LDII NTB Pacu SDM Religius dan Gerakan Lingkungan jelang Muswil Daerah

  • 24 Agt 2026 17:19 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Nusa Tenggara Barat memperkuat komunikasi publik menjelang pelaksanaan Musyawarah Wilayah (Muswil) VIII. Melalui Media Gathering yang digelar di Sunset Land, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Senin 24 Agustus 2026, jajaran LDII memaparkan arah organisasi, program pengabdian, hingga komitmen terhadap persoalan strategis daerah.

Pertemuan bersama insan pers tersebut menjadi bagian dari rangkaian Muswil VIII LDII NTB. Forum ini sekaligus dimanfaatkan untuk menyampaikan sejumlah agenda yang akan menjadi perhatian organisasi dalam lima tahun mendatang.

Ketua DPW LDII NTB, Abdullah A. Karim, mengatakan Muswil VIII bukan sekadar agenda pergantian atau penyusunan kepengurusan. Musyawarah tersebut menjadi ruang evaluasi atas perjalanan organisasi sekaligus merumuskan kebijakan untuk periode berikutnya.

“Muswil tahun ini mengusung tema Membangun Sumber Daya Manusia Profesional Religius melalui Kolaborasi dan Sinergi Bersama Menuju NTB Makmur Mendunia,” ujarnya.

Menurut Abdullah, tema tersebut diterjemahkan melalui delapan bidang pengabdian yang menjadi fokus LDII. Program itu mencakup kebangsaan, dakwah dan keagamaan, pendidikan, ekonomi syariah, kesehatan alami, ketahanan pangan dan lingkungan, teknologi digital, serta energi baru terbarukan.

Berbagai klaster tersebut, katanya, disiapkan sebagai bentuk kontribusi organisasi terhadap pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.

“Ini merupakan upaya LDII untuk mengambil bagian dalam pembangunan. Di NTB, perhatian kami salah satunya diarahkan pada penguatan nilai kebangsaan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup,” ujarnya.

Persoalan sampah menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian dalam pembahasan Muswil VIII LDII NTB. Organisasi tersebut mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas dengan menjadikan masjid, majelis taklim, hingga pondok pesantren sebagai titik awal perubahan perilaku masyarakat.

Ketua Panitia Pengarah Muswil LDII NTB, M. Ramadhani, mengatakan pihaknya terus membangun sinergi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dalam merespons persoalan strategis di daerah.

Salah satu program yang dikembangkan adalah mendorong masjid, majelis taklim, dan pondok pesantren binaan LDII menjadi pelopor gerakan Masjid Bebas Sampah, sekaligus menghidupkan pengelolaan bank sampah di lingkungan masing-masing.

Menurut Ramadhani, penanganan sampah tidak akan berjalan optimal apabila seluruh beban hanya diletakkan di pundak pemerintah.

“Harus dimulai dari rumah, dari masjid, dan dari komunitas. Warga perlu dibiasakan memilah serta mengolah sampah sejak dari lingkungan keluarga. Langkah kecil seperti ini tidak boleh terus ditunda,” katanya menegaskan.

Komitmen tersebut kemudian dirancang melalui Program Pengelolaan Sampah Berbasis Masjid (PPSBM). Konsepnya, masjid tidak hanya menjadi pusat aktivitas ibadah, tetapi juga ruang pembelajaran dan gerakan sosial dalam menjaga lingkungan.

Melalui PPSBM, jamaah didorong membangun kedisiplinan dalam memilah dan mengelola sampah agar tidak berakhir mencemari lingkungan.

“Program ini dirancang melalui edukasi dan keterlibatan jamaah secara sistematis serta berkelanjutan. Harapannya, kesadaran lingkungan benar-benar tumbuh menjadi kebiasaan,” ucap Ramadhani yang juga menjabat Sekretaris DPW LDII NTB.

Muswil VIII LDII NTB dijadwalkan berlangsung pada 24–25 Agustus 2026 di Gedung Sangkareang, Kompleks Kantor Gubernur NTB, Jalan Pejanggik Nomor 12, Kota Mataram.

Menurut Ramadhani, perwakilan pengurus LDII dari delapan kabupaten dan dua kota di Nusa Tenggara Barat telah hadir di Mataram untuk mengikuti agenda musyawarah tersebut.

