Moderation Connect ke-3 UIN Mataram Perkuat Toleransi NTB 2026
- 14 Agt 2026 15:19 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram — Upaya memperkuat kehidupan yang toleran di tengah keberagaman Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mendapat ruang melalui Moderation Connect Ke-3 Tahun 2026 yang digelar Pusat Moderasi Beragama (PMB) UIN Mataram di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M).
Mengangkat tema “Bridging Culture, Law, and Eco-Theology: A Religious Moderation Approach to Global Peace and Sustainability”, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan akademik sekaligus lintas iman untuk membahas tantangan kerukunan, perdamaian, dan keberlanjutan di tengah masyarakat yang majemuk.
Rangkaian Moderation Connect berlangsung selama dua hari. Hari pertama, Kamis 13 Agustus 2026, diisi Seminar Nasional yang mempertemukan dosen, tenaga kependidikan, PNS muda, tokoh lintas iman, serta jejaring penggerak moderasi beragama. Sementara hari kedua dilanjutkan dengan The 3rd Annual International Conference on Religious Moderation (AICRM) 2026.
Seminar nasional menghadirkan Prof. Dr. H. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan pada Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Kementerian Agama RI.
Dalam paparannya, Zainul Hamdi menyoroti pentingnya moderasi beragama sebagai salah satu strategi mencegah berkembangnya radikalisme, intoleransi, eksklusivisme, serta berbagai bentuk ancaman terhadap persatuan bangsa.
Menurut dia, perjalanan penyebaran agama di Nusantara sejak dahulu banyak berlangsung melalui pendekatan damai, antara lain jaringan perdagangan, perkawinan, dan akulturasi budaya. Jejak tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa keberagaman telah menjadi bagian penting dari perjalanan sosial masyarakat Indonesia.
Ia mencontohkan dakwah kultural Wali Songo serta sejumlah kearifan lokal yang selama berabad-abad menjadi perekat kehidupan masyarakat, seperti Bhinneka Tunggal Ika, Pela Gandong di Maluku, dan Satu Tungku Tiga Batu di Papua Barat.
Namun, warisan kerukunan tersebut kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Terorisme, ekstremisme, eksklusivisme keagamaan, penolakan terhadap NKRI, hingga tumbuhnya rasa saling curiga antarumat beragama dinilai dapat mengikis modal sosial yang telah lama dibangun.
Dalam situasi tersebut, moderasi beragama disebut sebagai semacam “antivirus sosial” yang dibutuhkan untuk menjaga perbedaan agar tidak berubah menjadi sumber konflik.
Zainul Hamdi menekankan pentingnya menjalankan agama secara tawasuth, tawazun, dan tasamuh, yakni tidak berlebihan, berimbang, serta mengedepankan sikap toleran.
Ia juga mengingatkan bahwa Pancasila dan UUD 1945 merupakan kesepakatan bersama yang menjadi fondasi kehidupan kebangsaan. Karena itu, keberagaman agama dan keyakinan harus ditempatkan sebagai kekuatan sosial, bukan alasan untuk saling menjauh.
“Moderasi beragama menjadi investasi jangka panjang agar perbedaan iman tetap menjadi kekayaan kebudayaan dan tidak berubah menjadi bahan bakar perpecahan,” ujarnya.
Ketua LP2M UIN Mataram, Prof. Kadri, memberikan apresiasi terhadap konsistensi PMB UIN Mataram dalam membangun ruang kajian dan dialog mengenai moderasi beragama.
“Kegiatan yang dilaksanakan Pusat Moderasi Beragama UIN Mataram sangat kontributif dalam menguatkan kehidupan yang toleran di Nusa Tenggara Barat,” ujarnya.
Prof. Kadri menjelaskan, Moderation Connect berjalan beriringan dengan AICRM dan pada 2026 keduanya telah memasuki penyelenggaraan tahun ketiga.
Selama tiga tahun pelaksanaan AICRM, jejaring akademik yang dibangun telah melibatkan sejumlah negara, yakni Indonesia, Libya, Maroko, Malaysia, dan Australia.
