Kain Osap Lombok Tampil di Pameran Nasional Wastra di Yogyakarta

  • 09 Jun 2026 08:42 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Kain Osap Lombok koleksi Museum Negeri NTB menjadi salah satu representasi kekayaan budaya Nusa Tenggara Barat yang ditampilkan dalam Pameran Nasional Wastra bertajuk “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” di Gedung Saraswati, Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, Jumat 5 Juni 2026. Koleksi tersebut turut disaksikan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat mengunjungi pameran yang menghadirkan sekitar 85 koleksi wastra dan 22 benda pendukung dari 40 institusi kebudayaan di Indonesia.

Museum NTB menghadirkan kain Osap sebagai simbol kekayaan budaya masyarakat Sasak di Pulau Lombok. Kain tenun ikat tradisional tersebut dikenal memiliki nilai budaya, filosofis, dan spiritual yang kuat serta menjadi bagian penting dalam berbagai tradisi masyarakat setempat.

Pamong Budaya Muda Museum NTB, Itsna Hadi Saptiawan, menjelaskan bahwa kain Osap merupakan tenun sakral yang berkaitan erat dengan tradisi penghormatan leluhur dan ritual kematian dalam sistem kepercayaan masyarakat Sasak.

"Jadi kain Osap ini bukan sekadar pakaian, melainkan benda magis yang menjadi penanda tradisi kehidupan manusia menuju alam baka dalam kepercayaan adat Sasak," jelasnya di Mataram, Senin 8 Juni 2026.

Ia menjelaskan, warna dasar putih pada kain Osap melambangkan kesucian, keikhlasan, dan kepasrahan. Sementara warna merah dan biru kerap dikaitkan dengan perlindungan serta kekuatan spiritual.

Selain warna, motif yang terdapat pada kain Osap juga memiliki makna mendalam. Menurut Itsna, ragam hias yang digunakan termasuk kategori reragian, yakni motif tenun yang pembuatannya mengikuti aturan adat tertentu.

"Tenun ini dianggap sarat dengan energi spiritual dari para leluhur. Motif geometris melambangkan keteraturan hidup, sementara motif silang dimaknai sebagai simbol penolak bala," ungkapnya.

Dalam pameran tersebut, kain Osap ditempatkan pada subtema Kain-Kain Magis, yang mengangkat peran wastra Nusantara sebagai bagian dari kosmologi dan ritual kehidupan masyarakat Indonesia.

Kurator Museum Sonobudoyo, Yashika Sidik Pradhana, dalam katalog pameran menjelaskan bahwa wastra magis dapat dipandang sebagai teks kosmologis yang merekam pandangan masyarakat Nusantara tentang kehidupan, kematian, kesucian, dan hubungan manusia dengan alam maupun dunia spiritual.

Pameran Nusa Wastra merupakan agenda tahunan yang mempertemukan berbagai institusi kebudayaan dari seluruh Indonesia untuk memperkenalkan kekayaan tekstil tradisional Nusantara kepada masyarakat luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....