga diarahkan membicarakan pengembangan korpus bahasa, platform pembelajaran, dokumentasi audio-visual, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial atau AI.

Langkah tersebut diharapkan membuat bahasa Sasak memiliki ruang hidup baru di dunia digital, sekaligus memudahkan generasi muda mengakses, mempelajari, dan menggunakan bahasa serta sastra daerahnya.

Agenda kedua berkaitan dengan pembinaan dan pengajaran. Penguatan pembelajaran di sekolah, penyusunan bahan ajar, peningkatan kapasitas guru, penggunaan bahasa Sasak di lingkungan keluarga, serta pembinaan komunitas menjadi sejumlah isu yang tengah disiapkan.

Gagasan seperti “Gerakan Sasak di Sekolah” dan “Kelas Bahasa Sasak untuk Generasi Muda” juga menjadi alternatif program yang dapat dikembangkan melalui jalur pendidikan maupun kegiatan masyarakat.

“Pembinaan tidak boleh hanya diarahkan kepada siswa. Guru, keluarga, komunitas, budayawan, tokoh masyarakat sampai masyarakat luas harus ikut menjadi bagian dari gerakan ini,” ujar Khairil, yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Majelis Adat Sasak.

Sementara itu, aspek pelestarian dan pelindungan diarahkan untuk menjawab persoalan semakin berubahnya pola komunikasi masyarakat.

Dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing serta kecenderungan berkurangnya penggunaan bahasa Sasak di kalangan generasi muda menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Kondisi tersebut diperberat dengan semakin terbatasnya penutur dan pewaris sejumlah ragam bahasa serta tradisi sastra Sasak.

Karena itu, langkah pelestarian akan diarahkan pada pemetaan kondisi bahasa, pendataan penutur, dokumentasi, hingga revitalisasi berbasis komunitas.

Penguatan keluarga dan lembaga adat juga dipandang penting. Bersamaan dengan itu, kebijakan pelindungan perlu dibangun agar keberlanjutan bahasa Sasak tidak bertumpu pada satu institusi atau kelompok tertentu.

Bidang keempat menyentuh fondasi keilmuan bahasa Sasak. Pengembangan tata bahasa, aksara, sastra, serta tata istilah diproyeksikan untuk menghasilkan rujukan yang lebih kuat dan mampu mengikuti perkembangan kebutuhan masyarakat.

Keempat fokus tersebut tidak berdiri sendiri. Digitalisasi membuka ruang pemanfaatan bahasa di tengah perkembangan teknologi, pembinaan memastikan proses pewarisan berlangsung, pelindungan menjaga keberadaan penutur dan warisan budaya, sedangkan pengembangan tata bahasa dan sastra memperkuat fondasi keilmuannya.

Dengan kerangka tersebut, Sangkep Internasional I Bahasa Sasak diharapkan mampu menghasilkan agenda yang dapat diterapkan setelah forum berakhir.

Targetnya bukan sekadar menghasilkan rumusan diskusi, tetapi juga peta jalan digitalisasi, model pembinaan dan pengajaran, strategi pelestarian, serta rekomendasi pengembangan bahasa dan sastra Sasak.

Konsolidasi yang melibatkan berbagai paer pun menjadi bagian dari upaya menyatukan pandangan sebelum kongres digelar. Panitia ingin memastikan seluruh unsur yang berkepentingan memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan dan ikut menentukan arah masa depan bahasa Sasak.

“Intinya, kita ingin bahasa Sasak tetap hidup di tengah perubahan zaman. Bahasa ini harus terus digunakan, diwariskan dan dikembangkan, bukan hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....