Menurutnya, peserta Seminar Nasional tahun ini juga mencerminkan keberagaman latar belakang, mulai dari dosen dan tenaga kependidikan muda, hingga mitra PMB yang berasal dari berbagai unsur lintas iman.
“Ini menjadi bagian penting dari ikhtiar membangun ekosistem moderasi beragama yang tidak hanya hidup di ruang akademik, tetapi juga hadir di tengah masyarakat,” katanya menegaskan.
Prof. Kadri juga memaparkan sejumlah capaian PMB UIN Mataram. Sosialisasi dan penguatan moderasi beragama telah diberikan kepada seluruh dosen dan tenaga kependidikan. Program serupa juga menyasar mahasiswa, termasuk mahasiswa baru melalui Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) selama dua tahun terakhir.
Di sektor publikasi, sindikasi media Tahiro.id disebut masuk dalam lima besar yang paling aktif di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia. Sementara Tahiro: Journal of Peace and Religious Moderation telah memasuki Volume 3 dan sedang dalam proses menuju akreditasi.
Penguatan sumber daya manusia juga menjadi bagian dari gerakan moderasi yang dikembangkan PMB UIN Mataram.
Saat ini terdapat 40 Kader Penggerak Moderasi Beragama (KPMB) lintas iman, 25 Guru Penggerak Moderasi Beragama di sekolah yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, 35 Penggerak Moderasi Beragama di Lombok Utara, serta 15 penggerak dari unsur penyuluh agama di Lombok Timur.
Jejaring tersebut terus diperluas melalui kerja sama dengan organisasi lintas iman, organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, dan sekolah.
Langkah itu menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak hanya ditempatkan sebagai materi diskusi akademik, tetapi diarahkan menjadi gerakan sosial yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat.
Rektor UIN Mataram, Prof. Masnun, yang membuka kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi sekaligus kebanggaannya terhadap konsistensi PMB dalam mengembangkan kajian moderasi beragama.
“Saya merasa senang dan bangga atas kegiatan yang secara konsisten dilaksanakan oleh Pusat Moderasi Beragama UIN Mataram. Lembaga ini telah berhasil menjadi laboratorium kajian sekaligus pusat syiar moderasi di tengah masyarakat Nusa Tenggara Barat,” ungkapnya.
Menurut Prof. Masnun, keberadaan PMB juga sejalan dengan karakter UIN Mataram sebagai kampus yang mengedepankan nilai Cendekia, Terbuka, dan Unggul.
Ia menilai NTB memiliki posisi strategis dalam membangun jembatan kerukunan karena berada di antara wilayah dengan karakter sosial-keagamaan yang berbeda.
“Hal ini relevan dengan tema yang diusung dalam Moderation Connect, di mana NTB menjadi jembatan antara dua entitas keagamaan dan suku yang berada di kedua sisinya. Di sebelah barat ada Bali dengan mayoritas Hindu, dan di sebelah timur ada Nusa Tenggara Timur dengan mayoritas Kristen,” tuturnya.
Seminar tersebut turut dihadiri para dekan di lingkungan UIN Mataram, Kepala Biro AAKK, dosen dan tenaga kependidikan, Duta Damai NTB, serta sejumlah tokoh lintas iman.
Perwakilan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), GKII, Lakpesdam PWNU NTB, Lakpesdam PCNU Lombok Barat, KoPITol NTB, dosen PTKIS, KPMB NTB dan Lombok Utara, serta Guru Penggerak Moderasi Beragama turut menjadi bagian dari forum tersebut.
Menutup paparannya, Zainul Hamdi mengingatkan kembali pesan kemanusiaan yang pernah disampaikan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tentang pentingnya berbuat baik kepada sesama tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai sekat.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa toleransi bukan sekadar konsep akademik, melainkan sikap yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui Moderation Connect Ke-3 Tahun 2026, PMB UIN Mataram kembali menegaskan perannya sebagai ruang kajian, dialog, dan syiar moderasi beragama. Dari lingkungan kampus, gerakan tersebut diarahkan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas guna menjaga NTB tetap menjadi ruang hidup yang damai di tengah keberagaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....