Kebakaran Hebat Sade, 320 Pelaku Wisata Terancam Kehilangan Penghasilan

  • 23 Agt 2026 12:24 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Sabtu 22 Agustus 2026 malam, tidak hanya menghancurkan rumah warga. Musibah tersebut juga berdampak langsung terhadap aktivitas pariwisata dan mata pencaharian masyarakat setempat.

Kepala Desa Rembitan Lalu Minakse mengatakan, sekitar 320 pelaku wisata di kawasan Sade terdampak akibat kebakaran tersebut. Mereka terdiri dari pengrajin tenun, pemandu wisata, hingga pelaku usaha lainnya yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata di Sade.

“Dengan adanya musibah ini, ada 320 pelaku wisata kami yang hari ini kehilangan lapangan pekerjaan,” kata Lalu Minakse, Minggu 23 Agustus 2026.

Menurutnya, hampir seluruh peralatan dan bahan yang digunakan masyarakat untuk menjalankan usaha wisata ikut terbakar. Terutama rumah-rumah tradisional yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas pariwisata di Sade.

“Tidak ada yang terselamatkan. Kalau yang di rumah tradisionalnya tidak ada yang terselamatkan. Hanya barang-barang yang berharga saja,” ujarnya.

Kebakaran juga menghanguskan berbagai bangunan dan fasilitas pendukung pariwisata. Berdasarkan pendataan sementara, terdapat sekitar 152 bangunan yang rata dengan tanah, termasuk rumah tradisional, berugak, lumbung, museum, masjid, serta lapak usaha masyarakat.

Lalu Minakse mengatakan, nilai kerugian akibat kebakaran belum dapat dihitung secara pasti. Namun, berdasarkan luas kerusakan dan banyaknya bangunan serta aset yang terbakar, kerugian diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah.

“Kalau kita berbicara tentang total kerugian juga, sampai saat ini belum kita bisa prediksi. Mungkin bisa jadi, bisa tembus puluhan miliar atau lebih,” katanya.

Ia menjelaskan, kebakaran cepat meluas karena bangunan tradisional di Sade menggunakan material yang mudah terbakar. Dalam waktu sekitar 15 menit, api yang awalnya membakar tiga rumah telah menjalar hingga puluhan rumah.

“15 menit saya berdiri di situ, sudah bisa menjalar sampai 50 rumah,” ujarnya.

Selain material bangunan, kondisi angin pada malam kejadian turut mempercepat penyebaran api. Kebakaran juga terjadi pada malam hari ketika sebagian besar warga sedang beristirahat.

“Ini posisinya tengah-tengah dan terjadinya malam saat kami sudah lengah,” katanya.

Saat ini, warga yang kehilangan tempat tinggal sebagian mengungsi ke rumah susun dan rumah keluarga. Pemerintah desa berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, hingga pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan dapat membantu proses pemulihan kawasan Sade.

“Ini yang kita harapkan. Pemerintah daerah, pemerintah provinsi maupun pusat, dan tentunya dari CSR dari ITDC dan segala macam, bisa untuk segera bisa membangun Sade,” tuturnya.

Menurutnya, pemulihan kawasan tidak hanya penting untuk mengembalikan tempat tinggal warga, tetapi juga untuk menghidupkan kembali aktivitas pariwisata dan mata pencaharian masyarakat.

Sementara terkait penyebab kebakaran, pemerintah desa belum berani menyimpulkan. Lalu Minakse mengatakan, penyebab pasti masih menunggu hasil penanganan dan pemeriksaan pihak terkait.

“Kita belum berani berspekulasi terkait penyebab kebakarannya,” katanya.

Ia menambahkan, kebakaran kali ini merupakan yang terbesar yang pernah terjadi di kawasan tersebut. Sebelumnya, kebakaran hanya terjadi pada dua hingga tiga rumah dan masih dapat segera diantisipasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....