BI dan TNI AL Tebar Rp8,34 Miliar Rupiah Layak Edar ke Wilayah 3T NTB
- 18 Mei 2026 16:37 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat - Bank Indonesia bersama TNI Angkatan Laut kembali menggelar Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 sebagai langkah nyata menjaga kedaulatan ekonomi Indonesia hingga wilayah terdepan, terluar, dan terpencil. Pelepasan ekspedisi dilakukan di wilayah Nusa Tenggara Barat menggunakan KRI Pulau Rimau 724 di Pelabuhan Gili Mas, Lombok Barat pada Senin, 18 Mei 2026.
Program tersebut akan menjangkau sejumlah pulau terpencil di NTB, yakni Pulau Moyo, Desa Pusu, Pulau Medang, Pulau Maringkik, dan Gili Gede dengan misi utama menghadirkan uang rupiah layak edar sekaligus memperkuat simbol kedaulatan negara di wilayah kepulauan.
Analis Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Raden Aga Nugraha menegaskan, Bank Indonesia memiliki amanat negara untuk mengelola rupiah mulai dari perencanaan, pencetakan, pengedaran hingga pemusnahan uang yang sudah tidak layak edar.
“Bank Indonesia memiliki misi menyediakan uang rupiah di seluruh wilayah NKRI tanpa terkecuali dalam jumlah cukup, pecahan sesuai kebutuhan masyarakat, dan dalam kondisi layak edar,” ujarnya.
Ia mengatakan, keberadaan rupiah bukan hanya sekadar alat transaksi ekonomi, tetapi juga identitas bangsa dan simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Penggunaan rupiah di seluruh wilayah NKRI sangat penting dan strategis karena rupiah merupakan alat pemersatu bangsa serta simbol kedaulatan sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang mata uang,” katanya.
Menurutnya, tantangan pengedaran rupiah di Indonesia sangat besar mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau dan sekitar 70 persen wilayahnya berupa perairan.
“Indonesia memiliki penduduk sangat besar dan tersebar di ribuan pulau. Ini menjadi tantangan serius bagi Bank Indonesia dalam memastikan rupiah hadir di seluruh wilayah,” ucapnya.
Raden Aga menjelaskan, terdapat tiga tantangan utama dalam distribusi uang rupiah. Pertama, kondisi geografis yang menyebabkan masih adanya wilayah blank spot pengedaran uang. Kedua, rendahnya pemahaman sebagian masyarakat dalam memperlakukan uang rupiah sehingga mempercepat kerusakan uang. Ketiga, potensi penggunaan mata uang asing di wilayah perbatasan.
“Masih ada masyarakat yang melipat, membasahi bahkan merusak uang sehingga masa edar rupiah menjadi sangat singkat dan harus cepat diganti,” katanya menegaskan.
Ia menyebutkan, program kas keliling wilayah 3T sejatinya telah berjalan sejak 2012. Hingga kini, Bank Indonesia bersama TNI AL telah melaksanakan 150 kali ekspedisi dan menjangkau 766 pulau di Indonesia.
“Tahun 2026 ini kami melaksanakan kegiatan di 19 provinsi dengan target menjangkau sekitar 115 pulau wilayah 3T,” ujarnya.
Khusus untuk wilayah NTB, ekspedisi kali ini menjadi pelaksanaan keenam pada tahun 2026 dengan durasi pelayaran 18 hingga 24 Mei 2026. Bank Indonesia membawa modal kerja penukaran uang sebesar Rp8,34 miliar atau meningkat 3,15 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada TNI Angkatan Laut, pemerintah daerah, dan seluruh pihak yang terus mendukung program Ekspedisi Rupiah Berdaulat,” katanya mengakhiri.
Sementara itu, Kepala Staf Operasi Angkatan Laut yang disampaikan Komandan Pangkalan TNI AL Mataram, Kolonel Laut (P) Asep Tri Prabowo, S.T., M.A menegaskan, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia membutuhkan kehadiran negara secara nyata hingga pulau-pulau terluar.
“Tantangan geografis tidak boleh menjadi penghalang pemerataan pembangunan. Di sinilah pentingnya sinergi Bank Indonesia dan TNI Angkatan Laut,” ujarnya.
Ia menilai kolaborasi strategis tersebut menjadi bukti nyata sinergitas antarlembaga negara dalam menjaga kedaulatan NKRI, baik dari sisi pertahanan maupun ekonomi nasional.
“TNI Angkatan Laut menjaga kedaulatan negara dan keutuhan wilayah, sementara Bank Indonesia menjaga kedaulatan ekonomi bangsa,” katanya.
Menurutnya, beredarnya rupiah dan berkibarnya Merah Putih di pulau-pulau terluar menjadi bukti nyata bahwa wilayah tersebut merupakan bagian sah dari Indonesia.
“Bagi TNI Angkatan Laut, rupiah bukan sekadar alat transaksi, tetapi simbol identitas bangsa dan manifestasi kedaulatan negara,” ucapnya.
Dalam ekspedisi ini, TNI AL mengerahkan KRI Pulau Rimau 724 yang merupakan salah satu unsur penting armada laut Indonesia dalam menjaga keamanan wilayah perairan NTB dan sekitarnya.
Ekspedisi akan menempuh rute pelayaran dari Lombok menuju Pulau Moyo, Pulau Medang, Gili Gede, Pulau Maringkik, Pulau Pusu Langgudu dan kembali ke Lombok dengan total jarak pelayaran mencapai ratusan mil laut.
Kolonel Asep juga memberikan instruksi khusus kepada seluruh prajurit KRI Pulau Rimau agar menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan mengutamakan keselamatan pelayaran.
“Laksanakan tugas mulia ini dengan penuh tanggung jawab, pedomani SOP, perhatikan kondisi cuaca, dan pastikan zero accident selama pelayaran,” katanya menegaskan.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu memperkuat rasa cinta masyarakat terhadap rupiah sekaligus memastikan pemerataan layanan ekonomi hingga wilayah paling terpencil di NTB.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....