Debit Air Tanah Turun 40 Persen, Belum Berdampak Pada Sektor Pertanian
- 02 Jun 2026 09:47 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu - Musim kemarau yang melanda Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, mulai berdampak pada penurunan debit air di sejumlah wilayah. Salah satu yang mengalami penurunan cukup signifikan adalah debit air di megaproyek Rababaka Kompleks yang turun hingga 40 persen.
Selain itu, kondisi kemarau juga menyebabkan menurunnya cadangan air tanah di sejumlah kawasan pertanian masyarakat. Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Dompu memastikan kondisi tersebut belum berdampak serius terhadap sektor pertanian dan produksi pangan masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Syahrul Ramadhan, mengatakan para petani di Dompu sudah cukup berpengalaman dalam membaca perubahan musim dan kondisi cuaca.
“Petani kita sudah memahami pola musim. Ketika mulai masuk peralihan musim hujan ke musim kemarau, mereka langsung menyesuaikan pola tanam,” ujarnya, Selasa, 2 Juni 2026.
| Baca juga: Jangan Ganggu Hutan Tangkapan Hujan |
Menurut Syahrul, saat memasuki musim kemarau, sebagian petani mulai mengalihkan tanaman dari padi ke komoditas palawija selain jagung, terutama di wilayah pertanian yang tidak bergantung pada irigasi teknis dan masih mengandalkan air hujan.
Wilayah yang mulai beralih ke tanaman palawija umumnya berada di kawasan tadah hujan yang memiliki keterbatasan sumber air saat musim kemarau berlangsung. Selain itu, kondisi pertanian saat ini juga dinilai relatif aman karena sebagian besar petani jagung dan padi di beberapa wilayah sudah mulai memasuki masa panen.
“Karena sebagian sudah panen, dampaknya terhadap sektor pertanian belum terlalu signifikan,” katanya.
Syahrul menilai, menurunnya debit air di Rababaka Kompleks maupun cadangan air tanah tidak terlepas dari kondisi kerusakan hutan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
| Baca juga: Siaga El Nino, BPBD Siapkan Tandon Air |
Menurutnya, berkurangnya kawasan hutan menyebabkan kemampuan daerah dalam menyimpan cadangan air semakin menurun sehingga berdampak pada sumber-sumber air saat musim kemarau.
“Kerusakan hutan menjadi salah satu penyebab utama turunnya debit air, baik di Rababaka maupun air tanah masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, untuk kawasan pertanian yang berada di wilayah irigasi teknis seperti Bali Satu, Balibunga, dan Rababaka, aktivitas pertanian padi dan jagung masih tetap dipertahankan oleh petani.
Hal tersebut karena saluran irigasi teknis di kawasan tersebut masih mampu menyuplai kebutuhan air pertanian meski terjadi kemarau panjang.
“Untuk wilayah irigasi teknis, saluran air tetap berjalan sehingga petani masih bertahan menanam padi dan jagung,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu bersama Dinas PUPR dan BPBD telah melakukan pendataan terhadap sejumlah bendungan kecil dan sumber air masyarakat.
Pendataan tersebut dilakukan sebagai dasar penyaluran bantuan pompa air guna membantu petani meningkatkan pemanfaatan debit air tanah selama musim kemarau berlangsung.
Tim juga sudah mendata embung dan bendungan kecil untuk kebutuhan bantuan pompa air, sehingga petani tetap bisa memanfaatkan sumber air yang ada.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....