Rahayu Saraswati: Mahasiswa Harus Jadi Early Warning System Perdagangan Orang
- 12 Agt 2026 18:06 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Upaya mencegah perdagangan orang tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum maupun pemerintah. Lingkungan kampus juga dinilai memiliki peran penting untuk membangun sistem peringatan dini melalui keterlibatan mahasiswa.
Ketua Umum Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang sekaligus Pendiri Yayasan Parinama Astha, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, mendorong mahasiswa Universitas Mataram menjadi bagian dari early warning system atau sistem peringatan dini terhadap praktik perdagangan orang.
Dorongan itu disampaikan Rahayu saat menjadi narasumber Youth Seminar 2026 Generation Safe Online bertema "Perdagangan Orang di Era Digital" yang digelar di Universitas Mataram, Rabu 12 Agustus 2026.
Ia mengatakan mahasiswa tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai penerima informasi mengenai bahaya perdagangan orang. Kelompok muda tersebut justru dapat menjadi mata dan telinga yang membantu mengenali persoalan di lingkungan sekitar.
"Kita mengajak mahasiswa menjadi bagian dari early warning system. Mereka harus menjadi mata dan telinga, bisa menjadi bagian dari pencegahan dan juga bagian dari pelaporan," jelasnya.
Menurut Rahayu, mahasiswa memiliki jaringan sosial yang luas dan relatif dekat dengan masyarakat. Kondisi tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperluas edukasi mengenai migrasi aman sekaligus mengenali pola-pola yang mengarah pada perdagangan orang.
Ia bahkan mendorong perguruan tinggi membuka ruang penelitian yang lebih luas terkait isu tersebut. Persoalan perdagangan orang dinilai dapat dikembangkan menjadi topik skripsi maupun disertasi sehingga menghasilkan kajian yang lebih mendalam mengenai pola perekrutan, kerentanan korban hingga strategi pencegahannya.
"Siapa tahu dari kampus ini lahir pahlawan-pahlawan di komunitas masing-masing. Persoalan perdagangan orang juga bisa dikembangkan menjadi disertasi atau skripsi," ujarnya.
Rahayu juga menilai program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dapat dimanfaatkan untuk membawa edukasi mengenai pencegahan perdagangan orang langsung ke masyarakat. Mahasiswa tidak hanya menyampaikan informasi mengenai lingkungan dan persoalan sosial lainnya, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai migrasi aman.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena perdagangan orang tidak hanya berkaitan dengan persoalan hukum. Kerentanan ekonomi masyarakat juga menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang mudah menerima tawaran pekerjaan yang ternyata berujung pada eksploitasi.
Karena itu, desa-desa yang menjadi kantong pekerja migran perlu mendapatkan perhatian. Selain konsep desa aman migrasi, Rahayu mendorong terbentuknya desa yang memiliki kesadaran dan sistem perlindungan terhadap perdagangan orang.
"Kita perlu bukan hanya desa-desa migrasi atau safe migration, tetapi juga desa-desa aman perdagangan orang supaya masyarakatnya bisa terlindungi," tuturnya.
Ia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas dan masyarakat dapat diperkuat. Mahasiswa yang memiliki pengetahuan tentang perdagangan orang diharapkan tidak berhenti pada pemahaman pribadi, tetapi ikut membawa informasi tersebut ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Dengan pola tersebut, kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pendidikan, tetapi juga dapat menjadi salah satu basis gerakan pencegahan perdagangan orang di NTB.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....