Ditengah Normalisasi Tambang, Fondasi Ekonomi NTB Tetap Kuat
- 06 Agt 2026 06:21 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Ekonomi NTB tumbuh 7,41 persen pada Triwulan II 2026, menjadi yang tertinggi kedua di Indonesia meski sektor pertambangan mulai normal kembali.
- BPS mencatat kemiskinan dan pengangguran menurun, sementara lapangan kerja serta sektor industri, pariwisata, dan pertanian terus menguat.
RRI.CO.ID, Mataram – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat ekonomi NTB tumbuh 7,41 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Triwulan II 2026. Meski sektor pertambangan mulai memasuki fase normalisasi setelah berakhirnya relaksasi ekspor konsentrat tembaga, laju pertumbuhan ekonomi daerah tetap menjadi yang tertinggi kedua di Indonesia dan berada di atas rata-rata nasional.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan pertumbuhan ekonomi saat ini tidak lagi hanya ditopang sektor pertambangan. Industri pengolahan, pertanian, perdagangan, pariwisata, dan jasa mulai menjadi motor baru perekonomian daerah.
"Struktur ekonomi NTB kini semakin sehat karena pertumbuhan berasal dari lebih banyak sektor," kata Wahyudin saat merilis Berita Resmi Statistik (BRS) di Mataram, Rabu, 5 Agustus 2026.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB pada Triwulan II 2026 tercatat Rp53,91 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp29,89 triliun atas dasar harga konstan 2010. Secara kumulatif, ekonomi NTB tumbuh 10,42 persen selama Semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Wahyudin, perlambatan dibanding Triwulan I bukan menunjukkan pelemahan ekonomi. Penurunan laju pertumbuhan lebih dipengaruhi normalisasi aktivitas pertambangan setelah sebelumnya terdongkrak ekspor konsentrat tembaga.
Sektor pertambangan dan penggalian masih tumbuh 30,57 persen. Sementara industri pengolahan naik 7,45 persen karena meningkatnya aktivitas smelter dan industri makanan-minuman. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga tumbuh 11,42 persen seiring meningkatnya aktivitas pariwisata. Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa melonjak 49,42 persen.
| Baca juga: Belum Kantongi IPR, Dilarang Nambang |
Kinerja ekonomi tersebut turut berdampak pada pasar kerja. Berdasarkan Sakernas Mei 2026, jumlah angkatan kerja NTB mencapai 3,24 juta orang, sedangkan jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 3,14 juta orang.
Lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 1,07 juta pekerja atau sekitar 33,95 persen dari total penduduk bekerja. Peningkatan itu sejalan dengan naiknya luas panen padi dari 13.748 hektare pada Februari menjadi 30.248 hektare pada Mei 2026. Produksi gabah kering giling juga meningkat dari 74.984 ton menjadi 158.559 ton.
Di sisi lain, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 2,98 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan Februari 2026 dan menunjukkan pasar kerja masih mampu menyerap tambahan angkatan kerja.
Indikator kesejahteraan masyarakat juga membaik. Persentase penduduk miskin pada Maret 2026 turun menjadi 11,17 persen, lebih rendah dibandingkan 11,38 persen pada September 2025 dan 11,78 persen pada Maret 2025.
Secara jumlah, penduduk miskin berkurang sekitar 26 ribu orang dalam setahun, dari 654,57 ribu orang menjadi 628,50 ribu orang. Pada saat yang sama, Gini Ratio NTB turun menjadi 0,358 dari sebelumnya 0,364 pada September 2025. BPS menilai distribusi pengeluaran masyarakat NTB masih berada dalam kategori ketimpangan rendah.
Meski demikian, Wahyudin mengingatkan pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah, terutama meningkatkan jumlah pekerja formal, memperluas lapangan kerja berkualitas, dan memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dirasakan hingga wilayah perdesaan.
"Ke depan, tantangannya adalah menjaga pertumbuhan ekonomi tetap inklusif dan berkelanjutan sehingga manfaatnya semakin merata bagi seluruh masyarakat NTB," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....