Saat Mata Dunia ke Mandalika, Budaya NTB Ikut Dipamerkan

  • 21 Sep 2026 17:49 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Di tengah hiruk pikuk MotoGP Mandalika 2026, Museum NTB manfaatkan momentum untuk memperkenalkan Sekardiyu dan budaya lokal ke mata dunia.

RRI.CO.ID, Mataram - Ribuan pasang mata dari berbagai negara akan tertuju ke Sirkuit Mandalika saat gelaran MotoGP 2026 berlangsung Oktober mendatang. Namun di balik deru mesin dan sorak penonton, ada satu cerita lain yang sengaja disiapkan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) yakni, memperkenalkan wajah budaya lokal kepada wisatawan dunia yang datang bukan untuk urusan budaya, melainkan balapan.

Momentum inilah yang coba ditangkap lewat pameran bertajuk Speed, Energy, and Connection, digelar berdampingan langsung dengan hingar-bingar ajang MotoGP di kawasan sirkuit. Alih-alih menunggu wisatawan datang ke gedung museum, Museum NTB memilih menjemput bola, membawa koleksi budaya langsung ke titik keramaian yang jadi sorotan internasional.

Sasaran Pengunjung yang Sama Sekali Berbeda

Berbeda dari pameran museum pada umumnya yang biasanya menyasar pengunjung dengan minat khusus terhadap sejarah dan budaya, pameran kali ini justru menyasar penonton balap internasional yang datang dengan ekspektasi jauh dari nuansa budaya tradisional. Inilah tantangan sekaligus peluang besar bagi tim Museum NTB: bagaimana caranya membuat pengunjung yang datang untuk kecepatan mesin, justru tertarik berhenti sejenak menikmati cerita gerak dan tradisi dari masa lampau.

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, menyebut pertemuan dua konteks yang tampak jauh berbeda ini sebagai upaya sengaja mengajak pengunjung MotoGP melihat bagaimana masyarakat NTB menerjemahkan gagasan gerak, kekuatan, energi, dan keterhubungan dalam kehidupan budaya mereka sendiri, jauh sebelum sirkuit balap kelas dunia hadir di tanah Lombok.

Panggung Baru untuk Koleksi Warisan

Sepuluh koleksi yang dibawa dalam pameran ini, mulai dari Wayang Jayengrana dan Sekardiyu, Naskah Lontar Jayengrana, kain songket motif kuda, kain Kemalik bermotif Jayengrana dan Munigarim, lukisan Nyongkolan, hingga sepasang Jaran Kamput, mendapat panggung yang jauh berbeda dari biasanya. Alih-alih hanya dilihat pengunjung lokal atau pelajar yang datang berkunjung ke gedung museum, koleksi-koleksi ini kini berpotensi disaksikan wisatawan mancanegara dari berbagai negara yang datang khusus untuk MotoGP.

Bagi sebagian pengunjung internasional, ini bisa jadi perkenalan pertama mereka dengan istilah-istilah budaya lokal seperti Jaran Kamput atau kain Kemalik, sesuatu yang mustahil terjadi tanpa kehadiran ajang balap kelas dunia ini di Lombok.

Keleluasaan Ruang, Peluang Presentasi yang Lebih Maksimal

Faktor teknis turut mendukung ambisi ini. Ketua Pameran, Gunarti, menyebut tahun ini Museum NTB tidak lagi berbagi ruang pamer dengan peserta lain seperti tahun-tahun sebelumnya, sehingga penataan bisa lebih fokus membangun kesan mendalam bagi setiap pengunjung yang mampir, alih-alih sekadar menjadi salah satu booth di antara banyak booth lainnya.

Dengan penataan ruang yang mulai berjalan 8 Oktober mendatang, pameran ini menjadi taruhan menarik: apakah budaya lokal NTB mampu mencuri perhatian di tengah gemuruh ajang olahraga internasional, atau justru tenggelam oleh hiruk-pikuk MotoGP itu sendiri. Yang jelas, bagi Museum NTB, kesempatan menampilkan Sekardiyu dan warisan budaya lain di hadapan mata dunia adalah peluang yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....