NTB Surplus 348 Ribu Ton Beras di Tengah El Nino
- 07 Jul 2026 16:05 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Program Makan Bergizi Gratis tidak akan mengganggu ketersediaan beras NTB karena produksi padi tahun ini diproyeksikan tetap mampu menopang kebutuhan masyarakat.
- Pemerintah Provinsi NTB memastikan stok beras masih dalam kondisi aman dengan surplus 348 ribu ton berdasarkan perhitungan produksi hingga Juli 2026.
- Potensi produksi gabah Januari-Juli 2026 mencapai 771 ribu ton beras, sementara kebutuhan konsumsi penduduk NTB sekitar 5,8 juta jiwa hanya 423 ribu ton.
- Pemerintah telah menyiapkan strategi adaptif menghadapi El Nino melalui percepatan musim tanam, penggunaan varietas padi genjah, dan pemanfaatan lahan dengan sumber air memadai.
- NTB tetap berperan sebagai daerah pemasok beras bagi Nusa Tenggara Timur, sebagian Sumatra, dan Kalimantan melalui Perum Bulog dan swasta.
RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat memastikan ketersediaan pangan, terutama beras, masih dalam kondisi aman meski dampak El Nino mulai memengaruhi ketersediaan air di sejumlah wilayah. Produksi beras dipastikan masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus memasok provinsi lain.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Lalu Mirza, mengatakan stok beras NTB hingga saat ini masih berada dalam kondisi surplus. Berdasarkan perhitungan produksi hingga Juli 2026, NTB masih memiliki cadangan yang cukup besar.
"Stok pangan kita alhamdulillah masih aman. Untuk persediaan terutama beras sampai saat ini kondisinya aman," kata Mirza kepada RRI, Selasa 7 Juli 2026.

Ia menjelaskan, potensi produksi gabah selama Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai sekitar 771 ribu ton beras, sementara kebutuhan konsumsi penduduk NTB yang berjumlah sekitar 5,8 juta jiwa hanya sekitar 423 ribu ton. Dengan demikian, NTB masih mencatat surplus sekitar 348 ribu ton beras.
"Jadi kita surplus 348 ribu ton beras. Saya bilang kita masih aman sekali untuk NTB," ujarnya.
| Baca juga: Stok Beras Bulog NTB Aman hingga Tahun Depan |
Mirza mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah menghadapi El Nino jauh sebelum musim kering terjadi. Strategi tersebut dimulai dari percepatan musim tanam, penggunaan varietas padi berumur genjah dengan produktivitas tinggi, hingga pemanfaatan lahan yang masih memiliki sumber air memadai.
Ketika dampak El Nino mulai dirasakan, pemerintah mengubah strategi dengan mendorong petani menyesuaikan jenis komoditas di lahan yang kekurangan air. Petani diarahkan menanam tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering seperti jagung, kedelai, kacang hijau, maupun tembakau yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi.
Menurut Mirza, meski debit air di sejumlah bendungan mengalami penurunan, kondisi tersebut belum mengganggu produksi secara signifikan. Pemerintah mengandalkan teknologi irigasi, termasuk pompanisasi dan sistem irigasi perpompaan, agar lahan pertanian tetap produktif.
"Kita dorong lahannya jangan sampai kering. Tetap dimanfaatkan, tetapi komoditasnya disesuaikan dengan kondisi ketersediaan air," katanya.
Ia juga menilai program optimasi lahan yang telah dijalankan pemerintah mulai menunjukkan hasil. Infrastruktur irigasi yang diperkuat melalui pembangunan jaringan air, pompa, hingga penyediaan listrik di area persawahan memungkinkan lahan yang sebelumnya hanya panen sekali setahun menjadi dua hingga tiga kali musim tanam.
Di sisi lain, Mirza memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang segera kembali berjalan setelah libur sekolah tidak akan mengganggu ketersediaan beras di NTB. Ia optimistis produksi padi tahun ini tetap mampu menopang kebutuhan masyarakat.
Sebagai acuan, produksi gabah kering giling NTB pada 2025 mencapai sekitar 1,7 juta ton, dan pemerintah berupaya mempertahankan capaian tersebut pada tahun ini.
Selain memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri, NTB juga tetap berperan sebagai salah satu daerah pemasok beras bagi sejumlah provinsi lain seperti Nusa Tenggara Timur, sebagian wilayah Sumatra, dan Kalimantan. Penyaluran dilakukan melalui Perum Bulog sesuai kebutuhan stabilisasi pasokan nasional, di samping distribusi yang dilakukan pelaku usaha swasta.
"Kita tetap memiliki kontribusi memenuhi kebutuhan daerah lain. Penyaluran dilakukan sesuai permintaan melalui Bulog maupun swasta," kata Mirza.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....