Gandeng Australia, Museum NTB Bedah Literasi Kain Lombok

  • 29 Jul 2026 11:29 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Museum NTB gandeng kurator Australia luncurkan buku Two Islands One Thread, jawab kelangkaan literasi budaya kain Lombok di kancah internasional.

RRI.CO.ID, Mataram - Selama ini, kain tenun Lombok lebih banyak dikenal lewat cerita turun-temurun ketimbang catatan ilmiah yang bisa diakses dunia. Kondisi itu yang coba dijawab lewat peluncuran buku *Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from The Michael Abbott Collections*, hasil kolaborasi tiga tahun antara Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) dan kurator senior asal Australia.

Peluncuran buku ini menghadirkan Kepala Museum NTB, Dr. Ahmad Nuralam, SH., MH., bersama Emeritus Curator of South East Asian Art dari Museum and Art Gallery of the Northern Territory, Darwin, Dr. James Bennett. Dikutip dari tayangan Berugak Kita RRI Mataram, Selasa, 28 Juli 2026, proyek ini bermula dari ajakan diskusi Bennett kepada pihak museum tiga tahun lalu.

"Kita mulai tiga tahun yang lalu dan kami kerja sama dengan beberapa pihak di sini, khususnya Museum NTB. Kepala Museum dan stafnya sangat membantu, bahkan ada beberapa staf yang ikut menulis untuk buku ini," ungkap Dr. James Bennett.

Menjawab Kelangkaan Literasi Budaya

Ajakan kolaborasi itu disambut antusias oleh Dr. Ahmad Nuralam. Baginya, kehadiran buku ini bukan sekadar dokumentasi koleksi, melainkan jawaban atas persoalan lama yang dihadapi NTB: minimnya literasi kebudayaan yang bisa diakses dunia internasional.

"Salah satu permasalahan kita di Nusa Tenggara Barat itu adalah literasi kebudayaan. Literasi kebudayaan itu sangat kurang, apalagi di level internasional," jelasnya.

Ia menyebut, sejauh ini belum ada literatur internasional yang secara khusus mengulas kain Lombok sebagai objek kebudayaan, berbeda dengan Bali yang sudah lebih dulu memiliki banyak kajian akademis. Karena itu, penerbitan buku ini oleh institusi Australia dinilai menjadi pijakan penting untuk mengangkat nama songket dan tenun Lombok ke panggung dunia.

Kontribusi Museum di Balik Layar

Keterlibatan Museum NTB dalam proyek ini terbilang cukup dalam. Selain menyumbang dua penulis, museum juga membuka akses ke koleksinya untuk memperkuat isi buku.

"Selain penulis, dua orang penulis dari Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, ada setidaknya delapan koleksi museum fotonya yang masuk di dalam buku ini. Dan tidak hanya kain, ada juga artefak-artefak yang sangat pas untuk menjadi penguat data di dalam koleksi ini, ada komponen-komponen lain, misalnya contoh tulisan tentang baju adat istiadat masyarakat Sasak pada abad ke-19," terang Nuralam.

Bennett sendiri menambahkan, pendekatan penulisan buku ini sengaja tidak menyeragamkan sudut pandang. Berbagai penulis, termasuk dari Jepang, Inggris, Amerika, dan sejumlah penulis lokal Sasak yang belum banyak berpengalaman menulis akademis, diberi ruang untuk menuliskan hasil riset lapangan mereka apa adanya, lengkap dengan percakapan bersama para penenun dan generasi tua di kampung-kampung Lombok.

Koleksi Museum dan Rencana Ruang Pameran Baru

Museum NTB sendiri saat ini menyimpan sekitar 7.000 artefak, namun baru sekitar 7-8 persen yang bisa dinikmati publik lewat pameran tetap maupun temporer. Untuk memperluas akses tersebut, museum berencana meresmikan ruang pameran baru bernama "Hasanah" pada Desember mendatang, lengkap dengan konsep interaktif "Night at Museum".

Di sisi lain, pengelolaan koleksi juga tengah dibenahi lewat sistem tata kelola baru setelah 15 tahun berjalan dengan metode lama, sebagai bagian dari upaya menjaga standar museum ke depan.

Tips Merawat Kain Warisan di Rumah

Bagi masyarakat yang menyimpan kain tradisional sebagai koleksi pribadi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Kain sebaiknya diangin-anginkan secara berkala agar terhindar dari jamur dan rayap, sementara manuskrip daun lontar memerlukan perawatan khusus menggunakan minyak kemiri. Lemari penyimpanan pun idealnya bebas dari bahan organik dan dilengkapi perlindungan anti-rayap.

Ke depan, baik Museum NTB maupun mitra Australianya berharap semakin banyak penulis muda lokal yang tergerak meneruskan riset budaya semacam ini, demi memperkaya khazanah tekstil dan sejarah Nusa Tenggara Barat di kancah dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....