RRI Fest 2026 Kampanyekan Anti Pernikahan Dini di MAN 1 Mataram

  • 09 Sep 2026 14:11 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Radio Republik Indonesia (RRI) Mataram menggelar RRI Fest 2026 di MAN 1 Mataram, Rabu 9 September 2026. Acara dirangkaikan dengan talkshow yang mengkampanyekan gerakan anti pernikahan dini sebagai rangkaian Hari Radio Nasional 2026 yang diperingati setiap 11 September.

Kepala RRI Mataram, Nenny Afrantiny, mengatakan RRI Fest tahun 2026 terselenggara berkat kolaborasi bersama dengan mitra kerja RRI Mataram selama ini. Mengusung tema “Harmoni dalam Aksi, Bersama Membangun Negeri”, RRI Mataram mendorong pembangunan generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Menurut Nenny, salah satu tantangan generasi muda NTB adalah tingginya pernikahan dini. Mengutip BPS, tingkat pernikahan dini di NTB tahun sempat mencapai 17,32 persen pada 2023, tertinggi di Indonesia saat itu.

“Kami berkomitmen untuk mendorong peningkatan SDM di NTB. Seperti kita ketahui pembangunan SDM di provinsi ini masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah tingginya pernikahan dini,” kata Nenny di sela-sela kegiatan.

Untuk itu, lanjut Nenny, RRI perlu ikut mengampanyekan gerakan anti pernikahan dini di NTB. Ia mengatakan, gerakan ini juga merupakan salah satu program nasional BKKBN selama beberapa tahun terakhir.

“Lewat RRI Fest kami juga mengakomodir program dari mitra kami, yang relevan dengan gerakan pencegahan pernikahan dini,” ungkapnya.

Dalam gelaran tersebut, RRI Fest 2026 menghadirkan narasumber talkshow dari Kepala Bidang Madrasah Kanwil Kemenag NTB, Drs. Nasrullah; Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka, Dr. Hulaifi; Putri Kebaya NTB 2026, Hurul In; serta Duta Anti Narkoba NTB 2026, Farmi Nur Hamida.

Kepala Bidang Madrasah Kanwil Kemenag NTB, Drs. Nasrullah, mengingatkan para siswa untuk memprioritaskan pendidikan sebelum memutuskan menikah. Menurutnya, pendidikan menjadi bekal penting agar generasi muda mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Nasrullah mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatakan pentingnya ilmu dalam menjalani kehidupan. "Jika kalian ingin selamat dan tenang hidup di dunia dan akhirat, maka harus memiliki ilmu," kata Nasrullah, mengutip sabda nabi.

Kanwil Kemenag NTB mencatat, masih terdapat 1.963 anak yang menikah di bawah umur. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.521 anak tercatat melahirkan di bawah umur berdasarkan data puskesmas.

Nasrullah menyesalkan tingginya pernikahan dini tersebut. Menurutnya, seseorang yang terjebak pernikahan dini belum siap secara fisik maupun mental menghadapi kehidupan berumah tangga.

Untuk itu, ia mendorong siswa MAN 1 Mataram untuk memprioritaskan pendidikan tinggi sebelum memutuskan berumah tangga. “Kalau bisa lanjut S1, lalu menikah, lalu S2, kalau bisa sampai S3,” kata Nasrullah.

Sementara itu, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka, Dr. Hulaifi, mengatakan pendidikan tinggi tetap dapat ditempuh meski seseorang memiliki keterbatasan waktu. Universitas Terbuka menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh yang memungkinkan mahasiswa belajar secara lebih fleksibel.

"UT Mataram didirikan dengan slogan Menjangkau yang Tidak Terjangkau. Sehingga siapapun yang sudah punya ijazah SMA, bisa mengenyam bangku kuliah," ujar Hulaifi.

Menurutnya, sistem tersebut memungkinkan masyarakat di berbagai daerah mengakses pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau aktivitas lainnya. Ia mengatakan UT juga menjadi pilihan bagi mereka yang telah menikah dan tetap ingin melanjutkan pendidikan.

Hulaifi menjelaskan biaya pendidikan di UT juga relatif terjangkau dengan sistem perkuliahan jarak jauh. Karena itu, ia mendorong para siswa untuk tetap memprioritaskan pendidikan dan melanjutkan studi setelah menyelesaikan jenjang SMA atau sederajat.

Sosialisasi anti merarik kodek atau pernikahan dini juga disampaikan Putri Kebaya NTB 2026, Hurul In. Ia menyebut faktor ekonomi, pergaulan bebas, serta minimnya edukasi kesehatan reproduksi menjadi sejumlah pemicu terjadinya pernikahan pada usia anak.

Hurul mengatakan masih terdapat orang tua yang menganggap pernikahan anak dapat mengurangi beban ekonomi keluarga. “Masih banyak orang tua yang berharap memperoleh keuntungan dari mahar pernikahan anak,” ujarnya.

Selain faktor ekonomi, pergaulan bebas juga dinilai dapat mendorong terjadinya pernikahan dini. Hurul mengajak remaja untuk berani saling mengingatkan ketika melihat teman berada dalam pergaulan yang berisiko.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi mengenai kesehatan reproduksi bagi remaja. Menurut Hurul, kehamilan pada usia yang belum matang dapat meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu maupun bayi.

Sementara itu, Duta Anti Narkoba NTB 2026, Farmi Nur Hamida, mengajak para siswa untuk lebih selektif dalam memilih lingkungan pertemanan. Menurutnya, pertemanan yang sehat dapat menjadi salah satu cara mencegah remaja terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba.

“Kecanduan narkoba menimbulkan persoalan kesehatan dan membuat seseorang terus mencari narkoba,” kata dia.

Kegiatan RRI Fest 2026 turut dihadiri oleh Kepala TVRI NTB Ina Djara, Kepala Biro ANTARA NTB Agus Setiawan, Rektor UNIZAR Muhammad Ansyar, Rektor Universitas Terbuka Mataram Ronny Basista, perwakilan Bank Indonesia Perwakilan NTB, perwakilan Diskominfotik NTB, serta perwakilan Disdikpora NTB.

Talkshow diwarnai dengan tingginya antusiasme siswa-siswi MAN 1 Mataram. Silih berganti siswa-siswi yang bertanya setiap sesi talkshow, disertai dengan pemberian doorprize dari para mitra penyelenggara acara.

Lewat gelaran RRI Fest 2026, RRI Mataram mendorong siswa untuk memahami risiko pernikahan dini sekaligus pentingnya pendidikan, pergaulan sehat, dan perlindungan diri dari narkoba. Kampanye tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran generasi muda agar lebih matang dalam menentukan masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....