Mataram Kejar Stunting di Bawah 5 Persen
- 17 Jun 2026 06:34 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Pemerintah Kota Mataram terus memperkuat strategi percepatan penurunan stunting dengan menargetkan prevalensi kasus berada di bawah angka lima persen pada akhir 2026.
Optimisme tersebut muncul seiring tren penurunan kasus yang saat ini tercatat sebesar 5,3 persen atau sekitar 1.000 kasus, turun dibandingkan sebelumnya yang mencapai 5,5 persen.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram, dr. H Emirald Isfihan, mengatakan capaian tersebut menunjukkan efektivitas berbagai intervensi yang selama ini dijalankan. Bahkan, hingga pertengahan tahun 2026, pihaknya belum menemukan tambahan kasus stunting baru.
“Target kami sampai akhir tahun 2026 angka stunting bisa turun di bawah lima persen. Apalagi sejauh ini belum ada kasus baru yang terdata,” ujar Emirald, Rabu 17 Juni 2026.
Meski demikian, Emirald mengakui tantangan penanganan stunting saat ini tidak ringan. Pasalnya, sebagian besar kasus yang tersisa merupakan anak berusia di atas dua tahun. Kelompok usia tersebut membutuhkan penanganan lebih kompleks karena telah melewati periode emas pertumbuhan atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Menurutnya, keberhasilan intervensi paling cepat terjadi pada anak usia enam bulan hingga dua tahun. Pada rentang usia tersebut, perbaikan status gizi dapat dicapai dalam waktu tiga hingga enam bulan melalui program yang tepat sasaran.
“Kasus stunting pada anak usia di atas dua tahun cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk diperbaiki. Sebab, masa emas pertumbuhan sudah terlewati sehingga dampak hambatan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif tidak bisa sepenuhnya dikejar,” jelasnya.
Untuk mempercepat penurunan angka stunting, Dinkes Kota Mataram terus mengoptimalkan berbagai program intervensi, mulai dari pemberian makanan tambahan, suplemen gizi, hingga pendampingan kesehatan secara berkala bagi balita yang terindikasi stunting.
Salah satu program yang diperkuat adalah Orang Tua Asuh (OTA), khususnya bagi balita stunting yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan Tim Penggerak PKK Kota Mataram, pemerintah kelurahan, serta berbagai elemen masyarakat.
“Kami terus berkoordinasi dengan TP PKK dan pihak kelurahan agar masyarakat semakin aktif mendukung pola asuh yang baik serta pemenuhan gizi anak,” katanya.
Dinkes juga menggandeng Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB), PKK, Dharma Wanita, serta organisasi perempuan lainnya untuk meningkatkan edukasi kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi keluarga, serta pengawasan tumbuh kembang balita.
“Upaya penanganan dan pencegahan akan terus kami optimalkan. Fokus kami bukan hanya menurunkan angka, tetapi memastikan anak-anak Mataram tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” ucap Emirald menegaskan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....