“Seluruh perwakilan dari kabupaten dan kota sudah bersiap mengikuti Muswil VIII LDII NTB,” ujarnya bersama Ketua Panitia Muswil LDII NTB, Achmad Yusuf.

Muswil tersebut diharapkan menghasilkan arah kebijakan organisasi yang selaras dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah, sekaligus memperkuat kerja sama antara LDII, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Ketua Umum DPP LDII, H. Dody Taufiq Wijaya, mengatakan delapan program pengabdian organisasi dirancang untuk menjangkau berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Menurutnya, salah satu perhatian utama LDII adalah memperkuat semangat kebangsaan dan nasionalisme dengan menjaga komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta Bhinneka Tunggal Ika.

“Fokus utama kami adalah memperkuat kebangsaan dan nasionalisme. Komitmen terhadap keutuhan NKRI, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika harus terus dijaga,” katanya menegaskan.

Dalam bidang dakwah, LDII juga mengembangkan pendekatan yang mengedepankan moderasi beragama. Dody mengatakan kehidupan masyarakat yang beragam menuntut setiap warga untuk menghormati hak pemeluk agama lain dan membangun kehidupan sosial yang harmonis.

“Kita harus mampu hidup berdampingan dan menghormati hak orang lain. Dakwah juga tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi melalui keteladanan dan tindakan nyata atau dakwah bil hal,” ujarnya.

Selain persoalan kebangsaan dan dakwah, pembinaan generasi muda menjadi bagian penting dalam arah pengabdian LDII. Organisasi tersebut mendorong pembentukan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan profesional tanpa meninggalkan nilai religius dan akhlak.

Dody mengatakan pembinaan karakter sejak usia dini diperlukan untuk mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman, memiliki integritas, nasionalisme, serta kepedulian terhadap lingkungan.

“LDII berupaya membentuk generasi yang profesional, religius, dan berakhlakul karimah. Mereka harus memiliki kemampuan menghadapi perkembangan zaman sekaligus memiliki kepedulian terhadap bangsa dan lingkungan,” ucapnya.

Pembinaan tersebut, menurut Dody, menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia unggul dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

DPP LDII juga menempatkan pelestarian lingkungan dan ketahanan ekologi sebagai bagian penting dari program pengabdian kepada bangsa.

Dody mengapresiasi berbagai kegiatan warga LDII NTB, terutama dalam upaya menjaga lingkungan dan mendorong penanganan persoalan sampah.

“Menjaga lingkungan merupakan langkah penting untuk menyelamatkan masa depan bumi. Kesadaran generasi muda harus terus dibangun karena lingkungan yang sehat adalah warisan yang harus dijaga untuk generasi berikutnya,” katanya.

Perhatian terhadap lingkungan itu juga disampaikan Dody ketika menyinggung musibah kebakaran yang melanda Kampung Adat Sade, Lombok Tengah, Sabtu (22/8/2026) malam.

Kebakaran tersebut menghanguskan sejumlah bangunan yang menjadi bagian dari kawasan permukiman adat sekaligus destinasi wisata budaya masyarakat Sasak.

Menurut Dody, musibah tersebut tidak hanya menjadi duka bagi masyarakat setempat, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan identitas.

“Duka ini menjadi duka bersama karena Kampung Adat Sade merupakan warisan budaya dengan keunikan tersendiri. Rumah-rumah adatnya dibangun menggunakan material tradisional seperti kayu, bambu, dan atap ilalang yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Sasak,” ujarnya.

Ke depan, proses rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan adat tersebut diharapkan tidak hanya memulihkan bangunan yang terdampak, tetapi juga memperkuat konsep pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan mitigasi bencana.

Dody menilai keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar Kampung Adat Sade dapat kembali bangkit sebagai destinasi wisata budaya yang aman, lestari, dan berkelanjutan.

“Rehabilitasi dan rekonstruksi membutuhkan kolaborasi semua stakeholder. Kampung Adat Sade harus kembali menjadi kebanggaan NTB sebagai destinasi budaya yang tetap menjaga warisan leluhur, lingkungan, dan keselamatan masyarakat,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....