HUT ke-81 RI, Prof Jamaluddin Ajak Masyarakat Jaga Persatuan
- 17 Agt 2026 10:52 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia menjadi momentum bagi masyarakat untuk merefleksikan ulang perjuangan para pendiri bangsa dalam meraih kemerdekaan.
- Prof. Jamaluddin dari UIN Mataram menekankan bahwa kemerdekaan yang saat ini dinikmati adalah hasil dari pengorbanan jiwa, harta, dan tenaga yang luar biasa dari para pendahulu.
- Persatuan dan kesatuan perlu diperkuat kembali di tengah berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini.
RRI.CO.ID, Mataram — Memperingati 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat diajak untuk merefleksikan kembali perjuangan para pendiri bangsa sekaligus memperkuat persatuan di tengah berbagai persoalan yang dihadapi saat ini.
Guru Besar dalam bidang Sejarah dan Peradaban Islam di UIN Mataram Prof. Dr. H. Jamaluddin, M.A. mengatakan kemerdekaan yang dinikmati masyarakat Indonesia saat ini merupakan hasil perjuangan panjang para pendahulu yang rela mengorbankan jiwa, harta, dan tenaga.
Menurutnya, kondisi Indonesia saat ini seharusnya menjadi momentum untuk mensyukuri kemerdekaan sekaligus memperbaiki berbagai persoalan yang masih muncul di tengah masyarakat.
“Kalau dulu para pejuang kita mengorbankan nyawa dan harta, mereka berjuang dan berperang. Sekarang semestinya kita bisa lebih enak. Karena itu, marilah kita bersyukur dengan kemerdekaan ini,” ujarnya, Senin 17 Agustus 2026.
Prof. Jamaluddin menilai, berbagai persoalan yang muncul belakangan ini, termasuk adanya kerenggangan antara sebagian masyarakat dengan pemerintah, perlu disikapi secara bijak. Pemerintah, kata dia, semestinya hadir sebagai pelindung seluruh masyarakat tanpa membeda-bedakan kelompok.
Ia berharap para pemimpin, baik presiden, menteri maupun kepala daerah, dapat menempatkan diri sebagai “bapak masyarakat” dan “bapak pembangunan” yang mampu menaungi seluruh rakyat.
“Pemerintah harus menjadi payung masyarakat. Jadilah bapak masyarakat, bapak rakyat, bapak pembangunan. Jangan sampai kita melihat kondisi yang sudah mulai berpecah, kemudian ada orang yang justru menikmati perpecahan itu,” katanya.
Ia juga mengajak para tokoh bangsa dan pemimpin saat ini untuk belajar dari keteladanan tokoh-tokoh terdahulu. Setiap perkataan dan janji kepada masyarakat, menurutnya, harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa kemaslahatan.
Guru Besar Sejarah Peradaban Islam itu, menggunakan filosofi “gading gajah” dan “filsafat ludah” sebagai gambaran pentingnya menjaga keteladanan dan konsistensi.
“Gading gajah itu tidak keluar dua kali. Ketika dia keluar, jadikan dirimu menjadi orang yang sangat bermanfaat. Apa yang diomongkan hendaknya seperti filsafat ludah. Tidak pernah ada orang yang mengeluarkan ludah kemudian menelannya kembali,” tuturnya.
Pemerintah Diminta Menghadirkan “Filosofi Hujan”
Khusus untuk Nusa Tenggara Barat (NTB), Prof. Jamaluddin berharap pemerintah menerapkan apa yang ia sebut sebagai “filosofi hujan”.
Menurutnya, hujan memberikan kehidupan bagi berbagai makhluk dan menumbuhkan kembali sesuatu yang sebelumnya mati. Filosofi tersebut, kata dia, dapat menjadi gambaran bagaimana kebijakan pemerintah seharusnya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kalau NTB ini saat ini, hendaknya pemerintah menjadikan diri dengan filosofi hujan. Ketika dia turun, dia akan menumbuhkan yang mati. Bahkan rumput mati pun dia tumbuh,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap setiap pernyataan maupun kebijakan pejabat dapat melahirkan manfaat, bukan justru menambah keresahan di tengah masyarakat.
“Ketika para pejabat berbicara, hendaknya melahirkan ungkapan-ungkapan yang bermanfaat, sehingga masyarakat merasa nyaman, merasa teduh, merasa enak,” katanya.
Generasi Muda Diminta Perkokoh Persatuan
Di tengah dinamika sosial dan politik, Prof. Jamaluddin secara khusus mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terprovokasi dan terjebak dalam perpecahan.
Ia meminta anak muda terus memperkokoh nilai persatuan serta menjaga kekompakan sebagai modal penting dalam melanjutkan pembangunan bangsa.
“Kompak, utuh, bersatu itu satu slogan. Kalau kita lepas, maka kita akan berada di ambang kehancuran,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menjelek-jelekkan sesama warga, pemerintah maupun negara. Kritik tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan cara yang baik dan konstruktif.
“Kita mengkritik dengan cara-cara bil ahsan, dengan cara yang baik. Jangan cepat-cepat menjelekkan kawan, menjelekkan pemerintah, menjelekkan negara,” ujarnya.
Kearifan Lokal Sasak Jadi Pegangan
Sebagai masyarakat Sasak, Prof. Jamaluddin juga mengajak generasi muda menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan para leluhur.
Menurutnya, masyarakat Sasak memiliki banyak nilai yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi persoalan sosial. Salah satunya adalah cara menyelesaikan masalah secara arif tanpa menimbulkan persoalan baru.
“Ketika kita menjelaskan persoalan-persoalan, jangan menjelaskan persoalan itu justru memunculkan persoalan baru. Orang-orang tua kita kalau menjelaskan masalah, tidak pernah mereka menambah masalah,” katanya.
Ia berharap pendekatan yang arif tersebut tetap dipertahankan oleh generasi muda dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa.
Pada akhirnya, Prof. Jamaluddin mengajak generasi muda untuk terus belajar, meningkatkan kapasitas diri, dan menjadi generasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Jadilah orang-orang yang bermanfaat, menjadi orang-orang yang lebih hebat, menjadi generasi-generasi emas yang bisa menggantikan estafet kepemimpinan yang sekarang sedang dipegang oleh orang-orang tua kita,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....