Gubernur NTB Tawarkan Model FELDA Malaysia Atasi Lahan Sempit Petani

  • 02 Agt 2026 21:11 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menawarkan konsep konsolidasi lahan ala FELDA Malaysia sebagai solusi meningkatkan efisiensi dan kesejahteraan petani di tengah dominasi petani gurem.
  • Pemprov NTB menargetkan peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) hingga mendekati 150 melalui modernisasi tata kelola pertanian, penguatan koperasi, dan hilirisasi komoditas pangan.

RRI.CO.ID, Mataram – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menawarkan model konsolidasi lahan pertanian ala Federal Land Development Authority (FELDA) Malaysia sebagai solusi mengatasi persoalan kepemilikan lahan yang semakin sempit di kalangan petani NTB.

Gagasan itu disampaikan Iqbal saat menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) IX Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB yang dirangkaikan dengan Dialog Tani di Mataram, Minggu, 2 Agustus 2026.

Menurut Iqbal, sekitar 70 persen petani di NTB merupakan petani gurem dengan kepemilikan lahan terbatas, bahkan sebagian tidak memiliki lahan. Kondisi tersebut membuat biaya produksi tinggi dan usaha tani sulit berkembang secara efisien.

Karena itu, ia mengusulkan pengelolaan lahan dilakukan secara kolektif melalui koperasi multi pihak atau badan usaha yang mengelola lahan secara terintegrasi. Konsep tersebut diadaptasi dari FELDA Malaysia yang dinilai berhasil meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani.

"Saat lahan kecil dikelola bersama, biaya produksi menjadi lebih murah karena penggunaan pupuk, alat mesin pertanian, hingga pengelolaan dilakukan secara kolektif," kata Iqbal.

Ia menuturkan, berdasarkan pengalamannya mengunjungi FELDA, konsolidasi lahan di Sabah dan Sarawak mampu meningkatkan efisiensi usaha tani hingga membuat pendapatan petani naik sekitar tiga kali lipat dibandingkan saat lahan dikelola secara sendiri-sendiri.

Iqbal menilai pola serupa dapat diterapkan di NTB mengingat hamparan sawah yang luas masih dimiliki oleh banyak pemilik lahan dalam skala kecil. Dengan pengelolaan bersama, petani tidak hanya memperoleh pembagian hasil yang lebih efisien, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan usaha lain seperti pengolahan hasil pertanian dan kegiatan hilirisasi.

Di sisi lain, ia menilai prospek sektor pertanian NTB terus membaik. Hingga pertengahan 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) NTB mencapai 131 atau lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di kisaran 127. Sementara Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) tercatat mencapai 135.

Menurut Iqbal, capaian tersebut menjadi sinyal bahwa sektor pertanian semakin menjanjikan sebagai bidang usaha, termasuk bagi generasi muda maupun lembaga perbankan.

"Ini menunjukkan bisnis pertanian memiliki prospek yang baik. Kami ingin sektor ini menjadi pilihan usaha yang menarik sekaligus didukung pembiayaan yang lebih besar," ujarnya.

Ia mendorong HKTI NTB bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan menyusun model pengelolaan pertanian yang lebih modern, efisien, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani.

Dalam kesempatan itu, Iqbal juga mengucapkan selamat kepada Willgo Zainudin yang kembali terpilih sebagai Ketua HKTI NTB. Ia berharap kepengurusan baru dapat memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi NTB dalam mempercepat transformasi sektor pertanian, termasuk penguatan hilirisasi komoditas pangan dan pembenahan tata kelola lahan.

Pemerintah Provinsi NTB menargetkan Nilai Tukar Petani dapat terus meningkat hingga mendekati angka 150 sebagai indikator membaiknya daya beli dan kesejahteraan petani di daerah tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....