Jelang HUT RI ke-81, Warga Sesela Sulap Limbah Plastik Jadi Hiasan Merah Putih

  • 10 Agt 2026 18:26 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat — Semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di Dusun Barat Kubur, Desa Sesela, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Warga setempat tidak sekadar memasang pernak-pernik bernuansa merah putih. Persiapan perayaan kemerdekaan juga menjadi momentum untuk menanamkan rasa cinta tanah air sekaligus menggerakkan kreativitas generasi muda melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat.

Kepala Dusun Barat Kubur, Zamharir, mengatakan antusiasme warga menyambut peringatan kemerdekaan tidak terlepas dari karakter masyarakat setempat yang mayoritas merupakan santri.

Menurutnya, sekitar 80 persen warga di wilayah tersebut merupakan kalangan santri. Nilai kecintaan terhadap tanah air kemudian diwujudkan melalui berbagai kegiatan menyambut 17 Agustus.

"Karena sekitar 80 persen warga di sini adalah para santri. Mereka sering mengatakan hubbul wathan minal iman, cinta tanah air merupakan bagian dari iman," ujar Zamharir, Senin 10 Agustus 2026.

Ia menilai kegiatan menyambut HUT RI bukan hanya seremoni tahunan. Lebih dari itu, rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak-anak dan generasi muda untuk mengenal sekaligus mempraktikkan nilai nasionalisme dalam kehidupan bermasyarakat.

Zamharir mengatakan pihaknya sengaja menyiapkan sejumlah perlombaan yang dapat diikuti anak-anak maupun masyarakat. Beberapa di antaranya tarik tambang, balap karung menggunakan helm hingga jalan sehat dengan rute dari dusun menuju Kantor Desa Sesela dan kembali lagi.

"Ini salah satu cara membangun nasionalisme adik-adik di Dusun Barat Kubur, khususnya dan umumnya bagi masyarakat Desa Sesela," katanya menegaskan.

Salah satu hal yang menarik dari persiapan perayaan kemerdekaan tahun ini adalah kreativitas warga dalam memanfaatkan barang bekas sebagai dekorasi.

Sejumlah plastik dan gelas bekas yang sebelumnya dikumpulkan warga tidak langsung dibuang. Material tersebut dimanfaatkan kembali menjadi bagian dari hiasan lingkungan untuk mempercantik suasana menjelang perayaan 17 Agustus.

Menurut Zamharir, kebiasaan mengumpulkan material bekas tersebut sebenarnya telah dilakukan sejak tahun sebelumnya. Anak-anak kemudian mengolahnya menjadi berbagai bentuk dekorasi.

"Plastik-plastik ini sebenarnya sudah dikumpulkan sejak tahun kemarin, kemudian dimanfaatkan kembali seperti ini. Gelas-gelas bekas juga dikumpulkan oleh adik-adik," ucapnya.

Bahan-bahan tersebut antara lain berasal dari gelas bekas dan sedotan yang masih dapat dimanfaatkan. Sementara untuk kebutuhan umbul-umbul bernuansa merah putih, warga memilih membelinya.

Kreativitas tersebut sekaligus memberikan pesan bahwa semarak kemerdekaan tidak harus selalu identik dengan biaya besar. Dengan gotong royong dan memanfaatkan barang yang tersedia, warga tetap mampu menciptakan suasana perayaan yang meriah.

Keunikan lainnya terlihat dari konsep penampilan anak-anak dalam rangkaian kegiatan menyambut HUT RI.

Anak-anak tidak hanya mengenakan pakaian bernuansa merah putih, tetapi juga tampil menggunakan pakaian adat serta seragam yang menggambarkan berbagai profesi, termasuk polisi dan tentara.

Konsep tersebut menjadi bagian dari cara warga memperkenalkan keberagaman sekaligus menumbuhkan cita-cita dan semangat kebangsaan kepada anak-anak sejak usia dini.

"Adik-adik ini memakai pakaian adat. Ada juga yang memakai pakaian polisi, tentara dan pakaian sejenis lainnya," kata Zamharir.

Meski suasana kemerdekaan mulai terasa, persiapan kegiatan di Dusun Barat Kubur hingga saat ini belum sepenuhnya rampung.

Zamharir menyebut progres persiapan baru mencapai sekitar 50 persen. Sejumlah pekerjaan masih harus diselesaikan, terutama pembangunan panggung dan dekorasi di lokasi utama kegiatan.

"Untuk saat ini kesiapan kami baru sekitar 50 persen karena panggung dan dekorasi di tempat acara belum selesai," ujarnya.

Meski demikian, keterbatasan anggaran tidak menyurutkan semangat warga. Seluruh biaya kegiatan diupayakan melalui swadaya masyarakat Dusun Barat Kubur.

Zamharir menegaskan, pelaksanaan kegiatan tersebut mengandalkan kekuatan warga setempat tanpa membebani dusun lain.

"Anggarannya dari swadaya masyarakat. Kami tidak mengambil atau meminta dari dusun sebelah. Ini khusus dari Dusun Barat Kubur," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....