Seminar HIMAILING 2026 Ungkap Krisis Bumi, Generasi Muda Ditantang Bertindak

  • 30 Agt 2026 15:38 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Krisis lingkungan tidak cukup hanya dibahas melalui teori dan diskusi di ruang seminar. Generasi muda dituntut mengambil peran nyata untuk menjaga bumi melalui aksi konkret yang dapat memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat.

Semangat tersebut mengemuka dalam Seminar Hybrid Nasional bertajuk “Earth in Crisis, Youth in Action” yang digelar di Aula FKIP Gedung D Universitas Mataram, Minggu 30 Agustus 2026.

Kegiatan yang menjadi bagian dari program HIMAILING 2026 itu menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan dan bidang lingkungan.

Mereka adalah Rian Saputra selaku Manajer Kampanye dan Komunikasi Media, Sirajudin, S.Hut., M.Eng. sebagai Penyuluh Kehutanan Ahli Madya Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, serta Astrini Widiyanti, S.Hut., M.Si., Dosen Ilmu Lingkungan FMIPA Universitas Mataram.

Ketua Panitia Seminar HIMAILING 2026, Ammar Fathin, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ruang untuk memperluas wawasan, tetapi juga menjadi ajakan bagi peserta agar mengambil bagian dalam memperbaiki kondisi lingkungan.

Ia menyebutkan, sebanyak 150 peserta mengikuti seminar tersebut. Mereka terdiri atas mahasiswa baru Ilmu Lingkungan angkatan 2026, BKBPI, dosen, tamu undangan serta masyarakat umum.

“Kami ingin mengajak seluruh peserta untuk tidak hanya memahami persoalan lingkungan, tetapi juga melakukan kerja nyata untuk memperbaiki keadaan lingkungan saat ini,” ujarnya.

Ammar menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber yang telah hadir untuk berbagi ilmu, pengalaman dan pandangan kepada peserta seminar.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada PLN Indonesia Power Unit PLTU Jeranjang, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB serta Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat atas dukungan yang diberikan dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Selain itu, ia memberikan penghargaan kepada seluruh pihak dan panitia yang telah meluangkan waktu, tenaga serta pikiran hingga Seminar Hybrid Nasional tersebut dapat terlaksana.

Menurutnya, persoalan lingkungan harus menjadi perhatian bersama karena setiap tindakan manusia terhadap bumi pada akhirnya akan memberikan dampak kembali kepada kehidupan manusia.

“Apapun yang kita lakukan terhadap bumi, dampaknya juga akan kembali kepada kita. Karena itu, kami berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan sekaligus membangkitkan semangat generasi muda untuk memperbaiki lingkungan,” katanya menegaskan.

Diskusi mengenai krisis lingkungan tersebut juga akan dilanjutkan dengan kegiatan nyata. HIMAILING telah merencanakan aksi konservasi berupa penanaman pohon yang dijadwalkan berlangsung pada 12 September 2026 di kawasan Bendungan Meninting, Desa Bukit Tinggi.

“Kami mengajak seluruh peserta untuk ikut dalam kegiatan nyata memperbaiki lingkungan melalui aksi konservasi dan penanaman pohon,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Lingkungan 2026, Muhammad Atillah Rahman, berharap seminar tersebut menjadi ruang terbuka bagi peserta untuk memperluas cara pandang terhadap berbagai persoalan lingkungan.

Menurutnya, pertukaran gagasan menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman yang lebih luas, terutama bagi generasi muda yang akan menghadapi berbagai tantangan lingkungan di masa mendatang.

“Kami berharap teman-teman dapat menjadikan kegiatan ini sebagai tempat untuk bertukar gagasan sehingga memiliki sudut pandang baru dan pemahaman yang lebih luas mengenai apa yang sedang terjadi pada lingkungan kita,” ujarnya.

Ia menekankan, ilmu dan pengetahuan yang diperoleh dalam seminar tidak seharusnya berhenti ketika kegiatan berakhir.

Peserta diharapkan mampu membawa pemahaman tersebut ke tengah masyarakat dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

“Harapan kami, materi yang diperoleh tidak hanya didengar di ruangan seminar, tetapi bisa diaplikasikan di tengah masyarakat maupun lingkungan sekitar teman-teman sendiri,” katanya.

Muhammad Atillah juga berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan baik dan memperoleh pengetahuan yang bermanfaat untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.

Hal senada disampaikan Pembina sekaligus Sekretaris Program Studi Ilmu Lingkungan, Isrowati, S.Pd., M.Sc..

Ia menjelaskan bahwa Seminar Hybrid Nasional merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan melalui Program Studi Ilmu Lingkungan bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Lingkungan atau HIMAILING.

Menurut Isrowati, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian akademisi dan mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang muncul akibat krisis lingkungan.

“Melalui kegiatan ini, kita berikhtiar bersama karena untuk menghadapi dan menanggulangi persoalan lingkungan diperlukan diskusi sekaligus aksi nyata,” ujarnya.

Ia mengatakan, seminar tersebut menjadi tahap awal untuk memperkaya pemahaman peserta melalui teori, materi dan berbagai masukan dari narasumber.

Berbagai pengetahuan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret dalam menjaga lingkungan.

“Hari ini kita berdiskusi dan memperkuat pemahaman. Ke depannya, insya Allah, kita akan melanjutkannya dengan aksi nyata. Jadi teori yang kita dapatkan hari ini harus bisa dipraktikkan,” katanya menegaskan.

Isrowati pun mengajak seluruh peserta untuk aktif dalam sesi diskusi dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertukar pikiran mengenai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kekuatan penting dalam menghadapi tantangan perubahan lingkungan yang semakin kompleks.

Ia berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan kesadaran sekaligus keberanian untuk mengambil langkah nyata menjaga bumi.

“Semoga teman-teman mengikuti kegiatan ini dengan baik, aktif berdiskusi dan nantinya juga berpartisipasi dalam aksi menjaga lingkungan agar kita dapat menciptakan kondisi yang lebih baik,” ucapnya.

Melalui tema “Earth in Crisis, Youth in Action”, Seminar Hybrid Nasional HIMAILING 2026 menjadi pengingat bahwa krisis bumi bukan hanya persoalan pemerintah atau lembaga tertentu.

Persoalan lingkungan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda yang memiliki energi, gagasan dan peran besar dalam menentukan masa depan bumi.

Dari ruang diskusi menuju aksi konservasi, peserta seminar diharapkan tidak hanya pulang membawa teori, tetapi juga kesadaran bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana dan dilakukan secara bersama-sama.

Isrowati berharap rangkaian kegiatan tersebut menjadi awal dari gerakan nyata yang terus berkembang di tengah masyarakat.

“Menjaga lingkungan bukan hanya tugas satu pihak. Semua harus mengambil peran dan memulai dari lingkungan terdekat masing-masing,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....