Mensyukuri Kemerdekaan dengan Ketaatan kepada Allah
- 19 Agt 2026 10:50 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Setiap kali Agustus menyapa bangsa Indonesia, ruang-ruang kehidupan kembali dipenuhi semarak warna merah putih. Bendera berkibar di berbagai penjuru, masyarakat menggelar beragam kegiatan, dan semangat kebangsaan tumbuh dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kemerdekaan merupakan nikmat yang sangat agung yang patut disyukuri kepada Allah SWT. Dengan kemerdekaan, bangsa Indonesia memiliki kesempatan untuk menjalankan ibadah dengan tenang, bersujud tanpa rasa takut, serta membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan.
Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam Kabupaten Lombok Tengah, Ustadz Syamsul Hakim, S.Sos., M.Sy., dalam acara Renungan Senja di RRI Mataram, Rabu 19 Agustus 2026.
Menurutnya, di tengah kemeriahan peringatan kemerdekaan, terdapat pertanyaan penting yang perlu direnungkan bersama. Sudahkah cara memperingati kemerdekaan benar-benar menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, atau tanpa disadari sebagian perayaan justru mengarah pada perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surat Ibrahim ayat 7 yang menegaskan bahwa Allah akan menambah nikmat kepada hamba-Nya yang bersyukur, sementara pengingkaran terhadap nikmat Allah akan mendatangkan azab yang pedih.
Mensyukuri kemerdekaan, kata Syamsul Hakim, tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera di depan rumah atau menggelar berbagai hiburan secara meriah. Rasa syukur harus diwujudkan dengan menggunakan nikmat kemerdekaan untuk menaati Sang Pemberi Nikmat.
“Bagaimana mungkin kita mengaku bersyukur, jika dalam perayaan justru melakukan berbagai hal yang melanggar aturan Allah,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar semangat pesta rakyat tidak menjadi alasan untuk mengesampingkan nilai-nilai agama dan akhlak. Berbagai kegiatan yang berpotensi melalaikan kewajiban, hiburan hingga larut malam yang membuat sebagian orang meninggalkan ibadah, hingga aktivitas yang mengarah pada perjudian dan konsumsi minuman keras, menurutnya, harus dihindari.
Padahal, di tengah kemeriahan perayaan kemerdekaan, masih banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian dan kepedulian. Masih ada saudara-saudara yang menghadapi kesulitan ekonomi dan membutuhkan uluran tangan.
“Semangat kemerdekaan seharusnya juga menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial dan membantu sesama,” katanya.
Syamsul Hakim menegaskan, kemerdekaan Indonesia tidak diraih dengan mudah. Nikmat besar tersebut dibayar dengan pengorbanan harta, tenaga, bahkan jiwa dan raga para pejuang terdahulu. Para ulama dan pejuang bangsa juga turut mengambil peran dalam perjuangan mempertahankan tanah air dengan keyakinan, doa, serta harapan akan pertolongan dan rida Allah SWT.
Mereka berjuang agar generasi setelahnya dapat hidup lebih baik, bebas menjalankan keyakinan, serta membangun bangsa dalam naungan nilai-nilai iman dan ketakwaan.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengutip Surat An-Nahl ayat 112 sebagai pengingat agar manusia tidak mengingkari nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat." (QS. An-Nahl: 112).
Menurut Syamsul Hakim, ayat tersebut memberikan pelajaran penting bagi bangsa Indonesia agar tidak menyia-nyiakan nikmat kemerdekaan. Kondisi aman dan kesempatan untuk hidup dalam kebebasan merupakan nikmat besar yang harus dijaga dengan ketaatan dan rasa syukur.
“Jangan sampai kita menikmati kemerdekaan, keamanan dan berbagai nikmat yang Allah berikan, tetapi justru membalasnya dengan kemaksiatan dan pengingkaran,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mengubah cara mengekspresikan cinta tanah air dengan mengisi peringatan kemerdekaan melalui kegiatan yang membawa manfaat dan mendatangkan rida Allah SWT.
Panggung perayaan kemerdekaan, lanjutnya, dapat diisi dengan kegiatan keagamaan seperti doa bersama, istigasah, khataman Al-Qur'an dan zikir. Selain itu, kegiatan sosial seperti santunan kepada masyarakat yang membutuhkan, gotong royong, serta kegiatan yang memperkuat persatuan dan kepedulian juga dapat menjadi bentuk nyata rasa syukur atas kemerdekaan.
“Merayakan kemerdekaan bukan sekadar mengenang kemenangan masa lalu, tetapi bagaimana kita menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan kebaikan,” ucapnya.
Ia berharap masyarakat dapat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai pengingat untuk semakin taat kepada Allah SWT, memperkuat kepedulian kepada sesama, serta mengisi kemerdekaan dengan amal dan perbuatan baik sebagai wujud syukur atas nikmat besar kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....