Doa Kebangsaan Lintas Agama di Mataram Jadi Teladan Kerukunan

  • 13 Agt 2026 11:56 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram — Puluhan ribu warga Nusa Tenggara Barat (NTB) menghadiri Doa Kebangsaan Lintas Agama di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram, Rabu malam 12 Agustus 2026. Kegiatan yang diinisiasi Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.

Kepala Kanwil Kemenag NTB Zamroni Aziz menyampaikan rasa syukur atas suksesnya kegiatan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai agama, suku, dan latar belakang.

Doa Kebangsaan tersebut dihadiri Utusan Khusus Presiden Bidang Agama dan Sarana Prasarana Keagamaan KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah), Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri, Wali Kota Mataram Mohan Roliskana, Wakil Wali Kota Mataram, para tuan guru, tokoh lintas agama, serta masyarakat dari seluruh kabupaten/kota di NTB, termasuk dari Pulau Sumbawa.

"Alhamdulillah, Doa Kebangsaan malam ini dapat terselenggara dengan menghadirkan tokoh-tokoh dari berbagai agama. Ini menunjukkan semangat bersama untuk menjaga kerukunan di NTB sekaligus menjaga bangsa dan negara," ujar Zamroni.

Ia juga mengapresiasi kehadiran para tokoh nasional di tengah padatnya agenda mereka. Menurutnya, kehadiran tersebut menunjukkan perhatian terhadap NTB.

"Kami bersyukur dan mengapresiasi kehadiran beliau-beliau di tengah padatnya agenda. Ini merupakan bagian dari perhatian mereka terhadap Nusa Tenggara Barat," katanya.

Gus Miftah: Mataram Tunjukkan Wajah Bhinneka Indonesia

Gus Miftah menilai Kota Mataram telah menunjukkan contoh nyata kehidupan kebhinnekaan yang tumbuh di tengah masyarakat.

"Saya pikir ini adalah fenomena yang luar biasa. Di lapangan terbuka, para tokoh lintas agama bersama jemaat masing-masing dapat berkumpul, bersatu, dan melafalkan doa menurut keyakinan mereka, tetapi di tempat yang sama," ujarnya.

Menurut Gus Miftah, kemajuan bangsa sangat bergantung pada kerukunan antarmasyarakat.

"Saya selalu meyakini bahwa bangsa ini akan menjadi besar apabila berangkat dari kerukunan. Malam ini kita melihatnya secara langsung di Kota Mataram," katanya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi tradisi nasional yang memperkuat persatuan masyarakat.

"Harapan saya, ini bisa menjadi tradisi bangsa: bagaimana kita mampu duduk bersama tanpa memandang agama, melafalkan doa yang berbeda-beda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu mencintai Indonesia. Saya sangat mengapresiasi NTB malam ini," ungkapnya.

Gus Miftah juga menyatakan akan berupaya membawa konsep serupa ke berbagai daerah di Indonesia.

"Saya akan mencoba membawa konsep seperti ini ke daerah-daerah lain, insyaallah. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Kakanwil yang telah mengikhtiarkan terselenggaranya acara malam ini," ujarnya.

Sari Yuliati: NTB Jadi Contoh Keberagaman

Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati mengaku bangga melihat NTB mampu menjadi contoh keberagaman yang memperkuat persatuan.

"Sebagai Wakil Ketua DPR RI dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat II, yaitu Pulau Lombok, saya merasa bangga bahwa Provinsi NTB yang hanya terdiri atas 10 kabupaten/kota ternyata mampu menjadi contoh keberagaman," kata Sari.

Ia menilai keberagaman merupakan modal penting dalam membangun persatuan.

"Kita mengetahui bahwa umat Islam di NTB merupakan mayoritas, tetapi saudara-saudara kita yang berasal dari kelompok minoritas tetap dapat hidup berdampingan secara rukun dalam semangat Bhinneka," ujarnya.

Sari juga menceritakan pengalamannya saat mengunjungi sebuah sekolah dasar di kawasan Cakranegara. Ia melihat siswa dari berbagai agama dapat belajar bersama dalam suasana aman dan harmonis.

"Saya pernah mengunjungi sebuah SD di Cakranegara yang mayoritas siswanya beragama Hindu, sementara sebagian kecil berasal dari agama lain. Mereka dapat bersekolah dengan aman, tanpa perundungan, tanpa rasisme, dan hidup berdampingan secara harmonis. Karena itu saya sangat bangga menjadi warga Nusa Tenggara Barat," tuturnya.

Di akhir acara, muncul usulan agar Kota Mataram dinobatkan sebagai Kota Bineka. Usulan tersebut muncul karena masyarakat Mataram dinilai telah menunjukkan praktik kehidupan lintas agama dan budaya yang harmonis.

Doa Kebangsaan Lintas Agama itu pun menjadi momentum untuk meneguhkan semangat persatuan dan kerukunan masyarakat NTB dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....