NTB Salurkan 3,4 Juta Liter Air Bersih ke 9 Daerah Terdampak Kekeringan

  • 15 Sep 2026 10:05 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Pemerintah telah menyalurkan 3,4 juta liter air bersih ke 9 kabupaten/kota di NTB yang terdampak kekeringan.
  • Distribusi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi 263.310 jiwa atau 84.837 KK terdampak.

RRI.CO.ID, Mataram - Krisis air bersih akibat kekeringan di Nusa Tenggara Barat (NTB) terus meluas. Hingga 14 September 2026, BPBD NTB mencatat 263.310 jiwa atau 84.837 kepala keluarga terdampak kekeringan di 9 kabupaten/kota.

Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, mengatakan distribusi air bersih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di wilayah yang sumber airnya mulai mengering.

"Distribusi air bersih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak kekeringan," kata Sadimin, Selasa, 15 September 2026.

Berdasarkan data BPBD NTB per 14 September 2026, total air bersih yang telah didistribusikan mencapai 3.405.400 liter. Rinciannya tersebar di sejumlah wilayah terdampak.

Distribusi terbesar tercatat di Sumbawa Barat sebanyak 1.350.000 liter. Selanjutnya Kabupaten Sumbawa 640.000 liter, Lombok Tengah 460.000 liter, dan Lombok Timur 400.000 liter.

Kemudian Kabupaten Bima 320.000 liter, Kota Bima 320.000 liter, Dompu 340.000 liter, Lombok Utara 200.000 liter, serta Lombok Barat 55.400 liter.

Dari sebaran dampak, Kabupaten Sumbawa tercatat memiliki jumlah warga terdampak terbesar, yakni 42.728 jiwa dari 10.703 KK di 25 desa. Disusul Lombok Timur sebanyak 92.950 jiwa dari 33.910 KK di 41 desa dan Bima sebanyak 28.894 jiwa dari 9.222 KK di 43 desa.

Sementara itu, Lombok Utara mencatat 17.855 jiwa terdampak dari 5.515 KK di 18 desa. Lombok Tengah 33.695 jiwa dari 11.232 KK di 45 desa, Dompu 8.940 jiwa dari 2.235 KK di 10 desa, Lombok Barat 22.030 jiwa dari 7.474 KK di 21 desa, Sumbawa Barat 6.765 jiwa dari 1.680 KK di 8 desa, dan Kota Bima 3.287 jiwa dari 1.129 KK di 9 desa.

Sadimin mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Selain krisis air bersih, kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....